Dua anak (belumlah) cukup. Laki perempuan (di)sama(kan) saja

Merosotnya pembangunan karena menurunnya populasi di negara-negara Barat sangat mencemaskan. Salah satu tindakan untuk mengurangi kemerosotan ini adalah dengan upaya-upaya pembiayaan dan delokalisasi. Hasilnya banyak bisnis mulai memindahkan seluruh kegiatan produksinya ke Asia untuk menurunkan biaya, dengan produktifitas yang lebih besar, juga untuk didistribusikan ke pasar-pasar muda dan kuat di Asia.
Namun produktivitas ada batasnya, sebagaimana tren turunnya kesuburan dan populasi yang menua juga menyebar ke negara-negara berpenduduk besar di Asia, sehingga mengancam kestabilan ekonomi global.

Tahun lalu saya menulis artikel yang menyebutkan jumlah penduduk yang besar baik untuk perekonomian. Karena besarnya pasar domestik, daya beli yang sehat dan kegemaran menabung mencegah tenggelamnya ekonomi-ekonomi besar seperti Brazil, Cina dan Indonesia, setidaknya untuk sekarang ini.

Saat dentuman besar lain menghantam dunia lagi, ekonomi-ekonomi besar ini mungkin akan tenggelam jika mereka membiarkan tren perlambatan populasi. Saat resesi bermula di AS, tanda-tanda menyebarnya resesi ekonomi global tiba-tiba mengancam.

Hancurnya lembaga finansial AS amat berpengaruh pada ekonomi-ekonomi negara lain: Ini semua kesalahan Bankir dan Pembiaya (financier).

Namun, jika kami melihat lebih hati-hati ke pasar, kami menyadari bahwa bankir bukan satu-satunya penyebab krisis ekonomi global, rakyat biasa yang tidak percaya pada masa depan dan mempunyai sedikit anak harus disalahkan juga.

PBB menerbitkan laporan tahun lalu yang menekankan pada masalah-masalah yang ditimbulkan oleh populasi dunia yang cepat menua dan turunnya angka kelahiran.

Temuan-temuan yang penting dalam laporan itu antara lain: tingkat penuaan saat ini tertinggi dalam sejarah. Pada tahun 2045, populasi yang berumur lebih dari 60 akan melampaui yang berumur kurang dari 15 tahun. Nilai tengah populasi adalah 28 tahun, dengan setengah populasi dunia lebih tua darinya dan setengahnya lebih muda. Pada tahun 2050, nilai tengah kemungkinan besar mencapai 38 tahun.

Penuaan terjadi pada hampir semua negara di dunia dan akan berdampak besar pada pertumbuhan ekonomi, tabungan, investasi, pasar tenaga kerja dan pajak. Karena tingkat kesuburan sulit diharapkan untuk naik kembali setinggi tingkat kesuburan pada populasi yang lalu, penuaan tak dapat dibalikkan sehingga jumlah penduduk muda besar kemungkinan menciut sepanjang abad 21.

Saat ini di seluruh dunia sekitar sembilan orang usia kerja menafkahi satu orang yang lebih tua. Pada tahun 2050, rasio ini turun menjadi empat, yang sangat mempengaruhi skema pensiun. Tingkat pertumbuhan populasi di Barat hampir 0 persen sekarang, dan ini mengarah pada perubahan besar pada struktur masyarakat.

Populasi Rusia akan terus menciut karena tingginya tingkat aborsi. Turun 6.6 juta sejak tahun 1993 dan akan kehilangan 11 juta orang pada tahun 2025. Pada tahun 2007, Rusia menempati peringkat sembilan populasi terbesar dunia. Pada tahun 2050 menurut perkiraan PBB, Rusia akan menempati urutan ke-15, dengan populasi yang lebih sedikit dari Vietnam.

Meskipun Vietnam akan mengungguli Rusia, namun di sana ada aborsi pilih-kelamin yang memunculkan masalah serius. Secara normal rasio jenis kelamin saat lahir (jumlah bayi laki-laki yang lahir tiap 100 bayi perempuan yang lahir) adalah antara 104:100 dan 106:100. Di Vietnam, rasio jenis kelamin saat lahir untuk tahun 2006 adalah 110:100, dan mungkin melampaui 115 beberapa tahun kemudian. Jika tren ini tidak berbalik, pada tahun 2025 Vietnam akan memiliki populasi laki-laki yang amat berlebih, yang mempunyai banyak implikasi pada negara itu.

Fenomena “perempuan hilang” juga menjadi masalah di Cina, di mana laporan terkini menunjukkan berlanjutnya praktek aborsi pilih-kelamin. Akademi Ilmu Sosial Cina melaporkan ada lebih dari 24 juta pria (setara dengan total penduduk Malaysia) yang tidak mampu menemukan pasangan pada akhir dekade ini.

Laporan tersebut menyalahkan ketakseimbangan rasio kelamin pada kebijakan satu-anak dari pemerintah Cina. Ketakseimbangan ini juga memicu masalah sosial yang disebut “kaisar-kaisar kecil” yaitu seorang anak laki-laki yang biasa mendapat perhatian penuh dan dimanjakan oleh 6 orang dewasa (orangtuanya dan kakek-neneknya).

“Kaisar-kaisar kecil” ini dilaporkan tumbuh menjadi orang-orang yang sangat individualis dan antisosial yang menimbulkan banyak masalah sosial lainnya.

Sementara itu di Jepang, populasi terus menciut. Pada tahun 2009, populasinya menurun 75,000, atau 1.46 kali penurunan pada tahun 2008. Diperkirakan populasi Jepang yang sekarang sekitar 128 juta akan menurun tajam di bawah 100 juta pada tahun 2046, lalu di bawah 90 juta pada tahun 2055.

Menurunnya angka kelahiran menyebabkan makin sedikitnya pemuda-pemuda produktif yang memasuki dunia kerja. Dan makin banyaknya orang-orang tua meninggalkan sistem produksi dan menjadi beban kolektif. Dampak dari penurunan ini biasanya berupa kekurangan buruh, populasi yang menua dan pertumbuhan ekonomi melambat.

Pada prakteknya, biaya tetap untuk struktur ekonomi dan sosial ini – biaya sosial dan kesehatan – akan naik. Bagaimana biaya-biaya ini melambung secara dramatis bergantung pada sejauh mana ketakseimbangan struktur populasi dan seberapa banyak kekayaannya. Ketika ini terjadi, pajak tidak lagi bisa diturunkan.

Fenomena lain yang berdampak pada ekonomi karena mandegnya populasi adalah turunnya tabungan. Kurangnya tabungan ini mengurangi kemampuan ekonomi untuk bertumbuh karena darah yang dipompa oleh jantung ekonomi menjadi terbatas; sektor perbankan akhirnya sesak napas.

Merosotnya pembangunan karena menurunnya populasi di negara-negara Barat sangat mencemaskan. Salah satu tindakan untuk mengurangi kemerosotan ini adalah dengan upaya-upaya pembiayaan dan delokalisasi. Hasilnya banyak bisnis mulai memindahkan seluruh kegiatan produksinya ke Asia untuk menurunkan biaya, dengan produktifitas yang lebih besar, juga untuk didistribusikan ke pasar-pasar muda dan kuat di Asia.
Namun produktivitas ada batasnya, sebagaimana tren turunnya kesuburan dan populasi yang menua juga menyebar ke negara-negara berpenduduk besar di Asia, sehingga mengancam kestabilan ekonomi global.

Dalam praktek, tingginya utang AS terutama karena konsumerisme utang rumahtangga Amerika dan menurunnya minat menabung merupakan awal krisis, yang akhirnya menuju ekses “sub-prime”. Instrument pembiayaan untuk menaikkan utang – ekspansi kredit – biasa dipakai untuk mengimbangi kurangnya pertumbuhan ekonomi karena angka kelahiran 0 persen.

Karena itu awal krisis bukanlah pada sektor perbankan atau pembiayaan semata. Bank dan lembaga pembiayaan hanya memperburuk krisis, mereka berupaya mengurangi masalah-masalah yang sudah ada sebelumnya, yaitu turunnya pertumbuhan ekonomi, yang disamarkan melalui instrument pembiayaan.

Agar tidak mengurangi kesalahan yang sama, jalur pertumbuhan ekonomi Indonesia harus sejalan dengan pertumbuhan populasi yang sehat tanpa campurtangan pemerintah seperti dalam bentuk program KB atau pengendalian populasi. Pertumbuhan penduduk harus berjalan secara alami sebagaimana perkembangan ekonomi.

Karena itu, pemerintah lebih bertanggungjawab daripada para bankir untuk mendorong dan mendukung ekspansi kredit secara tepat untuk memacu pertumbuhan yang berlandaskan pasar domestik yang kuat, produktif dan berkesinambungan. Ini merupakan landasan untuk membangun kembali keseimbangan ekonomi-finansial dan sebagai benteng untuk membendung badai ekonomi global selanjutnya.

Diterjemahkan dari: The cause of the next global recession byStefan S. Handoyo*

*The writer is vice president and senior business economist at PT Asia Select Indonesia and PT AGIndo Research Group.

Copyright © 2008 The Jakarta Post – PT Bina Media Tenggara. All Rights Reserved.
________________________________________
Source URL: http://www.thejakartapost.com/news/2010/03/01/the-cause-next-global-recession.html

Satu Tanggapan

  1. It’s nice

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: