Batang Pohon pun merindukan nabi s.a.w

Para ulama menggolongkan mu’jizat ini lebih besar daripada mu’jizat Nabi Isa menghidupkan orang mati. Pada peristiwa Nabi Isa, beliau diijinkan “hanya” mengembalikan ke status asal yaitu hidup lagi. Sedangkan pada mu’jizat Rasul, batang pohon naik statusnya menjadi makhluk berperasaan, yang sedih tak terkira ditinggal oleh Rasul.

Masjid Nabawi pada masa Rasul adalah tanah lapang yang dikelilingi oleh tembok, beralaskan tanah dan beratapkan langit. Di tengah-tengah masjid terdapat kebun kurma. Tiap Jum’at, Rasululloh berdiri berkhotbah di hadapan jamaah Jum’at sambil bersandar di batang pohon kurma itu.

Seiring bertambahnya jamaah, barisan belakang tidak bisa melihat wajah Nabi saat berkhotbah. Para sahabat pun mengusulkan untuk membangun sebuah mimbar dengan beberapa pijakan agar Rasul dapat duduk di atasnya tetapi tetap terlihat oleh jamaah dan tidak merasa kelelahan saat berkhotbah.

Hari Jumat seperti biasa Rasul berjalan menuju area khotbah. Beliau naik pijakan satu per satu kemudian duduk. Belum lagi khutbah dimulai terdengar suara tangisan memelas dan tak henti-henti. Mendengarnya, para sahabat ikut menangis dengan kebingungan. Rasul kemudian turun lalu mengusap lembut batang pohon kurma kemudian memeluknya. “Wahai Batang Pohon Korma. Maukah kau kukembalikan ke kebun asalmu sehingga buahmu dapat dipetik oleh kaum muslimin atau kau berada di surga hingga akarmu meminum air dari sungai di surga dan buahmu tak henti-hentinya dimakan penghuni surga,” hibur Rasul. Batang pohon memilih yang kedua dan berangsur-angsur tangisnya mereda. Rasul bersabda,”Andai tidak kutenangkan, dia akan terus menangis hingga hari kiamat”.

Para ulama menggolongkan mu’jizat ini lebih besar daripada mu’jizat Nabi Isa menghidupkan orang mati. Pada peristiwa Nabi Isa, beliau diijinkan “hanya” mengembalikan ke status asal yaitu hidup lagi. Sedangkan pada mu’jizat Rasul, batang pohon naik statusnya menjadi makhluk berperasaan, yang sedih tak terkira ditinggal oleh Rasul.

Kita di Indonesia, lebih patut merindukan Rasul daripada batang pohon itu. Kita terpisah jarak separuh keliling bumi dan 1421 tahun dari Rasul. Batang pohon itu hanya dipisahkan beberapa meter dari Rasul tapi tangisannya tak henti-henti, meskipun berada pada waktu yang sama. Teringat jelas baris lagu Bimbo kepada Rasululloh saw “Dapatkah kami membalas cintamu secara bersahaja ?”.

Disarikan dari buku “Road to Muhammad” karangan Kang Jalal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: