Milna

Milna tampak makin lemah, mulutnya menggigit sapu-tangan untuk menahan sakit. Kondisinya makin tidak sadar. Wen dan Kohar membisikkan Laa ilaaha illalloh ke telinga Milna.

Milna Meti Husni agak kurusan akhir-akhir ini. Sudah sebulan ini. Beberapa kali ibu mertuanya Rini S bertanya kesehatannya. Dia menjawab tidak dan meminta agar tidak kuatir. Hari Kamis itu dia memutuskan tidak masuk kerja. Bisul di pantatnya makin membesar dan terasa tidak nyaman. Hingga beberapa hari kemudian bisulnya belum meletus juga. Badannya juga terasa panas dan lemah. Berbaring sajalah dia di dipan. Suaminya, Wen Asta Rifai, kemudian menelpon Huda MS, kakak iparnya, yang berprofesi sebagai perawat di RS Waji Numer. Huda kemudian datang membawa alat-alat medis dan memeriksanya. Bisul itu ternyata tidak perlu di-cross, cukup diberi salep dan tepat seminggu setelah Milna absen kerja, bisul itu kempes.

Anehnya, Milna masih terasa lemah. Wen khawatir sehingga menghubungi Huda kembali. Esoknya, mereka memeriksakan Milna ke RS Waji Numer. Dan, hasilnya mengejutkan Huda. Skor diabetes Milna melebihi 350, skor TB sangat tinggi hingga memakai hapusan. Hasil ini berarti pasien dalam kondisi terminal. Tapi Milna tidak terlihat demikian secara klinis. Memang masih lemah tapi komunikasi masih lancar. Ah, jangan-jangan lab-nya yang keliru. Mohar, operator lab, teman Huda, mengulangi tesnya dan hasilnya sama. Dokter Lab memarahi Huda karena terlambat melakukan tes lab. Milna melakukan tes Lab di dua ruangan. Dua ruangan itu tidak jauh. Tetapi dia tak sanggup berjalan, Wen siap menggendongnya. Huda mengambil kursi roda dan Wen meletakkan Milna di kursi roda itu lalu mendorongnya. Wen amat menyayangi Milna. Keduanya punya minat yang sama: suka bepergian, suka mengunjungi saudara dan suka makan ikan. Wen yang menyiapkan semua peralatan makan dan menyajikannya. Lalu mereka makan berdua di kamar tidur sambil menonton TV.

Hari Jum’at itu Huda membawa Milna ke RS Jihad untuk rawat inap dengan naik taksi. Wen mengiringi naik sepeda motor. Rawat Inap di RS Jihad merupakan keinginan Milna. Kohar Yatno, suami Huda, pernah dirawat di RS Jihad. Satu ruangan diisi 3 pasien. Cukup lapang. Sayangnya kamarnya penuh. Mengapa Milna tidak suka dirawat di RS Omotsu, rumah sakit terlengkap dan terdekat dari rumahnya. Trauma massal kepada rs ini masih membekas. Padahal RS Omotsu sudah banyak berbenah. Yah memang perlu waktu.

Huda dan Wen lalu membawa Milna ke RS Seruya. Huda memilih rs ini karena Kohar selalu melewati rs ini ketika pulang kerja. Mereka bertiga diterima di UGD. Setelah beberapa lama, Milna dipindah ke Ruang Duri no 5. Tak lama kemudian Kohar datang. Sambil menunggu dokter jaga, Huda dan Kohar membesarkan hati Milna. Wen diminta perawat membeli obat. Huda menawari minuman dan makanan kesukaan Milna. Es degan dan sate. Huda keluar dan kembali membawakan es degan. Sate tak bisa didapatkannya. Tak usah memikirkan gula-darahmu, kata Huda. Nikmati saja. Tak lama kemudian, bibi Milna datang. Kus namanya. Sejak muncul mukanya selalu dirundung kesedihan, alisnya mengerut dan bibir bawahnya naik. Suaminya, Rahmen, terlihat santai sejak awal. Mereka berdua menyayangkan kenapa Milna tidak dari dulu periksa. Milna mendengarkan dengan sayu. Kemudian dia mengeluh sesak. Huda kemudian meminta perawat untuk menyediakan tabung oksigen. Wen lalu datang membawa obat. Melihat Milna sudah mendapat perawatan yang layak, Huda dan Kohar pamit pulang. Wen dan Milna menunggu dokter jaga.

Di rumah, Kohar dan Huda melakukan aktivitas seperti biasa. Kohar ngenet sedang Huda menonton TV bersama ketiga anaknya. Pukul 23:00 Wen menelpon. Dokter belum datang, katanya. Dia ingin memindahkan Milna ke RS Omotsu. Huda dan Kohar menolak. Tunggu saja dokternya. Sekitar tengah malam, Wen menelpon lagi. Dokter sudah datang dan dia angkat tangan. Dengan ambulan, Milna dibawa ke RS Omotsu. Huda menelpon Rini S, mertuanya, untuk menjaga ketiga anaknya. Kohar dan Huda lalu pergi ke RS Omotsu. Ternyata di sana Yoso PU dan Dani Hebun, orangtua Milna, serta Ryan Suto, ayah Wen dan Kohar, sudah tiba. Milna langsung dibaringkan di brankat dengan infus tetap di tangan. Ketika dokter hendak melakukan tes lagi, Huda bersikeras bahwa RS Waji Numer sudah melakukannya 2 kali.

Milna tampak makin lemah, mulutnya menggigit sapu-tangan untuk menahan sakit. Kondisinya makin tidak sadar. Dia ingin melepas infus yang melekat di tangan kanannya sejak di RS Seruya. Melihat KU-nya tidak kunjung membaik, dokter menginfus Nabic di tangan kanannya. Acidosis metabolic, kata dokter pada Huda. Racun sudah menyebar ke seluruh tubuh. Nabic ini untuk melawan racun itu. Pukul 01:30 Nabic telah terpasang. Nabic akan habis dalam 6 jam. Sambil menunggu, Wen bertanya ke Huda soal sepsis. Dokter bilang Milna sudah mengalami sepsis. Huda membantah opini ini. Sepsis adalah kondisi untuk pasien terminal. Sedangkan Heni masih bisa berkomunikasi Penjelasan ini cukup menghibur Wen. Sembari menunggu Nabic, Huda dan Kohar pulang ke rumah yang jaraknya hanya 5 menit bersepeda motor. Dalam perjalanan, Huda memberitahu Kohar bahwa kondisi Milna makin kritis. Dia juga berkata, andai sampean seperti Milna, sampean saya bawa pulang untuk saya talqin. Di rumah, Huda mencuci baju. Rini dengan terisak bertanya kondisi Milna. Huda tak ingin membuat Rini sedih. Apalagi Rini tidak bisa tidur semalaman. Masih diinfus, Bu. Ujar Huda. Kohar yang sudah kelelahan berusaha tidur tapi tak mampu. Dia kuatir pada Milna, ipar satu-satunya. Sekitar pukul 03:30 Wen menelpon, Milna dipindah ke ruang resusitasi karena kejang. Huda sudah menduga prosedur ini akan dijalankan. Dia dan Kohar kembali ke RS Omotsu. Sampai di sana Wen menangis sedih. Hatinya galau, istri tercinta amat kritis. Huda meminta Kohar untuk pulang saja. Anak-anak perlu diantar ke Ibu untuk sekolah, katanya. Kohar lalu pulang. Rini tidak bisa tidur dan terus bertanya soal Milna. Masih diinfus kata Wen. Tak lama, Ryan Suto datang untuk menjemput Rini. Kohar memintanya untuk kembali saja. Biar aku yang mengantar, katanya. Ryan pun kembali. Kohar kemudian membangunkan ketiga anaknya. Dua sudah bangun, Rosda dan Arfian. Keduanya bersekolah di SD. Sedang yang bungsu, Ujik, masih nyenyak. Kohar lalu memanggil becak. Rini dan kedua cucunya, Rosda dan Ujik menaiki becak itu ke rumah mertua Kohar. Kohar meminta Arfian untuk sholat Shubuh dulu. Habis sholat tolong doakan tante Milna, minta Kohar pada Arfian. Arfian pun patuh. Saat Arfian sholat, Kohar sempit SMS pada Huda agar minta tolong Ustadz Agung untuk berdoa. SMS ini rupanya tak berbalas. Setelah selesai, Kohar mengantar Arfian ke mertuanya kemudian mengantar keduanya ke sekolah. Sampai di sekolah, Kohar meminta kedua anaknya untuk mendoakan tante Milna. Si sulung Rosda mengiyakan dan ingin menjenguk tante Milna sepulang sekolah.

Kohar pun kembali ke RS Omotsu. Milna masih di ruang Resusitasi. Dokter pun mendekati Huda bertanya sampai kapan resusitasi ini dilakukan. Kondisi Milna tetap talk sadar atau lebih tepatnya nazak. Huda kemudian mendekati Wen. Le, nazak iku loro, lho. Ojo suwe-suwe (Dik, nazak itu sakit, lho. Jangan lama-lama). Wen malah menangis. Ojok saiki, Mbak. Aku sayang ambek Milna (Jangan Sekarang, Kak. Aku sayang Milna). Kohar pun mendekati Wen untuk menerima keadaan ini. Nanti kau bisa ketemu lagi (di akhirat). Ayo, talqin-lah istrimu. Wen kemudian masuk diikuti Huda dan Kohar. Wen menangis tersedu-sedu melihat Milna terbaring dengan alat bantu pernapasan di hidung. Jantungnya memang masih berdetak karena pengaruh alat bantu itu tetapi secara klinis dia sudah tiada. Dokter mengatakan keadaannya sudah terlambat ketika dibawa ke RS Omotsu. Paru-parunya sudah berlubang. Andaikata 3 bulan lalu sudah diperiksa, mungkin keadaan bisa sangat berbeda, katanya. Wen dan Kohar membisikkan Laa ilaaha illalloh ke telinga Milna. Kohar lalu menemui Dani Hebun dan Rini. Keduanya berpelukan sambil menangis. Agak jauh di sebelah utara, di kursi ruang tunggu, Kus berbaring sambil menangis juga sambil menelpon seseorang perihal Milna.

Rini dan Dani lalu menemui Milna, keduanya menangis. Anakku Milna, seru Dani. Rini dan Dani pun men-talqin Milna. Dani masih tidak bisa menerima kematian Milna. Dia menunjuk ke display di depannya yang menunjukkan jantung masih berdenyut. Dengan halus, Dokter mengatakan bahwa itu tidak berarti dia masih hidup. Keduanya pun membenahi pakaian yang menutupi Milna dan keluar dengan tetap menangis. Wen pun menandatangani penghentian resusitasi. Huda lalu mengurus administrasi dan jenazah dikeluarkan untuk dibawa ke kamar mayat. Melihat istrinya ditutupi kain, Wen jatuh dan menangis. Kohar dan Rahmen pun menggotongnya di Ruang Tunggu. Sekarang tinggal tunggu Ambulan. Yoso PU berniat membawa Milna langsung ke Lamongan untuk memakamkannya. Wen pun menelpon rekan-rekannya untuk mengusahakan ambulan gratis. Tak ada yang menjawab. Yoso pun membawa Milna memakai ambulan sewaan. Dia naik bersama Dani Hebun, Rini dan Wen. Tak terbayangkan membawa jenazah ke Lamongan yang jauh itu. Apalagi jalannya bergelombang-gelombang. Jenazah-pun sampai terguncang-guncang.

Sampai di Lamongan, Ike adik Milna, langsung pingsan melihat jasad Milna. Diikuti Yoso dan nenek Milna. Milna kemudian dimandikan. Subhanalloh, Milna seperti orang tidur. Damai sekali wajahnya. Kohar, Ryan dan beberapa kerabat kemudian datang tepat ketika jenazah hendak diberangkatkan ke masjid untuk disholatkan. Jenazah dibawa di dalam keranda dengan digotong 6 orang. 2 depan, 2 tengah dan 2 belakang. Keranda ditutupi kain hijau bertuliskan Laa ilaaha illalloh dan dihiasi dengan bunga. Sampai di masjid, jamaah melakukan sholat dhuhur dulu kemudian mensholati Milna.

Milna pun dibawa ke pemakaman. Rombongan tak henti-hentinya berdzikir di sepanjang perjalanan. Sampai di pemakaman, lubang telah siap. Kerabat Milna membopongnya dan diterima oleh Wen dan dua orang lainnya yang berada di lubang. Mereka meletakkan Milna dengan hati-hati. Wen membuka kain kafan dan memiringkan wajah Milna ke arah kiblat. Lalu menutupinya dengan gumpalan tanah. Gumpalan tanah juga menutupi kaki Milna. Seseorang kemudian mengumandangkan azan dan iqomat. Ketiganya kemudian naik ke atas meninggalkan Milna untuk sementara. Tak lama lagi semua yang hadir di pemakaman ini akan menyusul Milna. Tanah pun menimbun Milna. Kohar tak kuasa menahan air matanya. Hingga hadirin meninggalkan pemakaman, dia baru berhenti menangis.

Sampai hari ini Huda dan Kohar masih penasaran mengenai apa yang membuat Milna meninggal. Paru-parunya memang berlubang karena TB tapi itu bukanlah penyebab kematiannya. Teman Huda juga pernah mengalami TB dengan intensitas yang lebih besar tetapi kemudian sembuh. Huda dan Kohar tinggal menyesali mengapa dari dulu tidak perhatian terhadap kondisi Milna. Innalillahi wa inna ilaihi roojiun.
Acidosis Metabolic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: