Keputran

Saya selalu melewati Pasar Keputran tiap berangkat kerja. Melewati, bukan melalui. Pasar Keputran di batasi oleh Jalan Kayun di sebelah utara, kali Brantas di sebelah timur. Pemukiman penduduk di sebelah barat dan jalan Dinoyo sebelah utara. Nah, saya melalui jalan Kayun tiap hari.

Ribut-ribut soal relokasi pedagang pasar keputran ke PIOS (Pasar Induk Osowilangon) membuat saya sedikit khawatir. Perundingan demikian kerap buntu. Jarang ada solusi menang atau menang. Kemenangan di satu pihak sering berarti kekalahan di pihak lagi. Apalagi orang-orang sekarang jauh lebih berani dibandingkan jamannya Pak Harto. Saya baca di Jawa Pos, para pedagang sudah siap dengan berbagai senjata yang ada. Parang, kayu, pisau dengan posisi terhunus. Saya jadi ingat kerusuhan Koja di Jakarta beberapa waktu lalu. Semua media yang saya baca menyalahkan SATPOL PP karena selalu mengedepankan tindakan represi. Tetapi, 3 orang yang meninggal justru dari SATPOL PP. Saya jadi bingung, siapa yang sebenarnya represif.

Pagi hari saat saya melewati Kayun, tenda polisi dipasang agak ke tengah di depan Pom Bensin. Beberapa polisi dan satpol PP berdiri di sekitarnya. Orang-orang masih boleh lewat. Mobil atau motor. Terus kenapa dipasang tenda? Mungkin mereka melarang pedagang melintas. Pedagang biasanya datang dengan sepeda motor dengan membawa sayuran, ikan dan bahan makanan lainnya. Atau mereka membawa truk terbuka. Mudah dikenali. Saya cuma bawa tas hitam. Gak mungkin-lah saya isi sayuran atau ikan. Orang sekantor bisa lari.

Dari Kayun saya melewati Sonokembang. Sonokembang hanya sekitar 50 meter. Mungkin jalan terpendek di Surabaya. Di ujung Sonokembang juga dipasang barikade. Kendaraan dari Jalan Jenderal Sudirman tidak boleh lewat. Saya lalu belok kiri menuju Urip Sumoharjo. Pinggir jalan Urip ditempati banyak lembaga pendidikan. Beberapa polisi dan satpol PP juga berjaga-jaga. Ada tanda “dilarang bongkar muatan” yang saya baru llihat hari itu. Saya kok nggak pernah lihat sebelumnya ya. Mungkin saya jarang perhatian. Di ujung Urip Sumoharjo terdapat terdapat jalan ke kiri yang berakses langsung ke Pasar Keputran. Didirikan tenda polisi juga di situ dan tanda “(dilarang masuk) kecuali ke restoran”.

Pulang kerja saya tidak melalui jalur yang sama. Saya lewat Jalan Joyoboyo, Raya Darmo, putar Balik ke Dinoyo, menyeberang jembatan ke Darmo Kali dan sampai di perlimaan lampu merah. Di sebelah kanan ada markas partai Demokrat Surabaya. Kalau belok kiri akan menyeberang Jembatan lagi dan sampai di Pasar Keputran. Tapi, jalan menuju jembatan dipasangi tenda polisi lagi. Semuanya tidak boleh lewat.

Sampai hari ini saya baca di koran tidak ada korban dalam penertiban pasar keputran. Saya bersyukur. Surabaya jauh lebih cerdas daripada Jakarta. Proses negosiasi masih terjadi. Tetapi, itu kan di meja perundingan. Di lapangan, keamanan dan keselamatan tetaplah prioritas. Semua akses ke jalan keputran ditutup. Hanya tersisa pedagang yang masih bertahan saja. Tentunya mereka tidak bisa terus-menerus bertahan. Mereka butuh makan dan minum. Akhirnya, mereka akan keluar. Tapi, mereka tidak akan dapat masuk lagi. Lambat laun pasar akan kosong. Saya juga tidak melihat pedagang berhadap-hadapan dengan polisi atau satpol PP. Keduanya bisa menahan diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: