Wanita karir sekaligus Ibu RT? Bisa! Asal…

Bekerja sekaligus merawat anak menurut pergerakan perempuan disebut “beban ganda”. Jika suami tidak menolong istrinya merawat keluarga, memang ini akan menjadi beban ganda. Namun jika suami berpartisipasi dalam membesarkan anak, seperti suami saya, ini akan menjadi “nikmat ganda”.

Awalnya saya berpandangan jika saya ingin sukses berkarir maka kehidupan rumah tangga saya akan biasa-biasa saja. Sebaliknya, jika saya ingin rumah tangga yang sakinah maka karir yang cukupan saja.Tetapi akhir-akhir ini saya menemukan bahwa saya bisa sukses di kedua bidang itu. Saya sadar bahwa batu sandungannya adalah anggapan bahwa perempuan tidak bisa memiliki segalanya.

Saya telah mempelajari kerja keras pada motivator dan saya belajar dari mereka apapun yang benar-benar saya impikan dan harapkan dapat menjadi kenyataan. Pastinya saya akan bekerja keras untuk mencapai itu semua. Masalahnya, saya dibesarkan dengan meyakini yang saya inginkan hanyalah sebuah keluarga dan hidup yang menyenangkan. Di lingkungan di mana saya dibesarkan, wanita yang bekerja sangat lazim namun meraih sesuatu yang besar tidaklah dianjurkan. Para istri cukup berhati-hati agar tidak telalu membayangi karir para suami. Saya jelas ingat di SD ibu saya dulu, hanya guru laki-laki yang menjadi pengawas.

Saya tidak menganjurkan bahwa wanita harus menjadi perempuan super yang sempurna pada bidang yang dia pilih. “Wanita super” hanyalah olok-olok karena di samping pekerjaan dan keluarga yang harus ditangani tanpa pembantu rumah tangga, dia juga beribadah bersama-sama suaminya. Wanita juga manusia, persis seperti anda dan saya. Senjata rahasianya adalah suaminya, yang membantunya dalam tugas-tugas rumah tangga dan merawat anak-anaknya.

Agar berhasil, wanita memerlukan dukungan suami dan anak-anaknya. Beberapa CEO wanita di perusahaan yang tercatat di Majalah Fortune 500 dibantu oleh suaminya untuk mengatasi jadual yang sangat sibuk. Angela F. Braly, Presiden dan CEO WellPoint, dinilai oleh Wall Street Journal (19 Nov 2007) sebagai no. 1 dalam “50 wanita yang perlu diamati”, mempunyai tiga anak. Sejak dia ditunjuk menjabat posisi tertinggi, suaminya memutuskan menjadi ayah yang tinggal di rumah saja.

Menurut saya, laki-laki lebih baik dalam merawat anak. Mereka lebih menyenangkan, tidak rewel dan tidak terlalu kuatir seperti perempuan. Mereka bukan seperti kita yang mengomel pada anak-anak agar makan buah, sayuran dan lain-lain. Laki-laki juga lebih disiplin karena mereka kurang emosional.

Benar-benar menyentuh mengenang almarhum mantan presiden Gus Dur yang bangun tengah malam untuk mengganti popok bayi sebelum memberikannya ke istrinya untuk diteteki. Lalu ketika si bayi sudah tidur lagi dia kembali mengambil bayi itu dan meletakkannya di boks bayi.

Dan dalam karir politik Gus Dur, sang istri selalu berada di sisinya. Inilah peran suami dan istri; saling mendukung satu sama lain. Penting bagi perempuan untuk mendapat dukungan suaminya jika mereka ingin berperan membangun ekonomi Indonesia.

Banyak pria, bahkan yang pernah sekolah di luar negeri, masih meyakini bahwa merawat rumah dan anak adalah tanggungjawab ibu/istri yang utama. Jadi, jika anak bermasalah di sekolah, ibunya yang salah. Ada kisah nyata yang menarik tentang pasutri terkemuka yang rumah tangganya berantakan karena suami menuntut istrinya, seorang penyanyi dan pencipta lagu terkenal, menjadi ibu rumah tangga saja.

Tak ada celanya menjadi ibu rumahtangga. Namun jika perempuan mampu berbuat lebih maka dia harus diberi kesempatan, selama apa yang dia lakukan tidak melanggar norma. Tiap orang, laki-laki atau perempuan, berhak untuk mengembangkan dirinya sepenuhnya. Waktunya yang kurang bagi anak-anaknya harus ditambal oleh suaminya. Suami dan istri harus saling membantu.

Bekerja sekaligus merawat anak menurut pergerakan perempuan disebut “beban ganda”. Jika suami tidak menolong istrinya merawat keluarga, memang ini akan menjadi beban ganda. Namun jika suami berpartisipasi dalam membesarkan anak, seperti suami saya, ini akan menjadi “nikmat ganda”.

Mampu bekerja dan menciptakan sesuatu, menjadi produktif dan berperan dalam pembangunan adalah kesenangan. Membesarkan anak agar bertanggungjawab dan kreatif bersama dengan suami adalah kenikmatan. Tentunya, dalam proses melakukan semua ini ada kurang dan lebihnya. Kita bisa frustasi dengan rekan kerja dan atasan kita. Anak-anak bisa membuat kita gila dan kadang-kadang menunjukkan bahwa kita bukanlah teladan bagi mereka.

Bagaimana kita bisa mengubah tabiat masyarakat terhadap perempuan agar perempuan berani memimpikan sesuatu yang lebih besar? Mari kita mulai dari rumah kita sendiri. Kita harus menunjukkan pada anak perempuan kita bahwa penting untuk memiliki ambisi dan menyiapkan karir agar bisa berperan di masyarakat. Untuk anak laki-laki, ayah perlu memberi contoh dengan membantu istrinya dalam karir mereka.

Teladan seperti ini perlu dilanjutkan di sekolah. Wanita perlu didukung untuk menjadi presiden di himpunan atau klub siswa. Di sinilah mereka pertama kali belajar mengenai kepemimpinan. Guru, ironisnya kebanyakan perempuan, perlu menekankan bahwa perempuan harus punya karir yang memuaskan. Ini membuat perempuan berkembang sepenuhnya dan lebih bahagia. Akhirnya, mereka menjadi ibu yang lebih baik dan warganegara yang produktif.

Perusahaan juga berperan dalam kesuksesan perempuan di tempat kerja dan di kehidupan rumahtangga. Perusahaan perlu memberi kesempatan karyawannya (pria dan wanita) agar memiliki kehidupan yang seimbang. Persyaratan untuk menyediakan ruang perawatan anak di kantor dan pabrik akan mengurangi ketidakhadiran karyawan yang memiliki bayi dan balita. Ketika pasar kerja semakin ketat seperti di negara maju, orang akan menuntut perawatan anak dan asuransi kesehatan untuk anak-anak mereka. Perusahaan-perusahaan di indonesia perlu bersiap memenuhi persyaratan ini.

Tenaga kerja wanita mampu membuat Indonesia lebih humanis, beretika, produktif, inovatif dan berorientasi pelanggan. Tidak hanya itu, perusahaan akan kehilangan manager yang lebih sering di rumah dengan tugas rutin dan mempunyai stamina yang kuat bila sewaktu-waktu perlu kerja lembur. Perempuan bisa bangun sepanjang malam merawat anak sakit dan tetap bekerja di kantor esok harinya.

Dunia sedang menunggu kita para wanita agar mulai bermimpi besar. Kita sudah menjalankan rumah tangga. Sekaranglah saatnya kita memperluas jangkauan kita. Kita bisa menjadi karyawan sukses di banyak bidang, bisnis, pemerintahan, politik, ilmu dan teknologi. Selamat Hari Keluarga!

Diterjemahkan dari women-can-take-it-all-husbands-must-help-out karya Carolyn Baytion-Sunaryo. Dimuat di The Jakarta Post tanggal 30 Juni 2011. Penulis adalah general manager Institut Bisnis Nusantara International Programs, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: