Bab Ketiga The Grand Design, What is Reality? (bagian 2)

Realisme menurut-model dapat menyediakan sebuah kerangka kerja untuk membahas pertanyaan-pertanyaan seperti berikut: Jika dunia diciptakan beberapa waktu terhingga yang lalu, apa yang terjadi sebelumnya? Filosof Kristen awal, St. Augustine (354-430), mengatakan bahwa jawabannya bukanlah Tuhan sedang menyiapkan neraka bagi orang-orang yang bertanya demikian, tetapi bahwa waktu adalah sifat dunia yang Tuhan ciptakan dan waktu tidaklah ada sebelum penciptaan, yang dia yakin telah terjadi belum lama lalu.


Para filosof sejak Plato telah berdebat selama bertahun-tahun mengenai sifat-sifat kenyataan. Sains klasik berdasarkan pada keyakinan bahwa ada dunia luar yang nyata di mana sifat-sifatnya tertentu dan tidak tergantung dari pengamat yang menilainya. Menurut sains klasik, benda-benda tertentu memang ada dan memiliki sifat-sifat fisik, misalnya kecepatan dan massa, yang nilainya sangat jelas. Dalam pandangan ini teori kami adalah usaha-usaha untuk menggambarkan benda-benda itu dan sifat-sifat mereka, dan pengukuran dan persepsi kami  berkaitan dengan mereka. Pengamat dan yang diamati merupakan bagian dari dunia yang obyektif, dan sembarang perbedaan antara keduanya tidaklah berarti. Dengan kata lain, jika anda melihat sekawanan zebra berebut tempat di garasi, maka itu karena memang ada sekawanan zebra berebut tempat di garasi. Semua pengamat yang lain yang melihat akan mengukur sifat-sifat yang sama, dan sekawanan zebra akan tetap memiliki sifat-sifat itu meskipun sembarang orang mengamati atau tidak. Dalam filsafat, keyakinan ini disebut realisme.

Meskipun realisme merupakan sudut pandang yang menarik, nanti akan kita lihat, apa yang kami tahu mengenai fisika modern membuat realisme sulit dipertahankan. Contohnya, menurut prinsip-prinsip fisika kuantum, yang merupakan gambaran akurat mengenai alam, sebuah partikel tidak mempunyai posisi atau kecepatan tertentu kecuali dan hingga posisi dan kecepatan ini diukur oleh seorang pengamat. Karena itu, tidak benar mengatakan bahwa suatu pengukuran memberikan hasil tertentu karena kuantitas yang sedang diukur mempunyai nilai tersebut saat pengukuran. Nyatanya, pada beberapa kasus benda-benda bahkan tidak mempunyai keberadaan mandiri namun sekedar ada sebagai bagian dari susunan yang terdiri dari banyak benda. Dan jika suatu teori yang disebut prinsip holografik terbukti benar, kita dan dunia empat dimensi kita mungkin hanya bayangan di tepian ruang-waktu lima dimensi yang lebih besar. Pada kasus ini, status kita di alam semesta serupa dengan status ikan emas.

Ahli realisme yang kolot sering berpendapat bahwa bukti  di mana teori ilmiah menggambarkan kenyataan bersandar pada keberhasilan mereka. Namun teori-teori lain dapat berhasil menggambarkan fenomena yang sama melalui kerangka kerja konsep yang berbeda. Nyatanya, banyak teori ilmiah yang telah berhasil dibuktikan kemudian diganti oleh teori lain yang sebanding berdasarkan konsep baru mengenai kenyataan yang sama sekali baru.

Secara tradisional, orang-orang yang tidak mengakui realisme disebut anti-realis. Anti realis berpandangan ada perbedaan antara pengetahuan empirik dan pengetahuan teori. Mereka biasanya berpendapat bahwa pengamatan dan penelitian memang bermanfaat tetapi teori-teori  ini hanyalah sekedar instrumen yang tidak memunculkan kebenaran yang lebih dalam berdasakan fenomena yang diamati.  Beberapa anti realis bahkan telah membatasi sains hanya untuk benda-benda yang dapat diamati. Untuk alasan ini, banyak ilmuwan pada abad sembilanbelas menolak gagasan-gagasan mengenai atom dengan alasan kita tak penah melihatnya. George Berkeley (1685-1753) bahkan pergi lebih jauh dengan mengatakan tidak ada apapun selain pikiran dan gagasan-gagasannya. Ketika seorang teman mengatakan pada Pengarang dan Leksikografer Inggris Dr. Samuel Johnson (1709-1784) bahwa tidak mungkin pendapat Berkeley dibantah, diriwayatkan Johson menanggapinya dengan berjalan menuju batu besar, menendangnya dan berseru.”Karena itu aku menolaknya.” Tentunya rasa sakit Dr Johnson yang dirasakan pada kakinya juga merupakan gagasan dalam pikirannya, maka sebenarnya dia tidak menolak gagasan Berkeley. Namun tindakannya ini  benar-benar menggambarkan pandangan filosof David Hume (1711-1776) yang menulis bahwa meskipun kita tidak mempunyai alasan kuat untuk memercayai kenyataan obyektif, kita tidak mempunyai pilihan selain bertindak seolah-olah itu ada.

Realisme-menurut-model mengambil inti semua pendapat dan diskusi dari para filosof realis dan anti-realis.


Menurut realisme menurut-model, tak penting bertanya apakah model ini nyata, yang penting apakah model ini sesuai dengan pengamatan. Jika ada dua model yang keduanya sesuai dengan pengamatan, seperti gambaran ikan emas dan gambaran kita, maka seseorang tak dapat mengatakan bahwa model yang satu lebih nyata dari model yang lain. Seseorang bisa memakai model manapun yang lebih nyaman pada situasi yang dia sadari. Contohnya, jika  seseorang di dalam toples, pandangan ikan emas akan berguna, tapi untuk yang berada di luar, akan sangat tidak nyaman melukiskan kejadian-kejadian dari galaksi yang jauh dengan memakai kerangka kerja sebuah toples di bumi, terutama karena toples akan bergerak seiring bumi mengitari matahari dan mengitari porosnya.

Kami membuat model pada sains, tetapi kami juga membuat model dalam kehidupan sehari-hari. Realisme menurut-model berlaku tidak hanya pada model ilmiah tetapi juga pada model mental sadar dan bawah-sadar yang kita semua ciptakan untuk menafsiri dan memahami dunia sehari-hari. Tak mungkin menghilangkan pengamat – kita – dari persepsi kita tentang dunia, yang tercipta melalui pemrosesan indera kita  dan melalui bagaimana kita berpikir dan berpendapat. Persepsi kita – dan tentunya pengamatan di mana teori-teori berdasar  — bukanlah langsung, tetapi lebih dibentuk oleh jenis lensa, struktur penafsiran dari otak manusia.

Realisme menurut-model bersesuaian dengan cara kita menanggapi benda. Ketika melihat benda, otak seseorang menerima sinyal-sinyal berurutan dari saraf penglihatan. Sinyal ini bukan berupa sejenis gambar yang anda lihat di televisi. Ada titik buta di mana saraf penglihatan bertaut dengan retina, dan satu-satunya bagian area penglihatan anda dengan resolusi yang baik adalah daerah sempit sekitar 1 derajat sudut visual sekitar pusat retina, daerah selebar jempol anda bila ditaruh di lengan. Maka data mentah yang dikirim ke otak adalah seperti gambar buruk dengan lubang di dalamnya. Untungnya, otak manusia memroses data itu, menggabungkan input dari kedua mata, mengisi celah-celah dengan asumsi bahwa sifat-sifat visual dari lokasi yang berdekatan adalah serupa dan otak lalu menyisipkannya. Malahan otak membaca kisaran data dua-dimensi dari retina lalu menciptakan darinya kesan ruang tiga-dimensi. Dengan kata lain, otak membangun gambaran mental atau model.

Otak begitu bagus dalam membangun model sehingga jika orang yang memakai kacamata yang membalik gambar atas-bawah pada mata mereka, setelah beberapa saat otak mereka akan mengubah model sehingga mereka kembali melihat benda-benda itu tidak terbalik. Jika kacamata itu lalu dilepaskan, mereka melihat dunia terbalik untuk sesaat kemudian beradaptasi kembali. Ini menunjukkan bahwa apa yang orang maksudkan saat mengatakan “Saya melihat kursi” hanyalah berarti bahwa dia telah memakai cahaya yang dipancarkan oleh kursi untuk membangun gambaran mental atau model dari kursi itu. Jika model itu terbalik, untungnya otaknya akan membetulkannya sebelum dia mencoba duduk di kursi itu.

Masalah lain yang realisme menurut-model pecahkan, atau setidaknya menghindarinya, adalah pengertian keberadaan. Bagaimana saya tahu bahwa meja itu tetap ada jika saya keluar kamar dan tak dapat melihatnya? Apakah maksudnya saat kita berkata bahwa benda-benda yang tak dapat kita lihat, semisal elektron atau kuark – partikel yang dikatakan membentuk proton dan neutron – ada ? Seseorang dapat mempunyai model di mana meja itu hilang saat saya keluar kamar dan tampak lagi pada tempat yang sama ketika saya kembali, namun tentunya ini akan terasa tidak nyaman. Dan bagaimana bila sesuatu terjadi saat saya keluar, misalnya langit-langit roboh? Dengan memakai model meja-hilang-saat-saya-keluar-kamar, bagaimana saya memahami kenyataan bahwa lain kali saya masuk, meja tampak kembali pecah, di bawah reruntuhan langit-langit? Model di mana meja tetap di tempatnya adalah jauh lebih sederhana dan cocok dengan pengamatan. Ini adalah yang semua orang inginkan.

Pada kasus partikel subatom yang kita tak dapat lihat, elektron merupakan model yang berguna yang menjelaskan pengamatan-pengamatan seperti jalur-jalur pada kamar awan dan berkas cahaya pada tabung televisi, juga banyak fenomena-fenomena lain. Diriwayatkan bahwa elektron ditemukan pada tahun 1897 oleh fisikawan Inggris J.J. Thomson di Laboratorium Cavendish di Universitas Cambridge. Dia tengah melakukan percobaan mengenai aliran listrik di dalam tabung kosong, fenomena yang dikenal dengan sinar katode. Percobaannya mengarah ke kesimpulan kuat bahwa sinar misterius tersusun dari “sel-sel darah” amat kecil yang merupakan bahan penyusun atom, yang kemudian disangka sebagai bahan dasar yang tak dapat dibagi lagi. Thomson tidak “melihat” elektron atau percobaannya tidak menunjukkan secara langsung dan tegas. Namun modelnya telah terbukti berhasil diterapkan dari sains dasar hingga rekayasa, dan saat ini semua fisikawan percaya elektron itu ada meskipun anda tak dapat melihatnya.

Kuark, yang juga tak dapat kita lihat, merupakan model untuk menjelaskan sifat-sifat proton dan neutron dalam inti atom. Meskipun proton dan neutron dikatakan terbuat dari kuark, kita tak pernah bisa mengamati kuark karena gaya ikat antar kuark-kuark meningkat seiring pemisahan, sehingga kuark bebas terisolasi tak ada di alam. Alih-alih, kuark selalu ada di kelompok-kelompok yang terdiri dari tiga (proton dan neutron), atau dalam pasangan satu kuark dan satu anti-kuark (pi meson), dan bertindak seolah-olah mereka disatukan oleh karet gelang.

Pertanyaan apakah masuk akal bahwa kuark itu ada jika anda tak pernah dapat mengisolasinya adalah hal yang kontroversial pada tahun-tahun setelah model kuark diajukan pertama kali.  Gagasan bahwa partikel-partikel tertentu terbuat dari kombinasi sedikit partikel sub-subinti menyediakan prinsip utama yang menghasilkan penjelasan yang sederhana dan menarik mengenai sifat-sifat mereka. Namun meskipun para fisikawan sudah biasa menerima partikel yang hanya bisa diketahui ada dari data statistik yang berkenaan dengan persebaran partikel-partikel lain, gagasan untuk membuktikan adanya partikel yang mungkin pada prinsipnya tak dapat diamati adalah terlalu berlebihan bagi kebanyakan fisikawan. Namun setelah bertahun-tahun seiring model kuark mengarah ke prediksi yang lebih dan lebih tepat, para penentang itu makin kabur. Tentu saja mungkin bahwa beberapa alien dengan tujuhbelas lengan, mata inframerah, dan suka meniup krim dari telinga mereka akan membuat percobaan yang sama dengan kita, tetapi tidak menyimpulkan adanya kuark. Apapun itu, menurut realisme menurut-model, kuark memang ada di dalam model yang cocok dengan pengamatan kita mengenai bagaimana partikel subinti bertindak.

Realisme menurut-model dapat menyediakan sebuah kerangka kerja untuk membahas pertanyaan-pertanyaan seperti: Jika dunia diciptakan beberapa waktu terhingga yang lalu, apa yang terjadi sebelumnya? Filosof Kristen awal, St. Augustine (354-430), mengatakan bahwa jawabannya bukanlah Tuhan sedang menyiapkan neraka bagi orang-orang yang bertanya demikian, tetapi bahwa waktu adalah sifat dunia yang Tuhan ciptakan dan waktu tidaklah ada sebelum penciptaan, yang dia yakin telah terjadi belum lama lalu. Ini adalah salah satu model yang mungkin, yang disukai mereka yang mempertahankan pendapat bahwa Kitab Kejadian (Genesis) tetaplah benar meskipun dunia mengandung fosil dan bukti lain yang membuatnya terlihat jauh lebih tua. (Apakah mereka menaruh di sana untuk membodohi kita?) Seseorang juga bisa mempunyai model yang berbeda, di mana waktu mulai berdetak 13,7 milyar tahun sebelum dentuman besar (big bang). Model ini menjelaskan paling baik mengenai pengamatan kita pada hari ini, meliputi bukti sejarah dan geologis, merupakan perwujudan terbaik yang kita punya mengenai masa lalu. Model kedua dapat menjelaskan fosil dan rekaman radioaktif dan fakta bahwa kita menerima cahaya dari galaksi-galaksi yang jauhnya jutaan tahun cahaya dari kita. Sehingga model ini – teori dentuman besar – lebih berguna daripada model pertama. Namun, kita tak dapat mengatakan bahwa model yang satu lebih nyata daripada model yang lain.


Sumber: The Grand Design karya Hawking & Mlodinow

Bacalah terjemahan bab-bab The Grand Design yang lain:

1. The Mystery of Being

2. The Rule of Law

3. What is reality? (bagian 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: