Nasibku bukan Nasibmu

Dan saya tak akan memercayai lagi kalimat macam begini, ”Kalau saya bisa, kamu pasti bisa”. Karena rambut saya boleh saja sama hitam, tapi jenis rambutnya pun macam-macam. Itu yang membuat setelah ditata, rambut teman saya bisa indah, rambut saya tetap saja tak bisa ”nendang”.

Artikel berikut ini saya kutip dari Kompas, 10 April 2011, buah karya Samuel Mulia. Dari tulisan-tulisannya tampaknya dia seorang konsultan mode. Saya setuju dengan pandangan Bang Samuel bahwa ada nasib di balik semua peristiwa di dunia ini. Orang boleh saja berpandangan bahwa tidak ada yang namanya kebetulan. Semuanya deterministik. Fisikawan modern seperti Stephen Hawking pun mengamini bahwa alam ini sesungguhnya deterministik: segalanya telah ditentukan sebelumnya. Meskipun masih menyisakan pertanyaan mengenai perilaku elektron. Elektron bersifat seperti gelombang ketika diamati dari jauh. Namun, ketika dipelototi satu per satu, elektron beralih perilaku menjadi partikel.

Tentu saja Agama apapun tidak sepakat bahwa dunia ini deterministik semata. Konsep tentang dosa dan pahala menjadi tidak bermakna bila segalanya sudah ditentukan sebelumnya. Meskipun tidak harus muncul dikotomi antara agama dan sains. Marilah kita berpikir sederhana saja: kalau semuanya sudah ditentukan sebelumnya, mengapa kita tidak tahu apa yang terjadi pada diri kita satu tahun dari sekarang? atau bahkan esok hari? Dan, bila semuanya bergantung usaha kita: mengapa saya tidak sekaya Aburizal Bakrie meskipun saya bekerja dua kali lebih keras dan lebih lama? Mengapa saya tidak sekalipun ke Mekkah sedangkan rekan kerja istri saya sudah 8 kali Umroh?

 Saya masih mempercayai konsep takdir atau nasib yang dicetuskan oleh kakak kelas SMU dulu. Konsep ini sebenarnya sudah berserakan di Al-quran tetapi baru teman saya ini yang menemukannya.  Takdir atau Nasib adalah seperti diagram pohon di matematika. Setiap tindakan, bahkan walau hanya sekedipan mata, dan setiap kondisi, bahkan walau hanya sehelai daun jatuh, menciptakan berbagai peluang nasib atau takdir yang membentang di hadapan kita. Namun, jumlah dan jenis peluang ini tetaplah terbatas sesuai kehendak Tuhan. Bisa saja saya sudah berusaha dan bekerja sekeras dan secerdas Bill Gates, namun peluang takdir yang tercipta setelah saya bekerja sekeras itu tidak ada yang mengarah ke kekayaan sebesar milik Bill Gates. Atau bisa saja seorang Norman yang hanya iseng menyanyi lalu di-upload  ke Youtube ternyata peluang tercipta di hadapannya mengarahkan dia menjadi terkenal.  Dan, bisa jadi salah satu peluang takdirnya adalah diberi sanksi karena menyanyi memakai seragam.

 Tuhan maha kuasa dan maha kaya. Dia tak butuh apapun dari hamba-Nya. Tak mungkin Dia berniat jahat menjerumuskan hambanya ke dalam peluang-peluang yang buruk. Dia maha perhitungan dan maha kasih sayang. Semua yang Dia lakukan hanya ingin hamba-Nya kembali kepadanya dengan mulia. Selamat membaca dan merenung. Happy weekend…

Nasibku Bukan Nasibmu

Oleh: Samuel Mulia

 Seorang teman wanita berdoa. Begini, ”Tuhan, sembuhkan suami saya. Samuel aja gagal ginjal bisa sembuh, Tuhan pasti mau juga memberikan kesembuhan yang sama.” Saya yang berdiri di sampingnya diam dan terkejut. Saya mengerti kegalauannya. Meski jauh di nurani yang terdalam, saya meragukan bahwa doanya akan dikabulkan. Bukan karena saya sok tahu, tetapi saya hanya mikir, rambut boleh sama hitam, tapi nasib macam-macam, bukan?

 Bapak sukses, anak sukses?

 Hal di atas menjadi kegalauan saya juga selama menjalani hidup ini karena saya memanjatkan doa agar hidup saya koaya roaya seperti para konglomerat dan hati seperti para malaikat. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian.

 Selang sekian minggu, saya membaca sebuah buku bagaimana cara menjadi kaya. Setelah membacanya, saya sempat naik pitam. Diceritakan bahwa kesuksesan itu bisa diraih oleh siapa pun. Bahkan dari orang yang miskin sekali pun.

Setelah diizinkan hidup nyaris separuh abad, dengan IQ yang gitu deh itu, saya kok merasa apa yang saya dapatkan dan jalankan sampai hari ini itu adalah hanya sebuah nasib yang sudah digariskan sejak awal untuk saya. Kalau saya menoleh ke belakang, dan melihat perjalanan hidup yang naik dan turun, saya berpikir itu semua karena saya yang mewarnai perjalanan itu. Saya yang menentukan mau seperti itu.

 Tetapi sekarang saya berpikir, itu sebuah eksekusi nyata dari nasib yang sudah ditentukan, yang harus diwujudkan melalui penggunaan akal dan desire yang ada dalam diri saya. Itu mengapa kemudian ada istilah keinginan bebas. Saya dulu percaya itu dan kecewa karenanya. Itu membuat saya galau.

 Sering kali saya dan Anda mendengar bahwa semua hal di dunia ini tak ada yang terjadi secara kebetulan. Nah, kalau begitu sejak mula segala sesuatu sudah ditentukan, bukan? Karena kebetulan itu adalah sebuah situasi yang tak sengaja terjadi, bukan sebuah hal yang ditentukan sebelumnya. Jadi perjalanan hidup yang naik dan turun setiap insan itu sudah ditentukan.

 Pertanyaannya kemudian, apakah dengan begitu saya berhenti bekerja atau diam menjalani nasib? Tidak, itu tak mungkin terjadi. Karena kalau nasib saya sudah ditentukan untuk bekerja, yaa… saya akan bekerja. Orang lain bisa saja bekerja seperti saya, tetapi hasilnya berbeda. Saya bekerja sampai pontang dan panting dan tidak kaya, tapi ada yang setelah pontang-panting kemudian kaya.

 Sejuta mengapa?

 Kalau benar bahwa saya bisa seperti konglomerat, kalau saya bisa kaya seperti cerita dalam buku itu, karena diberikan tipsnya, berarti kesempatan menjadi sukses dan koaya roaya akan juga berlaku untuk semua makhluk hidup di dunia ini, bukan?

 Tetapi apa kenyataannya yang saya lihat sampai hari ini? Orang miskin tetap ada, orang tidak sukses tetap ada. Jagat ini tak pernah dipenuhi dengan orang kaya dan orang sukses semata, meski ada sejuta buku dengan tipsnya untuk menjadi kaya dan sukses.

 Itulah yang membuat saya jengkel dan galau karena ternyata bukan hanya niat, mimpi, dan kerja keras yang bisa menyamakan saya dengan orang lain. Saya bertanya pada diri saya sendiri. Siapa Justin Bieber itu dua tahun yang lalu? Siapa Katy Perry itu lima tahun yang lalu? Bagaimana mereka bisa melejit secepat kilat, sementara ada di bagian dunia lainnya manusia- manusia yang bersusah payah dengan suaranya yang tak kalah indahnya harus berjuang dan tak pernah menjadi kondang. Padahal, saya percaya mereka memiliki mimpi, ambisi, niat, dan kerja keras.

 Saya bertanya kepada diri sendiri, siapakah yang menjadi petinju legendaris yang selama ini saya ketahui? Mereka yang berkulit hitam, bukan? Saya tak pernah mendengar dan melihat ada manusia berasal dari negeri China menjadi petinju legendaris. Padahal, menjadi petinju adalah hak semua orang, bukan? Dengan sejuta mimpi, kerja keras, dan niat yang tak kunjung padam. Tetapi kenyataan di depan mata tidaklah demikian.

 Ada sejuta mengapa di kepala saya. Mengapa iPad, facebook, BB, 4square tidak diciptakan bangsa ini? Mengapa bangsa ini tak bisa dikenal sebagai pembuat mobil mewah dengan teknologinya yang canggih? La wong saya melihat manusia Indonesia itu jago dan pandai, tetapi mengapa itu tak terjadi?

 Semua orang boleh membuat buku, menceritakan kisah suksesnya dengan niat membuka wawasan kepada pembacanya dan mungkin ada secuil harapan supaya yang membaca memiliki pengalaman yang sama. Masalahnya, saya sebagai pembaca harus sering kali mengingatkan diri sendiri bahwa nasib saya tak akan sama dengan nasib si penulis buku.

 Dan saya tak akan memercayai lagi kalimat macam begini, ”Kalau saya bisa, kamu pasti bisa”. Karena rambut saya boleh saja sama hitam, tapi jenis rambutnya pun macam-macam. Itu yang membuat setelah ditata, rambut teman saya bisa indah, rambut saya tetap saja tak bisa ”nendang”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: