Pinjamilah para perempuan…

Selamat Hari Kartini

    Diterjemahkan dari Show her the money , WEEKENDER | Wed, 03/31/2010 4:15 PM | Life, The Jakarta Post.
    “Perempuan memiliki kekuatan sunyi untuk menciptakan nilai-nilai sosial di masyarakat, khususnya di dalam keluarganya.” Dia juga menegaskan bahwa perempuan jarang membelanjakan uangnya untuk mereka sendiri sebagaimana laki-laki, misalnya untuk membeli rokok.

Saat tiba waktunya memberikan kredit untuk memberantas kemiskinan, lembaga pembiayaan-mikro seringkali memprioritaskan perempuan. Tak hanya karena mereka lebih sering mengembalikan pinjaman, tetapi mereka juga membantu orang lain di lingkungan sekitar mereka. Andrea Booth melaporkan.

Ketika peraih Nobel 2006 Muhammad Yunus meminjami US$17 uangnya sendiri kepada seorang perempuan yang berjuang untuk bertahan hidup di Bangladesh pada tahun 1974, dia menemukan bahwa pinjaman kecil ini membantunya terentas dari kemiskinan. Sejak saat itu Lembaga-lembaga Pembiayaan-Mikro (LPM) tidak pernah mundur.

Sembilan tahun kemudian, Yunus mendirikan Bank Grameen. Diawali sebuah proyek penelitian, bank ini mengembangkan sistem penyaluran kredit untuk menyediakan jasa-jasa perbankan kepada masyarakat, terutama perempuan, yang dililit kemiskinan. Pada tahun 1997, LSM Yayasan Grameen dibentuk oleh sejawat-sejawat Bank Grameen, di mana Yunus masih menjabat direktur, untuk membantu organisasi pembiayaan-mikro berjalan lancar.

Salah satu upaya luar biasa yayasan ini yang melibatkan perempuan dimulai pada perbaikan bencana tsunami di Aceh pada tahun 2004. Dengan dana dari Palang Merah Amerika, yayasan ini bekerjasama dengan organisasi pembiayaan-mikro yang meminjamkan uang pada perempuan, Koperasi mitra Dhu’afa, atau KOMIDA.

Dengan mendukung LPM yang dimiliki dan dikelola oleh orang Indonesia maka titik tekan pada perempuan sebagai penerima pinjaman bukanlah tanpa pertimbangan.

Kepala program Yayasan Grameen Erin Connor mengatakan yayasan bekerjasama dengan LPM dengan klien-klien perempuan karena beberapa alasan:

“Tujuan pembiayaan-mikro adalah menyediakan layanan-layanan pembiayaan kepada orang-orang yang tidak mendapat akses dari layanan pembiayaan formal dan orang-orang yang paling rentan,” katanya. “Mayoritas orang-orang ini adalah perempuan.”

Yayasan mempunyai dokumen-dokumen yang menunjukkan betapa meminjami perempuan
berdampak besar pada masyarakat miskin. Connor mengatakan industry pembiayaan-mikro menekankan pada perempuan karena mereka jauh lebih cenderung mendistribusikan uang dan manfaat dari bisnis mereka ke seluruh keluarga dan sekitarnya.

Magdalena, seorang koki dan ibu enam anak di Aceh, hanya mendapat $2 sehari setelah bencana tsunami. Dia menerima pinjaman $200 dari KOMIDA, yang dipakainya untuk membeli alat-alat yang diperlukan untuk memulai bisnis katering.

Pelanggannya segera bertambah termasuk siswa-siswa pondok pesantren. Lalu dia meminjam $200 lagi untuk mengembangkan bisnis keluarga, mengajak anak-anaknya menyiapkan dan mengantar makanan.

“Saya ingin anak saya segera masuk ke bisnis sedini mungkin,” katanya.

Magdalena juga membeli voucher ponsel agar anak-anaknya menjualnya di sekolah.

“Kredit mikro bermanfaat bagi perempuan karena mereka cenderung membelanjakan pendapatannya untuk rumahtangga, memperbaiki kondisi kehidupan keluarganya, terutama anak-anak,”kata Connor.

Dia menambahkan bahwa meminjami perempuan menaikkan kepercayaan diri mereka sehingga produktivitas akan lebih besar.

Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 1996 menemukan bahwa antara klien Bank Grameen dan LSM BRAC yang berada di Bangladesh, tiap tahun keanggotaan menaikkan peluang pemberdayaan klien perempuan sebesar 16 persen.

“Bahkan non-anggota berpeluang dua kali diberdayakan hanya karena tinggal di desa di mana Grameen bekerja,”katanya.

Sebuah studi terakhir oleh partner Grameen, Yayasan Kashf di Pakistan, juga menemukan bahwa 82 persen kliennya mencatat kenaikan rasa percaya diri setelah mendaftar.

“Dengan adanya akses ke layanan kredit mikro, harga diri dan tanggungjawab untuk memperoleh pendapatan keluarga yang lebih besar juga cenderung menaikkan posisi perempuan di rumah dan masyarakat, membuat mereka lebih percaya diri, membuat keputusan sendiri dan lebih berdaya,”katanya.

Manfaat lebih lanjut, sambungnya, adalah membuat sistem kelompok peminjaman merekatkan keterikatan sosial antar perempuan dalam kelompok itu.

“Rapat mingguan kelompok berfungsi sebagai forum di mana perempuan bisa berdiskusi secara terbuka mengenai masalah-masalah di bisnis dan keluarganya,”katanya. ‘Perempuan sering membentuk ikatan yang kuat dan menciptakan jaringan sosial yang memberdayakan mereka dan mengenali betapa bergunanya mereka.”

Sandra Hamid, direktur program senior Yayasan Asia Indonesia, mengatakan kelompoknya menemukan banyak manfaat yang sama dalam memberdayakan perempuan. LSM-nya mendukung program untuk memperbaiki pembangunan ekonomi, di antara program-program lain, di Asia, dan Sandra yakin bahwa melejitkan rasa-percaya diri perempuan akan menguatkan masyarakat miskin.

“Ketika anda memberi peluang pada perempuan, anda menciptakan kesamaan gender, yang memberdayakan perempuan dan menaikkan kemampuannya utuk memenuhi kebutuhan financial keluarganya,” kata Sandra.

Forum Membangun kembali Aceh (FBA) adalah LPM lain yang meyakini perempuan berpotensi membuat perbedaan di Indonesia.

“Meminjami perempuan berdampak luar biasa,” kata Ketua FBA Azwar Hasan. “Perempuan memiliki kekuatan sunyi untuk menciptakan nilai-nilai sosial di masyarakat, khususnya di dalam keluarganya.”

Persis seperti Magdalena, yang mengajak anaknya di bisnis katering dan voucher ponsel, Azwar mengatakan para ibu berperan penting pada kehidupan anaknya.

“Perempuan mengajarkan nilai-nilai untuk anak-anak, generasi penerus kita, karena ikatan yang kuat antara ibu dan anak. Kita bisa menciptakan masa depan yang lebih baik melalui anak-anak kita.

Azwar mengatakan manfaat lain meminjami perempuan adalah kecenderungan mereka untuk mengembalikan tepat waktu.

“Pada tahun 2009, 100 persen klien perempuan pembiayaan-mikro mengembalikan pinjamannya tepat waktu, dan kami meyakini tren ini akan berlanjut.”

Dia juga menegaskan bahwa perempuan jarang membelanjakan uangnya untuk mereka sendiri sebagaimana laki-laki, misalnya untuk membeli rokok.

“Perempuan juga umumnya lebih sabar dan gampang bekerjasama,”tambahnya

Namun beberapa lembaga tidak sependapat. Perempuan memang dikenal sebagai klien yang baik dalam kredit mikro, tetapi ada beberapa factor untuk memastikan pinjaman mikro berjalan efektif.

“Perempuan memang asset untuk menangani masalah kemiskinan melalui pinjaman mikro – mereka andal dan menyebarkan pengaruh positif untuk masyarakatnya,”kata country director Mercy Corps Sean Granville-Ross.

“Namun ada banyak faktor lain yang perlu ditangani untuk memberantas kemiskinan melalui media ini.”

Dia menambahkan persepsi internasional tentang pembiayaan-mikro di Indonesia harus berubah.

“Secara internasional, Indonesia dikenal memiliki sistem pembiayaan-mikro yang kuat dengan jumlah 50.000 lembaga terdaftar,”katanya.

“Namun kenyataannya tidak semuanya efektif dan banyak hal yang menghalangi industry LPM di Indonesia mencapai sasarannya.”

Granville-Ross menyatakan ketika pembiayaan tersedia, pendidikan yang lebih baik harus diterapkan untuk menyiapkan klien dengan keahlian bisnis sehingga sumberdaya bisa digunakan secara efektif.

“Sarana sudah tersedia, tinggal sekarang bagaimana menumbuhkan pengetahuan untuk menaikkan produktivitas, yang pasti lebih sulit,” imbuhnya.

Dia juga mengatakan karena klien pembiayaan-mikro digolongkan “kelompok sangat beresiko”, Indonesia harus menumbuhkan kepercayaan bank pada mereka. Sebagai catatan, 80% dari 70.000 pekerja migran Indonesia adalah perempuan.

“(Pekerja migran) ini menimbulkan masalah karena mereka meninggalkan keluarganya, ikatan keluarga terputus, kasih sayang dan dukungan pada anak hilang,” kata Granville-Ross.

Dia menambahkan Mercy Corps telah menjalin hubungan dengan beberapa LPM dan pekerja migran.

Dia berpendapat pembiayaan-mikro hanya sebagian kecil dari skema pemberantasan kemiskinan di Indonesia.

“Yang terpenting adalah bagaimana kita mengatasi masalah kemiskinan. Dan banyak aspek yang perlu dipertimbangkan.”

Membangun layanan pertanian, perencanaan kota dan tata pemerintahan, dan menguatkan keterlibatan public dan pelayanan kesehatan adalah beberapa prakarsa yang Granville-Ross yakini perlu perhatian lebih untuk melawan kemiskinan.

“Ada 120 juta orang di Indonesia yang hidup dengan kurang dari $2 per hari,” tandasnya. “Pembiayaan-mikro memang penting, dan tentu perempuan berperan penting, namun itu hanya bagian kecil dari tugas raksasa membasmi kemiskinan di Indonesia.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: