Globalisasi ekonomi yang ramah

Berbicara tentang Islam berarti berbicara tentang agama yang membawa ajaran moral universal yang diperlukan untuk memandu proses globalisasi. Sehingga Indonesia dapat menawarkan solusi yang unik untuk menuntaskan berbagai masalah globalisasi dengan aktif memajukan nilai-nilai universal agama-agama sebagai landasan dan sumber untuk proses yang lebih ramah.

Dampak krisis finansial yang dahsyat yang melanda penduduk dunia selama dekade terakhir telah menjadi perhatian bersama para pemerintah dan warga negara di seluruh dunia. Apalagi populasi dunia saat ini dalam kondisi paling rentan. Dampak krisis ini menyampaikan pesan yang sangat jelas: dunia telah mengglobal dan amat saling tergantung satu sama lain.

Kadangkala krisis mendatangkan “hal-hal baik”. Menyadarkan kita siapa kita sebenarnya dan kesalahan apa yang telah kita lakukan selama ini. Tetapi sering kali krisis menimbulkan banyak hal yang tidak kita inginkan.

Paus Benediktus XVI baru-baru ini mengamati, ”Sebagaimana kita ketahui, krisis finansial dunia menunjukkan rapuhnya sistem ekonomi yang ada sekarang dan lembaga-lembaga yang terkait dengannya. (Krisis finansial) juga menunjukkan kesalahan asumsi bahwa pasar bisa mengatur dirinya sendiri, tanpa campur tangan publik dan terlepas dari perilaku moral orang-orang di dalamnya.”

Setiap krisis ekonomi pada dekade lalu telah menunjukkan kelemahan globalisasi ekonomi. Tetapi dinamika globalisasi ekonomi tetaplah sulit dimengerti, karena kita masih terpaku dalam proses yang terus berkembang, yang hasilnya pun belum jelas.

Globalisasi ekonomi sendiri tidaklah bagus atau buruk tetapi dampaknya bergantung keputusan kita. Harus dilihat sebagai proses, bukan akhir. Karena itu mengelola globalisasi ekonomi membutuhkan kebijaksanaan, bukan sekedar data empiris mengenai pertumbuhan dan fundamental ekonomi.

Sebagai negara berkembang, Indonesia harusnya tidak memandang globalisasi terbatas pada aspek ekonomi saja. Jaringan global telah merambah dan mendalam, khususnya pada bidang perdagangan dan pembiayaan.

Pengalaman telah menunjukkan bahwa pasar, demi efisiensi, terkadang buta untuk memperhatikan dimensi yang lebih luas seperti kesejahteraan manusia dan keamanan pribadi. Pasar juga kurang peka terhadap keadilan dan kesetaraan sosial. Maka pemihakan yang lebih menyeluruh terhadap isu-isu sosial misalnya “keamanan dan kemajuan manusia” perlu dilakukan melalui kerjasama dan langkah-langkah untuk menunjang keadilan sosial dalam proses globalisasi.

Globalisasi membawa dampak buruk karena hanya menekankan pada pembangunan manusia secara sempit. Pembangunan manusia hanya diukur dari pertumbuhan PDB, tingkat efisiensi dan pasar yang bebas dan terbuka. Bukannya saling melengkapi dan bekerjasama, globalisasi malah menciptakan persaingan tak sehat antara negara maju dan negara miskin.

Kita tidak bisa melupakan betapa mudahnya dunia mencari dana triliunan dollar hanya dalam beberapa minggu untuk menyelamatkan bank-bank dan lembaga-lembaga pembiayaan dan investasi. Tetapi dunia yang sama tidak mampu mencari 1 persen saja dari jumlah di atas untuk memberantas kelaparan – mulai dari 3 milyar dollar untuk memberi makan siswa yang kelaparan, atau 5 milyar dollar untuk mendukung dana makanan darurat dari Program Pangan Dunia.

Masih jelas juga dalam ingatan kita mengenai krisis pembiayaan di AS tahun 2008. Sebenarnya sistem persaingan pasar masih bisa diubah dan dikembangkan. Tidak hanya dibatasi oleh nilai-nilai dan prinsip-prinsip ekonomi yang ketat dan sempit.

Dasar sistem persaingan pasar memang berupa uang dan kredit, keduanya didasari reputasi dan kepercayaan. Sistem ini perlu menerapkan mekanisme pengecekan dan penyeimbang. Kepentingan pribadi harus diimbangi kepentingan bersama dan tangan pasar yang tak tampak diganti oleh tangan yang lebih tampak berupa wewenang pengaturan publik.

Globalisasi baru memerlukan budaya baru yang cocok dengan perubahan.
Prinsip ini didasarkan dari hukum alam, kata Paus Benediktus XVI. Lanjutnya, “Prinsip-prinsip etika , terkandung dalam penciptaan itu sendiri, dapat dipahami oleh akal. Karenanya prinsip-prinsip ini harus diterapkan dalam pilihan-pilihan praktis sehari-hari.”

Dari pernyataan di atas kami perlu mengusulkan budaya yang berdasar pada prinsip-prinsip dasar, misalnya ketentuan universal untuk sumber daya alam dan kemaslahatan bersama, berlandaskan pada penghormatan atas martabat manusia dan diakui sebagai tujuan utama sistem produksi dan perdagangan, kelembagaan politik dan kesejahteraan sosial.

Semakin jelas bahwa kemaslahatan bersama memikul peran untuk generasi yang akan datang. Karena itu, aspek penting globalisasi adalah menguatkan prinsip-prinsip solidaritas. Solidaritas global harus diakui sebagai kriteria etika dasar untuk menilai semua sistem sosial dan menjamin semua orang dapat mengambil manfaat dari globalisasi ekonomi.

Kenyataan ini mendesak penguatan prosedur tata-kelola ekonomi global, dengan tetap menghargai prinsip-prinsip pemerataan. Maksudnya menghindari pemusatan sumber daya secara berlebihan pada tingkat tinggi, misalnya pemerintah, dan memberikan otonomi kepada lembaga-lembaga seperti keluarga, masyarakat lokal, LSM, dan kelompok suku untuk menjalankan fungsinya.

Dengan demikian globalisasi adalah proses untuk menghargai kebebasan manusia. Globalisasi akan menjadi penyatu yang harmonis bagi keluarga besar manusia.

Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah India dan AS, dapat menawarkan model untuk menguatkan kebebasan manusia yang bertanggungjawab pada masyarakat yang modern, terbuka dan bebas. Juga sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, Indonesia berkesempatan menunjukkan pada dunia bahwa Islam dan demokrasi yang menghargai kebebasan manusia dapat berjalan seiring dan saling melengkapi.

Berbicara tentang Islam berarti berbicara tentang agama yang membawa ajaran moral universal yang diperlukan untuk memandu proses globalisasi. Sehingga Indonesia dapat menawarkan solusi yang unik untuk menuntaskan berbagai masalah globalisasi dengan aktif memajukan nilai-nilai universal agama-agama sebagai landasan dan sumber untuk proses yang lebih ramah.

Dalam konteks ini, peran – dan kesesuaian – agama dan politik, iman dan demokrasi, kebaikan dan kekayaan pada masyarakat Indonesia menjadi sangat cocok sebagai model baru arsitektur ekonomi global. Matra spiritual sangat penting untuk mengalihkan model globalisasi ekonomi yang sekuler menjadi model yang berwajah manusia.
________________________________________
Diterjemahkan dengan bebas dari New economic architecture with a human face karya Stefan S. Handoyo* yang dimuat di The Jakarta Post pada 17 Mei 2010 dengan tautan http://www.thejakartapost.com/news/2010/05/17/new-economic-architecture-with-a-human-face.html.

*Penulis adalah Wakil Presiden PT Asia Select Indonesia dan penasihat senior pada Jaringan Bisnis Keluarga di Indonesia.

2 Tanggapan

  1. setuju dengan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: