Dak Tentu

Karena sedang musim reaktualisasi ajaran Islam, bertanyalah saya perihal teologi pembebasan Islam, sistem perekonomian Islam, apa benar iblis malah masuk surga dan seterusnya. Si Ustadz tertawa dan menepis, “Ah, koddok mau nunggang sappi! Untuk apa jauh-jauh ngurusi soal itu, sedangkan apa hukum makan minum saja kita belum tahu!” Saya membantah, “Lho! Kan jelas sejak dulu. Makan dan minum itu hukumnya mubah. Halal Boleh.” Si Madura tertawa lagi. “Ooo, dak tentu, Dik, dak tentu!”

Dak Tentu
Oleh: Emha Ainun Nadjib

Pulau Madura, pembangunan Madura, pejabat Madura, kiai Madura, bahkan seksualitas Madura, jarang disebut-sebut oleh media massa kita. Terus terang saya jadi kurang sreg.
Bukan hanya karena watak budaya Madura termasuk saklek, efektif dan memiliki kecenderungan ‘anti eufimisme’ yang tinggi dan itu amat relevan dengan penyakit kebudayaan kita dewasa ini. Bukan pula sekadar karena berdirinya Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dulu, kabarnya, berkat restu kiainya, Hasyim Asyhari dan Ahmad Dahlan di Sumenep, Madura. Tapi hobi orang Madura untuk mengucapkan ‘tidak tentu’ – yang mereka logatkan menjadi dak tentu – yang sungguh membuat saya jatuh hati.
Dak tentu merupakan perwujudan dari kesadaran terhadap relativitas. Di dalam praktek, ungkapan tersebut merupakan bentuk kehati-hatian yang tinggi terhadap berbagai ketidakpastian hidup. Dengan bersikap dak tentu, mereka terjaga ditengah-tengah dua kutub nilai atau keadaan yang bisa menjebak. Kesadaran dak tentu membuat mereka tidak terlalu mabuk gembira jika memperoleh rezeki, serta tidak stress serius kalau ditimpa kemalangan.
Dulu saya kurang percaya kepada hobi dak tentu, sebab yang saya dengar hanya anekdot-anekdot. Misalnya, kata sahibul kisah, pada zaman orla adalah seorang penjual ikan di pasar Sumenep. Seorang pejabat melakukan kunjungan incognito dengan maksud untuk mengecek secara langsung tingkat nasionalisme rakyat Madura.
Pejabat itu bertanya, “He Pak, siapa presiden Indonesia?”
Sambil membungkus bandeng untuk diberikan kepada seorang pembeli, si Madura menjawab seenaknya, “O, dak tentu, Pak!”
Serasa ditonjok jidat sang pejabat. “Siapa presiden Indonesia” adalah pertanyaan paling gampang di seluruh Nusantara. Dan jawaban dak tentu sungguh-sungguh harus diwaspadai.
“Dak tentu bagaimana?” Pak Pejabat mengejar.
“Yaa kadang-kadang Subandrio, kadang-kadang Yusuf Muda Dalam. Pokoknya dak tentu, Pak!”
“Lho, kok bisa begitu?”
“Lha yang di teve atau gambarnya di koran itu dak tentu!”
Pecah rasa kepala. “Lantas kalau Pak Karno itu siapa?!” Pak Pejabat kita naik pitam dan membentak.
Tetap dengan tenang pula si Madura menjawab, “Ooo lain, Pak! Itu bukan presiden. Pak Karno itu rajaaa!”
Alkisah pejabat kita itu marah besar, lantas memanggil pejabat-pejabat pulau itu, dikumpulkan dan disuruh kor lagu wajib. Itu karena jelas terbukti bahwa nasionalisme orang Madura amat rendah. Kabarnya para pamong daerah itu ambil suara bareng. “Saaaa…..” Tapi kemudian yang dinyanyikan bukan Satu Nusa Satu Bangsa, melainkan, “Salatulah salamullaaaah….”
Jadi, presiden dan bunyi lagu wajibpun dak tentu.
Anekdot itu tidak saya setujui karena hendaklah kita jangan saling meremehkan di antara sesama bangsa. Tapi beberapa waktu yang lalu, legenda dak tentu itu nongol depan hidung saya.
Alkisah mengobrollah saya dengan seorang ustadz dari Madura. Karena sedang musim reaktualisasi ajaran Islam, bertanyalah saya perihal teologi pembebasan Islam, sistem perekonomian Islam, apa benar iblis malah masuk surga dan seterusnya. Si Ustadz tertawa dan menepis, “Ah, koddok mau nunggang sappi! Untuk apa jauh-jauh ngurusi soal itu, sedangkan apa hukum makan minum saja kita belum tahu!”
Saya membantah, “Lho! Kan jelas sejak dulu. Makan dan minum itu hukumnya mubah. Halal Boleh.”
Si Madura tertawa lagi. “Ooo, dak tentu, Dik, dak tentu!”
Di samping kaget oleh ide jawaban itu, saya juga terhenyak oleh kata dak tentu. “Dak tentu bagaimana?” tukas saya, “Hukum kok dak tentu?”
“Ya dak tentu, Dik, Kadang-kadang mubah, kadang-kadang wajib, kadang-kadang sunah, makruh atau bahkan haram.”
“Bisa-bisanya begitu?”
“Dengar, Dik. Kalau makan dan minum sekedar mubah atau halal, berarti manusia boleh tidak makan dan tidak minum, karena tidak wajib, berarti Adik menghina Tuhan yang sudah capek-capek bikin badan Adik, berarti Adik tidak memelihara amanat Tuhan. Adik membunuh titipan Tuhan. Jadi makan minum itu wajib. Kalau Adik bisa hidup tanpa makan minum, ya hukumnya sunat, karena Adik toh dianjurkan menikmati rezeki Allah. Lha kalau Adik makan minum dalam jumlah yang melebihi standar syarat kesehatan tubuh, hukumnya makruh. Apalagi kalau Adik makan minum secara amat berlebihan baik dalam jumlah maupun ‘estetika makanan’-nya, maka bisa haram hukumnya. Terlebih-lebih lagi kalau Adik makan milik orang lain, itu haram muakkad. Kalau ‘orang lain’ itu jumlahnya buuuanyaaak, itu super haram. Dan tak terbayangkan lagi kalau adik makan jembatan, kayu-kayu hutan, bukit-bukit, perkebunan, minum minyak, air bendungan – itu namanya duuuuancuk!”
Misuh dia. “Apa hukumnya misuh dan mengumpat?”
“Dak tentu, Dik. Tergantung latar belakang yang mendorongnya. Al Qur’an melarang manusia mengucapkan kata-kata kasar, kecuali dalam keadaan teraniaya. Jadi kalau tukang-tukang becak karena dimakan laut, ya silahkan misuh, Insya Allah Tuhan mendengarnya dangan iba dan rasa kasihan.”
“Jadi…. ” saya tergagap, “hukum itu dak tentu, ya?”
“Dak tentu, Dik. Hukum itu, kalau kata anak-anak sekolahan, tidak bersifat parsial-statis, melainkan kontekstual-dinamis. Kalau bahasa Maduranya ya dak tentu. Mencuri karena dengan niat mencuri dan mencuri karena terpojok mencuri, lain nilai hukumnya.”
“Tapi mengapa hakim di pengadilan tak pernah menanyakan apa yang menyebabkan terdakwa mencuri, atau setidak-tidaknya sistem hukum formal yang berlaku tidak menyediakan peluang untuk merunut ke latar historisnya, dekat maupun jauh?”
“Ya terserah dia. Hakim itu biasanya kan sudah akil balik. Sudah besar. Sudah bisa memilih baik buruk dengan segala risikonya.”
“Tapi apakah setiap akil balik, setiap orang dewasa, pasti bisa menentukan dan memilih di antara baik buruk?”
“Dak tentu, Dik.”
Saya bertanya dan bertanya terus. Nikmat benar makanan dak tentu itu………

—– Syahid Ibrahim —–
Disadur dari buku “Slilit Sang Kiai”, cetakan X 1996, Emha Ainun Nadjib

2 Tanggapan

  1. hahahaha… trims postingnya.. saya lupa sudah baca apa belum (la bukunya aku punya dulu, slilit), tapi yg jelas menjadi segar kembali … haha.. jaman memang dak tentu :)))

    oya.. tulisan satunya saya ‘curi’ ke fesbuk, tx

    • Akhi Kholis,
      terimakasih telah berkunjung. tulisan Emha memang selalu menyegarkan dan menggugah. Sayang, akhir-akhir ini tulisannya jarang saya temui lagi. Mungkin beliau teramat sibuk dengan Kyai Kanjeng-nya. Silakan co-pas.

      Eko H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: