Kelompok Batu

Memandang angka-angka sebagai kelompok batu mungkin saja aneh, tetapi cara ini sebenarnya sama tuanya dengan matematika itu sendiri. Kata “calculate” berasal dari kata latin “calculus,” yang berarti batu-batu kecil untuk menghitung. Kamu tidak harus menjadi Einstein (kata Jerman yang artinya “sebuah batu”) untuk menikmati bekerja dengan angka, tetapi mungkin membayangkan batu-batu di pikiranmu akan membantu. Baca lebih lanjut

Globalisasi ekonomi yang ramah

Berbicara tentang Islam berarti berbicara tentang agama yang membawa ajaran moral universal yang diperlukan untuk memandu proses globalisasi. Sehingga Indonesia dapat menawarkan solusi yang unik untuk menuntaskan berbagai masalah globalisasi dengan aktif memajukan nilai-nilai universal agama-agama sebagai landasan dan sumber untuk proses yang lebih ramah.

Baca lebih lanjut

Batas yang cerdas

Dengan jumlah sisi mendekati tak terhingga, batas atas dan batas bawah mengerucut ke pi. Sayangnya, cara ini tidak sesederhana yang pertama, di mana kerang berubah menjadi persegi panjang. Maka pi tetaplah misteri. Kita bisa menemukan lebih banyak angka di belakang koma untuk pi – catatan terkini adalah 2,7 triliun angka – tapi takkan kita ketahui pastinya. Baca lebih lanjut

Musuhnya musuhku

Ucapan “Musuhnya musuhku adalah temanku” berasal dari Ali Bin Abi Thalib ra, seorang sahabat Nabi Muhammad saw, dalam Nahjul Balaghoh (Alur Kefasihan). Secara lengkap beliau mengatakan,” Temanmu ada tiga: temanmu sendiri, temannya temanmu, musuhnya musuhmu. Musuhmu ada tiga: musuhmu sendiri, musuhnya temanmu, temannya musuhmu.”

Baca lebih lanjut

Keputran

Saya selalu melewati Pasar Keputran tiap berangkat kerja. Melewati, bukan melalui. Pasar Keputran di batasi oleh Jalan Kayun di sebelah utara, kali Brantas di sebelah timur. Pemukiman penduduk di sebelah barat dan jalan Dinoyo sebelah utara. Nah, saya melalui jalan Kayun tiap hari.

Ribut-ribut soal relokasi pedagang pasar keputran ke PIOS (Pasar Induk Osowilangon) membuat saya sedikit khawatir. Perundingan demikian kerap buntu. Jarang ada solusi menang atau menang. Kemenangan di satu pihak sering berarti kekalahan di pihak lagi. Apalagi orang-orang sekarang jauh lebih berani dibandingkan jamannya Pak Harto. Saya baca di Jawa Pos, para pedagang sudah siap dengan berbagai senjata yang ada. Parang, kayu, pisau dengan posisi terhunus. Saya jadi ingat kerusuhan Koja di Jakarta beberapa waktu lalu. Semua media yang saya baca menyalahkan SATPOL PP karena selalu mengedepankan tindakan represi. Tetapi, 3 orang yang meninggal justru dari SATPOL PP. Saya jadi bingung, siapa yang sebenarnya represif.

Pagi hari saat saya melewati Kayun, tenda polisi dipasang agak ke tengah di depan Pom Bensin. Beberapa polisi dan satpol PP berdiri di sekitarnya. Orang-orang masih boleh lewat. Mobil atau motor. Terus kenapa dipasang tenda? Mungkin mereka melarang pedagang melintas. Pedagang biasanya datang dengan sepeda motor dengan membawa sayuran, ikan dan bahan makanan lainnya. Atau mereka membawa truk terbuka. Mudah dikenali. Saya cuma bawa tas hitam. Gak mungkin-lah saya isi sayuran atau ikan. Orang sekantor bisa lari.

Dari Kayun saya melewati Sonokembang. Sonokembang hanya sekitar 50 meter. Mungkin jalan terpendek di Surabaya. Di ujung Sonokembang juga dipasang barikade. Kendaraan dari Jalan Jenderal Sudirman tidak boleh lewat. Saya lalu belok kiri menuju Urip Sumoharjo. Pinggir jalan Urip ditempati banyak lembaga pendidikan. Beberapa polisi dan satpol PP juga berjaga-jaga. Ada tanda “dilarang bongkar muatan” yang saya baru llihat hari itu. Saya kok nggak pernah lihat sebelumnya ya. Mungkin saya jarang perhatian. Di ujung Urip Sumoharjo terdapat terdapat jalan ke kiri yang berakses langsung ke Pasar Keputran. Didirikan tenda polisi juga di situ dan tanda “(dilarang masuk) kecuali ke restoran”.

Pulang kerja saya tidak melalui jalur yang sama. Saya lewat Jalan Joyoboyo, Raya Darmo, putar Balik ke Dinoyo, menyeberang jembatan ke Darmo Kali dan sampai di perlimaan lampu merah. Di sebelah kanan ada markas partai Demokrat Surabaya. Kalau belok kiri akan menyeberang Jembatan lagi dan sampai di Pasar Keputran. Tapi, jalan menuju jembatan dipasangi tenda polisi lagi. Semuanya tidak boleh lewat.

Sampai hari ini saya baca di koran tidak ada korban dalam penertiban pasar keputran. Saya bersyukur. Surabaya jauh lebih cerdas daripada Jakarta. Proses negosiasi masih terjadi. Tetapi, itu kan di meja perundingan. Di lapangan, keamanan dan keselamatan tetaplah prioritas. Semua akses ke jalan keputran ditutup. Hanya tersisa pedagang yang masih bertahan saja. Tentunya mereka tidak bisa terus-menerus bertahan. Mereka butuh makan dan minum. Akhirnya, mereka akan keluar. Tapi, mereka tidak akan dapat masuk lagi. Lambat laun pasar akan kosong. Saya juga tidak melihat pedagang berhadap-hadapan dengan polisi atau satpol PP. Keduanya bisa menahan diri.

PELUANG

Sebelum berlibur selama seminggu, anda meminta teman serumah untuk menyiram tanaman anda yang mulai layu. Tanpa air, peluang tanaman itu mati adalah 90 persen. Meskipun disirami dengan baik, peluang matinya 20 persen. Sedangkan peluang teman anda lupa menyiram adalah 30 persen. (a) berapa peluang tanaman anda tetap hidup dalam minggu ini? (b) ketika tanaman itu mati saat anda kembali, berapa peluang teman anda lupa menyiraminya? (c) jika teman anda lupa menyiraminya, berapa peluang tanaman itu mati saat anda kembali?

Baca lebih lanjut

Nikmatnya x

“Saat saya berada di Los Almos saya kagum pada Hans Bethe. Dia sangat cerdas dalam berhitung. Contohnya, ketika itu kami memasukkan angka ke dalam rumus dan keluarlah 48 kuadrat. Saya mencari kalkulator dagang, dan dia menjawab, ‘Sekitar 2300.’ Saya mulai memencet kalkulator dan dia berkata lagi, ”Kalau kamu ingin yang pasti, hasilnya 2304.’

Kalkulator menampilkan 2304. ‘Masya Alloh! Luar biasa!’ kata saya.

Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: