Wahabi dan Wah Habibi

“Kalau sampai ada celah diantara kita, setan nyelip disitu!”

“Bagus dong!”

“Lho?”

“Kalau setan mau nyelip ikut jama’ah, berarti dia sudah insaf!”

Mengikuti sholat berjama’ah di sebuah masjid, seorang berjubah cingkrang memepet-mepetkan kakinya agar menempel ke kaki Gus Mus. Karena kaki orang itu kelihatan kotor sekali dan Gus Mus curiga dia bergudhik, maka Gus Mus justru menjauhkan kakinya. Tapi orang itu ngotot dan terus mengejar-ngejar kaki Gus Mus!

Usai sholat, dia marah-marah,

“Mengapa kamu tidak mau merapatkan barisan?”

“Memangnya kenapa?” Gus Mus berlagak o’on.

“Kalau sampai ada celah diantara kita, setan nyelip disitu!”

“Bagus dong!”

“Lho?”

“Kalau setan mau nyelip ikut jama’ah, berarti dia sudah insaf!”

Sumberhttp://www.facebook.com/note.php?note_id=205245379511876

Kisah di atas saya kutip dari Komunitas Terong Gosong. Cukup membuat mata melek memang. Saya pribadi menganggap kisah ini merupakan dialog antara Islam Tekstual dan Islam Kontekstual.  Islam Tekstual dalam kisah di atas diwakili oleh seorang yang berbaju cingkrang dan (pada konteks tertentu)gudhiken (maksudnya, kena penyakit kulit yang menular). Orang ini hafal dan paham luar kepala hadits dan sunnah Nabi mengenai ibadah-ibadah mahdloh (maksudnya, ibadah-ibadah tonggak agama seperti syahadat, sholat, zakat, puasa dan haji) dan kurang memahami ibadah muamalah. Sedangkan Islam Kontekstual pada kisah di atas diwakili oleh tokoh Gus Mus (tak perlu dikaitkan dengan KH Mustofa Bisri sebab tulisan ini sukarela dan tidak memberi royalti kepada siapapun). Tokoh Gus Mus sangat masterdalam ibadah muamalah dan bersikap kritis terhadap ibadah mahdloh.

Andaikan saya ikut jadi jamaah dalam kisah di atas, saya bisa menengahi dengan berkata pada Mas Baju Cingkrang,”Mas, Kanjeng Nabi melarang kita keluar daerah dan memasuki daerah waktu ada wabah. Kaki sampean ini termasuk wabah. Mohon sampean manut  Kanjeng Nabi. Sholat di rumah saja.”

Bereslah. Mas Baju Cingkrang bisa kembali ke rumah dengan perasaan bangga karena tetap mematuhi Kanjeng Nabi sedang Gus Mus bisa sholat dengan khusyu’ tanpa kuatir kena wabah.

Sejak SMU saya banyak berkenalan dan mengidolakan banyak tokoh-tokoh Islam tekstual dan kontekstual. Bang Imad allohu yarham diriwayatkan pernah berkata,”Menara masjid pun bisa kena petir karena tidak pakai penangkal petir. Meskipun masjid adalah rumah Alloh.” Sedang Imam Nasa’irahimahulloh, sang perawi hadits, meninggal disiksa oleh orang-orang ketika berkata,”Satu-satunya hadits tentang Mu’awiyah hanyalah ‘Semoga Alloh tidak mengenyangkan perutnya’.”

Islam tekstual sering dikait-kaitkan dengan Wahabi. Menurut wikipedia di http://en.wikipedia.org/wiki/Wahabi :

The primary Wahhabi doctrine is Tawhid, the Uniqueness and Unity of God.[4] Ibn Abd-al-Wahhab was influenced by the writings of Ibn Taymiyya and questioned classical interpretations of Islam, claiming to rely on the Qur’an and the Hadith.[4] He attacked a “perceived moral decline and political weakness” in the Arabian Peninsula and condemned what he perceived as idolatry, the popular cult of saints, and shrine and tomb visitation.[4]

Sedang Islam kontekstual sering meneladani Umar Ibn Khaththab sebagai pembaharu. Ijtihad Umar seringkali tidak sejalan dengan putusan Nabi saw untuk masalah yang sama. Namun, sebagian besar ummat Islam sama sekali tidak ragu dengan fatwa Umar sebab Nabi pun mengakui kecerdasan Umar.

Saya sering gusar kalau kedua golongan ini berbenturan. Siapa sih yang tidak suka bila hidup ini dipenuhi dengan ibadah 5 waktu, berpuasa dengan nikmat, berzakat dengan sukarela dan berhemat-hemat untuk berhaji ke haramain. Siapa pula yang tidak suka hidup dengan penuh ilmu, bersih dari mismanajemen, penuh akurasi dan bebas korupsi. Keduanya sebenarnya dua sisi dari mata uang yang sama. Benar-benar sama.

Kehidupan memang tidak bisa dipisahkan dari konteks. Namun manusia tetap bisa berusaha. Nabi saw pernah bersabda,” Barang siapa mengetahui pahala sholat jama’ah, maka dia akan mendatanginya sekalipun merangkak melewati salju.” Jadi meskipun konteksnya anda sedang cedera kaki sehingga sulit berjalan dan berada pada musim salju yang sangat tebal, anda masih bisa berusaha untuk ikut sholat jama’ah. Konteks memang ada namun manusia bisa menaklukkan konteks. Nurcholish Majid allohu yarham pernah melontarkan doktrin taskhir yaitu alam semesta ini dilemahkan oleh Alloh untuk kebaikan manusia.

Berusaha tanpa ilmu juga tidak tepat. Bagaimana bisa optimal bila hitung-hitungannya tidak jelas. Software untuk ketepatan Qiblat sudah tersedia. Matahari pun bisa dihitung kapan tepat berada di atas Ka’bah. Jadi, ibadah mahdloh pun semakin akurat dengan bantuan iptek.

Kita semua terdiri dari banyak bagian. Beberapa bagian kita juga ada pada orang lain. Menghina orang lain sama artinya menghina kita sendiri.

Surabaya, 2 Juni 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: