Negara Maju Banyak Anak

Kerja keras itu artinya perubahan sikap terhadap implementasi kebijakan dan terhadap generasi baru sehingga bangsa Indonesia menjadi lebih mampu dan tangguh yang akhirnya tumbuh dari penduduk yang besar, terdidik, terampil dan sehat.

Asia benar-benar berada di tengah-tengah perubahan sejarah. Jika pertumbuhan di Asia tetap pada jalurnya yang sekarang maka pada tahun 2050 separuh lebih Produk Domestik Bruto, perdagangan dan investasi akan berada di Asia.Asia akan menikmati  kemakmuran yang tersebar ke segala penjuru.

“Pendapatan per kapita dapat mencapai enam kali rata-rata global atau mirip dengan pendapatan Eropa sekarang…” (dokumen Bank Pembangunan Asia tahun 2050 – Menyadari Abad Kejayaan Asia).

Dokumen ini menggolongkan ekonomi Asia menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama terdiri dari tujuh Negara yang ekonominya meningkat pesat sejak tahun 50-an, terhindar dari “jebakan pendapatan-menengah” dan menjadi negara maju berpendapatan tinggi dalam satu generasi.

Kelompok kedua terdiri dari 11 negara, termasuk Indonesia, yang menunjukkan pertumbuhan konsisten sejak tahun 90-an dan telah mencapai status pendapatan-menengah, namun sekarang menghadapi resiko terjerembab ke dalam jebakan pendapatan-menengah. Kelompok terakhir terdiri dari 31 negara yang pertumbuhannya kecil.

Dokumen ini meramalkan dua skenario jalur pertumbuhan masa depan Asia, menunjukkan masa depan negara-negara ini : skenario Abad Kejayaan Asia atau jebakan pendapatan-menengah.

Pada skenario Abad Kejayaan Asia, PDB Asia diproyeksikan naik dari 16 triliun dollar AS pada tahun 2010 menjadi 148 triliun dollar AS pada tahun 2050, atau separuh dari PDB global, dengan pendapatan perkapita $ 38.600, sama dengan Eropa hari ini. Skenario ini meramalkan bahwa 11 negara berpendapatan-menengah akan tetap memelihara momentum selama 40 tahun ke depan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan ekonomi dan teknologi global dengan terus menerus menciptakan keunggulan komparatif.

Pada skenario jebakan pendapatan-menengah, dokumen ini meramalkan bahwa negara-negara ini akan terjerembab ke dalam jebakan pendapatan-menengah selama lima hingga 10 tahun ke depan lalu mengikuti pola Amerika Latin selama 30 tahun belakangan.

Dokumen ini mengingatkan bahwa proyeksi jangka-panjang Asia menuju 2050 tak dapat terhindar dari peluang  skenario “badai sempurna”, di mana gabungan antara kebijakan makro yang buruk, bermewah-mewah, longgarnya pengawasan sektor pembiayaan, konflik, bencana alam, faktor kependudukan dan pemerintahan yang lemah akan menyebabkan kemunduran dahsyat bagi pertumbuhan Asia. Dalam skenario terburuk – atau “kiamat” –, Asia akan terperosok sumur finansial jauh sebelum tahun 2050.

Jebakan pendapatan-menengah merujuk pada negara-negara yang pertumbuhannya macet dan tidak mampu naik lagi.

Banyak negara berpendapatan menengah terjebak dalam jebakan ini – yaitu mereka tidak mempu bersaing dengan negara-negara berpendapatan rendah dan berbiaya rendah dalam ekspor manufaktur dan tidak mampu bersaing dengan negara maju dalam produk berinovasi tinggi. Negara-negara ini tidak mampu beralih secara tepat waktu dari pertumbuhan berbasis sumber daya, dengan buruh murah dan modal rendah menuju pertumbuhan berbasis produktivitas.

Agar terhindar dari resiko di atas, Indonesia harus berangkat pada kebijakan yang memacu pertumbuhan ekonomi berkelanjutan secara jangka panjang yang lebih inklusif dan adil, mengurangi secara drastis pemakaian energi dan sumber daya alam,  memaksimalkan potensi kewirausahaan dan inovasi untuk membuat terobosan pada iptek dan memperbaiki tata kelola.

Apalagi, populasi raksasa Asia yaitu China dan India akan berubah. Pada tahun 2050, rasio populasi China akan lebih sedikit terhadap populasi global daripada sebelumnya.

Sementara itu India akan tetap tumbuh menjadi hampir 20% populasi dunia, sedangkan Indonesia akan berpenduduk 288 juta pada tahun 2050. Pada dekade-dekade mendatang, daftar negara berpenduduk terbanyak masih tetap didominasi oleh Asia.

Populasi Asia pada tahun 2050 menunjukkan kecenderungan yang meningkat tajam: 40 tahun dari sekarang, Asia akan berpenduduk hampir 5 milyar. Namun, pertumbuhan penduduk tua juga mengesankan: pada tahun 2050, hampir 860 juta penduduk Asia akan berusia 65 tahun ke atas.

Yang mengejutkan dari fenomena ini adalah relatif cepatnya proses penuaan di Asia pada semua level ekonomi.

Populasi yang makin cepat menua ini sungguh menguatirkan. Hal ini merupakan antitesis dengan status pendapatan-tinggi dan negara menjadi terlalu tua sebelum cukup kaya, sehingga terperangkap dalam siklus pendapatan-menengah.

Dokumen ADB secara jelas menyatakan bahwa pertumbuhan populasi bukan lagi “bom waktu” bagi ekonomi. Malahan, itu merupakan pendorong dan faktor kunci pertumbuhan ekonomi.

Namun, pemerintah Indonesia terus meyakini bahwa Indonesia masih perlu mengendalikan pertumbuhan penduduk melalui Dana Kependudukan PBB yang mensponsori kampanye “kesehatan reproduksi” yang menyasar para pemuda.

Kampanye itu juga berjanji membangkitkan lagi program KB melalui distribusi kondom dan alat kontrasepsi lainnya.

Pada seminar baru-baru ini di Jakarta yang disponsori oleh Dana Kependudukan PBB, Wakil Presiden Boediono malah menekankan bahwa pertumbuhan penduduk yang cepat merupakan perhatian utama pemerintah. Saya menyarankan Bapak Wakil Presiden seharusnya membaca dokumen Asia 2050 ADB dengan hati-hati.

Namun, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Armida Alisjahbana lebih optimis dengan pernyataannya di seminar baru-baru ini tentang “Asia 2050: Menyadari Abad Kejayaan Asia” yang diselenggarakan oleh ADB di Jakarta bahwa apa yang harus dilakukan Indonesia untuk mencapai tujuan ekonomi jangka panjang adalah bekerja keras pada isu-isu implementasi yang dijabarkan pada Rencana Induk.

Kerja keras itu artinya perubahan sikap terhadap implementasi kebijakan dan terhadap generasi baru sehingga bangsa Indonesia menjadi lebih mampu dan tangguh yang akhirnya tumbuh dari penduduk yang besar, terdidik, terampil dan sehat.

Korea Selatan yang terpilih sebagai model negara berpendapatan-menengah pada tahun 1970 yang berhasil lulus menjadi negara maju pada awal abad 21, merupakan pelajaran berharga bagi Indonesia. Salah satu indikator Korea Selatan sebagai negara maju adalah ekonomi terbesar no 13 di dunia karena PDBnya melebihi I triliun dollar pada tahun 2011.

Korea Selatan lolos dari jebakan pendapatan-menengah dengan menerapkan strategi jalur-ganda pada industrialisasi. Korea Selatan menekankan sama-sama pentingnya promosi ekspor dan pasar domestik yang besar.

Sejak dini dalam upaya mereka setelah bertahan dari Perang Korea, para pemimpinnya berfokus pada pembangunan pertanian dan daerah tertinggal. Sehingga mereka berhasil mengoptimalkan jumlah penduduk yang besar saat generasi “baby boom” setelah perang dunia kedua melalui strategi industrialissi berorientasi ekspor yang padat karya.

Mereka lolos dari perangkap pendapatan-menengah karena mampu bersaing dengan ekonomi buruh-murah dan laba-rendah pada ekspor manufaktur sembari menanamkan modal besar-besaran pada pendidikan tinggi dan litbang agar beralih menjadi negara industri teknologi tinggi.

Maka, tak ada alasan bagi pendukung neo-Malthusian untuk berkata bahwa dunia ini sudah terlalu hiruk-pikuk dan segera runtuh. Dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi, ekonomi Indonesia harus mampu menyadari sepenuhnya keuntungan demografinya dan karena itu lolos dari jebakan pendapatan-menengah akibat musim dingin demografi.

 Diterjemahkan dari Capitalizing demographic bonus to avoid middle-income trap karya Stefan S Handoyo yang dimuat di The Jakarta Post pada 28 Juli 2011. Beliau adalah seorang alumni ITS, CEO dan ekonom kepala di RAI Group dan seorang pakar tata-kelola perusahaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: