Bab Kedua The Grand Design, The Rule of Law (bagian 2)

Sayangnya, pandangan alam semesta bangsa  Ionia – yang dapat dijelaskan melalui hukum umum dan disederhanakan menjadi serangkaian prinsip sederhana – berpengaruh kuat hanya beberapa abad. Salah satunya karena teori Ionia terlihat tidak memberi tempat pada gagasan kehendak bebas, atau konsep bahwa Tuhan ikut campur dalam bekerjanya dunia. Gagasan menghilangkan peran tuhan atau kehendak bebas ini belum dapat diterima oleh banyak pemikir Yunani sebagaimana gagasan serupa bagi banyak orang hari ini.

"

Di luar hukum senar Pythagoras, satu-satunya hukum fisika yang tepat pada jaman kuno adalah tiga hukum yang dirumuskan oleh Archimedes (287-212 SM), seorang fisikawan agung pada jaman kuno. Menurut terminologi hari ini, hukum pengungkit menjelaskan bahwa sedikit gaya dapat mengangkat beban berat karena pengungkit menggandakan gaya menurut perbandingan jarak dari titik tumpu pengungkit. Hukum Benda Apung menyatakan bahwa sembarang benda yang tercelup ke dalam sebuah cairan akan mengalami gaya tekan ke atas yang sama besar dengan berat cairan yang dipindahkan. Dan hukum pemantulan menegaskan bahwa sudut antara berkas cahaya dan cermin sama dengan sudut antara cermin dan berkas cahaya yang terpantul. Tetapi Archimedes tidak menyebutnya sebagai hukum, tidak jua menjelaskannya dengan acuan pengamatan dan pengukuran. Alih-alih, dia menganggapnya seperti teorema matematis murni, dalam sebuah sistem aksioma yang mirip sekali seperti sistem yang diciptakan Euclid untuk geometri.

Ketika pengaruh bangsa Ionia menyebar, terdapat orang-orang lain yang melihat alam semesta memiliki keteraturan internal, keteraturan yang dapat dipahami lewat pengamatan dan pemikiran. Anaximander (610 – 546 SM), teman dan mungkin murid dari Thales, berpendapat bahwa karena bayi manusia tak berdaya saat lahir, jika manusia pertama entah bagaimana muncul di bumi sebagai bayi, maka manusia tidak akan bertahan hidup. Mungkin saja ini merupakan sindiran pertama manusia terhadap evolusi: orang-orang, menurut Anaximander, maka harus telah berevolusi dari binatang lain yang saat bayi bertubuh kuat. Di Sisilia, Empedocles (490 – 430 SM) mengamati pemakaian alat yang disebut clepsydra. Kadangkala dipakai sebagai sendok, alat ini berbentuk tabung dengan leher terbuka dan lubang-lubang kecil di bagian bawah. Jika tercelup dalam air alat ini akan terisi, dan jika leher terbuka itu ditutup, clepsydra ini bisa diangkat keluar tanpa membuat air di dalamnya menetes melewati lubang-lubang. Empedocles memperhatikan bila anda menutup leher clepsydra sebelum mencelupkannya, clepsydra tidak bisa terisi. Dia berpendapat bahwa ada sesuatu yang tak terlihat yang menghalangi air memasuki tabung itu melalui lubang-lubang – dia telah menemukan substansi material yang kita sebut udara.

Sekitar waktu yang sama Democritus (460-370 SM), dari koloni ionia di Yunani Utara, mengamati apa yang terjadi jika anda memecah atau memotong benda menjadi bagian-bagian kecil. Dia berpendapat bahwa anda tidak dapat melanjutkan pekerjaan ini terus menerus. Alih-alih, dia merumuskan bahwa segalanya, termasuk makhluk hidup, terbuat dari partikel dasar yang tak dapat dipotong atau dipecah menjadi bagian-bagian. Dia menyebut partikel pamungkas ini atom, dari kata sifat bahasa Yunani yang berarti “tak dapat dipotong.” Democritus meyakini bahwa setiap fenomena benda merupakan hasil benturan atom-atom. Dalam pandangannya, dijuluki atomisme, semua atom bergerak di sekitar ruang kosong, dan, jika tak ada gangguan, terus bergerak maju tanpa henti. Hari ini kita menyebut gagasan ini sebagai hukum kelembaman.

Ide revolusioner bahwa kita hanyalah penghuni biasa alam semesta, bukan makhluk khusus yang berbeda karena berada di pusat alam semesta, diungkapkan pertama kali oleh Aristarchus (310-230 SM), salah satu ilmuwan terakhir Ionia. Hanya satu perhitungannya yang bertahan, analisa geometri rumit dari pengamatan yang teliti mengenai ukuran bayangan bumi pada bulan selama gerhana bulan. Dia menyimpulkan dari datanya bahwa surya pasti jauh lebih besar dari bumi. Mungkin terinspirasi bahwa benda mungil akan mengorbit pada benda yang jauh lebih besar dan bukan sebaliknya, dia menjadi orang pertama yang berpendapat bahwa bumi bukanlah pusat dari sistem tata surya kita, melainkan bumi dan planet lain mengorbit pada matahari yang jauh lebih besar. Ini  merupakan tahapan kecil dari kesadaran bahwa bumi adalah salah satu planet menuju gagasan bahwa surya bukanlah benda khusus juga. Aristarchus menduga inilah yang benar dan meyakini bahwa bintang-bintang yang kita lihat di langit malam tak lebih dari surya yang amat jauh.

Bangsa Ionia hanyalah salah satu dari masyarakat filsafat Yunani kuno, masing-masing dengan budaya yang berbeda bahkan berlawanan.  Sayangnya, pandangan alam semesta bangsa  Ionia – yang dapat dijelaskan melalui hukum umum dan disederhanakan menjadi serangkaian prinsip sederhana – berpengaruh kuat hanya beberapa abad. Salah satunya karena teori Ionia terlihat tidak memberi tempat pada gagasan kehendak bebas, atau konsep bahwa Tuhan ikut campur dalam bekerjanya dunia. Gagasan menghilangkan peran tuhan atau kehendak bebas ini belum dapat diterima oleh banyak pemikir Yunani sebagaimana gagasan serupa bagi banyak orang hari ini. Filosof Epicurus (341-270 SM), misalnya, menentang atomisme dengan alasan “lebih baik mengikuti mitos dewa-dewa daripada menjadi ‘budak’ takdir para filosof alam.” Aristoteles juga menolak konsep atom karena dia tak dapat menerima bahwa manusia terdiri dari benda-benda yang tak berjiwa. Ide Ionia bahwa alam semesta bukanlah berpusat pada manusia sebenarnya merupakan batu loncatan bagi kita untuk memahami kosmos, tetapi gagasan itu akan dijatuhkan dan tidak diambil lagi, atau diterima secara luas, hingga Galileo, hampir duapuluh abad kemudian.

Meski spekulasi mereka mengenai alam ini sangat mencerahkan, sebagian besar ide orang Yunani kuno tak akan dapat lulus sebagai sains yang valid pada jaman modern. Salah satunya, karena bangsa Yunani belum menemukan metode ilmiah, teori mereka tidak dikembangkan dengan tujuan dapat diverifikasi melalui penelitian. Maka jika seorang ilmuwan berpendapat sebuah atom bergerak dalam garis lurus hingga membentur dengan atom kedua dan ilmuwan lain berpendapat bahwa atom bergerak dalam garis lurus hingga menyentuh benda besar, tidak ada cara yang obyektif untuk menetapkan pendapat itu. Dan juga, tidak ada pembedaan yang jelas antara hukum fisika dan hukum manusia. Pada abad kelima SM, misalnya, Anaximander menulis bahwa semua benda timbul dari substansi primer, dan kembali ke substansi primer itu, supaya mereka tidak “membayar denda dan dihukum atas ketidakadilan mereka.” Dan menurut filsuf Ionia bernama Heraclitus (535 – 475 SM), surya bergerak sedemikian agar dewa keadilan tidak memburunya. Beberapa ratus tahun kemudian Stoics, sekolah para filsuf Yunani yang berdiri sekitar abad ketiga SM, benar-benar membedakan hukum manusia dan hukum alam, namun mereka memasukkan aturan perilaku manusia yang mereka anggap universal – misalnya menyembah Tuhan dan mematuhi orangtua – termasuk dalam hukum alam. Sebaliknya, mereka sering mendefinisikan proses fisika dalam istilah-istilah legal dan meyakini bahwa proses ini butuh pemaksaan, meskipun obyek yang harus “mematuhi” hukum ini sebenarnya tak berjiwa. Jika anda mengira sangat sulit menyuruh manusia untuk mematuhi aturan lalu lintas, maka bayangkan meyakinkan asteroid untuk bergerak di sepanjang kurva lonjong.

Budaya ini terus mempengaruhi para pemikir yang hidup setelah bangsa Yunani selama berabad-abad kemudian. Pada abad ketigabelas filsuf awal Kristen Thomas Aquinas (1225 – 1274) meniru pandangan ini dan memakainya untuk berpendapat tentang keberadaan Tuhan, dia menulis,”Jelas bahwa (benda tak berjiwa) berakhir bukan karena kebetulan tetapi kesengajaan…Karena itu ada dzat maha cerdas yang mengatur segala sesuatu di alam akan berakhir.” Bahkan pada akhir abad keenambelas, ahli astronomi Jerman Johannes Kepler (1571 – 1630) meyakini bahwa planet-planet memiliki persepsi dan secara sadar mematuhi hukum gerakan yang diilhamkan pada “pikiran” mereka. (Bersambung)

lihat terjemahan  lain mengenai The Grand Design:

1. Bab Pertama, Mystery of Being

2. Bab Kedua, The Rule of Law (bagian 1)

Sumber: The Grand Design karya Hawking dan Mlodinow

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: