Istriku sayang, aku ingin menikah lagi

Sang Mama kemudian menghubungi Ustadzah Romlah, guru ngajinya. Demikian nasihatnya:

“Ini nasib perempuan. Terima saja. Kalau seorang perempuan itu muslimah yang baik, dia akan sabar, dan dia akan dapat pahala. Istri-istri lain suamiku malah aku semua yang mencarikan.”

Tulisan ini saya sadur dari beberapa artikel di Majalah Alia edisi 07, Januari 2010, karangan Annisa Mardhatillah. Ini majalah istri saya, malah dia yang ngasih majalah ini ke saya. Bila anda merasa tercerahkan dengan tulisan ini maka berterimakasihlah pada mbak Annisa. Bila anda masih bingung yaa wajar, kadang saya suka membingungkan🙂

“Ma, aku ingin menikah lagi”

“Apa Pap? Apa Papa bilang?”

“Mama tidak salah dengar. Aku harap Mama ridlo. Aku sudah memikirkan hal ini sungguh-sungguh. Aku ingin menikahi Anita dalam waktu dekat ini.”

“Kenapa? Kenapa tiba-tiba?”

“Emm…sebenarnya tidak mendadak. Sudah beberapa waktu aku memikirkannya. Mama tahu Anita ‘kan? Teman SMA di Bandung dulu. Beberapa bulan lalu aku ketemu dia lagi. Rupanya dia pindah ke Jakarta. Sesudah bercerai. Diceraikan. Suaminya memang laki-laki brengsek. Sering menyakiti Anita…”

Hening……….

“Mam…apa pendapat Mama? Kenapa diam saja?’

“Aku harus bilang apa? Apa yang Papa harapkan dariku? Apa Papa ingin aku loncat-loncat kegirangan mendengar seorang perempuan mencuri suamiku?”

“Jangan bicara begitu. Masa Mama pakai istilah ‘mencuri’?”

Lho, apalagi namanya? Perempuan itu diam-diam datang, ‘curhat’ ini itu ke Papa, lalu Papa bersimpati dan tanpa sadar lalu mulai berpikir untuk menikahinya ! Sudah berapa lama ini berlangsung ? Sudah berbulan-bulan, bukan? Tanpa aku sadari sama sekali…bukankah itu ‘mencuri’ namanya?”

“Tapi Papa ‘kan akan tetap bersama Mama. Papa cinta Mama…”

“Anita tidak mencuri  Papa bukan karena Papa masih bersama Mama. Tapi karena Papa sendiri menyediakan diri untuk ‘dicuri’!”

“Jangan bicara begitu. Aku tahu Mama pasti akan sedih…tapi jangan sedih. Aku tetap mencintaimu. Tidak ada yang bias menggantikan Mama di hatiku. Kau ibu anak-anakku. Tapi aku benar-benar sudah memikirkan ini baik-baik. Aku ingin menikahi Anita.”

“Sudah memikirkan ini baik-baik? Sudah lama ya? Berapa bulan Papa berpikir?”

“Sekitar enam bulan ini…”

“Dan selama enam bulan ini Papa terus berhubungan dengannya? Sudah ‘ngapain aja’ Pa?”

“Apa maksud Mama !! Apa Mama pikir aku ini berzina? Aku justru ingin menikahi Anita karena aku takut tergoda berzina!”

“Tapi selama ini Papa sering bertemu dia ‘kan? Sudah jalan-jalan bersama? Naik mobil berduaan? Sudah ketemu di luar jam kerja? Sudah duduk berduaan? Mungkin di kafe atau di mal? Betul ‘kan !!?”

“Mama, Mama tidak usah sinis seperti itu. Aku sudah memutuskan untuk menikah dengan Anita, justru karena aku ingin tetap menjadi lelaki yang baik dan tidak berzina. Kalau aku mau, Ma, gampang sekali buatku saat ini untuk berzina dengan perempuan mana saja ! Lagi pula, jangan lupa, aku berhak menikah dengan empat wanita!

________________________________________

Sang Mama kemudian menelpon sahabatnya. Demikian ucapannya:

What!? Pasti perempuan brengsek itu yang menyodorkan dirinya kepada Dharma! Dasar perempuan nggak tahu malu! Ida, kenapa tidak kau pentung saja kepala Dharma dan perempuan itu?

Sang Mama kemudian menghubungi Ustadzah Romlah, guru ngajinya. Demikian nasihatnya:

“Ini nasib perempuan. Terima saja. Kalau seorang perempuan itu muslimah yang baik, dia akan sabar, dan dia akan dapat pahala. Istri-istri lain suamiku malah aku semua yang mencarikan.”

________________________________________

Mari kita merenungi makna ayat-ayat Al-Quran berikut:

  • Dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepda tidak berbuat aniaya. — QS An-Nissa’ (4): 3.
  • Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memeilhara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang – QS An-Nissa’ (4): 129.

Dan juga doa Rasululloh saw:

“Yaa Alloh, dengan cara inilah aku melakukan keadilan kepada istri-istriku – dalam hal yang dapat aku kendalikan, maka yaa Alloh jangan salahkan aku dalam hal-hal yang tak mampu aku kendalikan dan dalam hal-hal yang sepenuhnya ada dalam penguasaan-Mu.”

5 Tanggapan

  1. nasib perempuan emank jelek ya bro, hrs di dua kan oleh suaminya sndri….tp blh ngga istri menduakan suaminya????
    pasti sama2 dapat pahala…………bukan kah begitu bro????

  2. Eko, yang seperti ini jangan diupload, karena itu berarti kau secara langsung atau tidak langsung mendukung poligami. Apalagi tulisan ini ditutup dengan arogannya:
    “Lagi pula, jangan lupa, aku berhak menikah dengan empat wanita!”

    Mengenai berlaku adil, itu selalu dilihat dari perspektif laki-laki. Bagaimana bila adil itu dilihat dari perspektif istri. Adil nggak?

    • Saudaraku Ganjar,
      aku tidak mendukung poligami dan tidak pula menolaknya. kalau kamu perhatikan, alasan sang papa sebenarnya tidak logis. kalau poligami karena ingin menjauhi zina, mengapa dia harus sembunyi-sembunyi menemui Anita bahkan sampai 6 bulan? Tak adakah cara lain untuk menolong Anita selain poligami? mencarikan calon suami misalnya..
      lalu, apa yang kau khawatirkan kalau aku mendukung poligami?

      Eko H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: