Filsafat Alam Al-Kindi (bagian 2)

Mungkinkah sebuah benda tanpa gerakan untuk mulai bergerak?

Al-Kindi tidak berhenti pada bukti-bukti di atas; dia pergi lebih jauh mengenai kesulitan-kesulitan mengenai benda dan gerakan. Dia berkata,” Kadang diasumsikan bahwa adalah mungkin sebuah benda di alam pada awalnya diam, mempunyai peluang untuk bergerak, dan lalu bergerak.”

Al-Kindi berpikir bahwa pendapat ini pasti keliru. Dia berpendapat jika sebuah benda di alam awalnya diam lalu bergerak, maka ada dua kemungkinan: (A) benda di alam diciptakan dari ketiadaan, atau (B) benda itu abadi,”

Al-Kindi menolak A, bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan, melalui delapan argument berikut:

  1. Jika alam semesta diciptakan dari ketiadaan, maka dia “menjadi,” mendahului gerakan.
  2. Namun, menurut premis no 4 pada penggolongan gerakan sebelumnya, penciptaan adalah salah satu jenis gerakan.
  3. Tetapi, menjadi sebuah benda bukanlah mendahului gerakan, sebab gerakan adalah esensi dari “menjadi” (menurut premis nomer 4 dan modifikasi premis nomer 3 di atas).
  4. Karena itu, penciptaan sebuah benda tak pernah mendahului gerakan.
  5. Namun, dikatakan bahwa alam semesta pada awalnya tanpa gerakan.
  6. Maka alam semesta menjadi tanpa gerakan dan alam semesta tidak menjadi tanpa gerakan, kedua hal ini adalah kontradiksi.
  7. Karena itu, tidaklah mungkin, jika sebuah benda diciptakan dari ketiadaan, maka benda itu mendahului gerakan.
  8. Karena itu, asumsi bahwa alam semesta diciptakan tanpa gerakan dan lalu mulai bergerak adalah kontradifktif dan sepenuhnya salah.

Al-Kindi menolak B, bahwa alam semesta ini abadi, diam dan lalu bergerak, dengan argumen-argumen berikut:

  1. Jika benda alam semesta ini abadi, diam dan lalu bergerak, maka benda alam semesta, yang abadi, akan bergerak dari diam nyata menuju gerak nyata.
  2. Namun, yang abadi itu selalu tidak bergerak.
  3. Karena itu, benda alam semesta ini sedang bergerak dan sedang tidak bergerak. Maka hal ini kontradiktif.
  4. Karena itu, tidaklah mungkin sebuah benda alam semesta bersifat abadi, nyata-nyata diam, lalu bergerak tak berhingga secara nyata.
  5. Karena itu gerakan ada di benda alam semesta, yang makanya tak pernah mendahului gerakan. Tidaklah mungkin alam semesta tanpa gerakan.

Al-Kindi lalu menyimpulkan dari argumen-argumen sebelumnya:

“Maka jika ada gerakan maka perlulah adanya benda, sedangkan jika ada benda maka perlulah adanya gerakan.”

“Telah diterangkan sebelumnya bahwa waktu tidaklah mendahului gerakan; dan juga tidak mendahului benda, karena tidaklah waktu ada selain melalui gerakan, dan karena tidaklah benda ada melainkan ada gerakan dan tidaklah ada gerakan melainkan ada benda. Dan juga tidaklah benda ada melainkan ada durasi, karena durasi ada di dalam keberadaan di mana benda itu ada; dan tidaklah ada durasi kecuali ada gerakan, karena benda selalu terjadi dengan gerakan, seperti dijelaskan sebelumnya. Gerakan benda menentukan durasi benda, yang selalu seiring dengan benda, sedang gerakan juga selalu seirng dengan benda. Karena itu benda, tak pernah mendahului waktu; dan maka sebuah benda, gerakan dan waktu tak pernah mendahului satu sama lain.”

Ketika pendapat Al-Kindi mengenai filsafat alam ditempatkan dalam lingkup sejarah, misalnya abad kesembilan, jelaslah bahwa dia menyajikan sebuah filsafat tingkat lanjut mengenai waktu, gerakan dan materi.

Alam semesta al-Kindi antara Aristoteles dan Quran

Mengapa Al-Kindi terlalu menekankan hubungan materi dan gerakan di dalam alam semesta yang berhingga? Kami dapat menyebutkan dua alasan:

  1. Konsep qurani. Quran menerangkan bahwa alam semesta yang segala sesuatu  berada di dalamnya selalu dalam keadaan bergerak: bumi, bulan, matahari, bintang, langit – alam semesta seluruhnya. Tuhan berfirman dalam al-quran:

Dan tanda-tanda bagi mereka adalah malam. Kami tanggalkan siang dari malam, dan menetapkan mereka dalam kegelapan. Dan matahari berjalan sesuai jalurnya selama beberapa waktu (yang ditentukan). Ini semua adalah ketetapan Yang Mahakuasa lagi Maha Mengetahui. Dan bulan, telah Kami tetapkan jalurnya sehingga kembalilah ia seperti tandan yang tua. Matahari tak mungkin mandahului bulan, tidak juga malam mendahului siang. mereka semuanya mengambang di tempat beredarnya. (QS Yasin : 37-40)

  1. Fisika Aristotelian berbentuk statis. Alam semesta Aristotelian berdasarkan prinsip utama fisika Aristoteles, yang menyatakan bahwa semuanya berada dalam kondisi statis, dan tidak bergerak hingga dipaksa bergerak oleh sesuatu yang lain atau perantara. Prinsip ini meninggalkan dua kesulitan yang membebani filsuf abad pertengahan.

Pertama, pada bidang fisika, prinsip ini berpengaruh negatif terhadap perkembangan fisika Abad Pertengahan. Ar-Razi mengritik prinsip ini sebagaimana kita lihat nanti.

Kedua, pada bidang metafisika, ini mengarah  ke perkenalan agen-agen yang tidak perlu (empatpuluh tujuh perantara, atau limapuluh lima perantara, seperti Aristoteles sebutkan dalam bukunya Metaphysics 1074a 5-15) dan entitas metafisika sebagai gaya pembantu untuk memulai gerakan pertama kalinya.

Al-Kindi mungkin berpikir bahwa konsep matematika Aristoteles mengenai ketakhinggaan bermasalah di metafisika dan mengarah kontradiksi-diri berkenaan dengan keabadian semesta. Dengan kata lain, Aristoteles mengatakan bahwa ketakhinggaan secara nyata adalah tidak mungkin  namun dunia nyata ini abadi (tak hingga). Jika Aristoteles tidak konsisten dalam filsafatnya, mengapa Al-Kindi begitu mengaguminya?

Kekaguman Al-Kindi mungkin berdasarkan hasil kerja logika Aristoteles, inilah yang diingatkan oleh al-Ghazali pada para filsuf dan orang-orang lain: kejelasan filsuf dalam logika tidak harus menjamin kebenaran pendapat mereka di bidang lain, khususnya metafisika.

Al-Kindi menolak keabadian waktu

Tidaklah mungkin waktu bersifat tak hingga secara nyata, tidak pada masa lalu, tidak juga masa depan. Al-Kindi menawarkan pendapat lain untuk menolak keabadian dunia berdasarkan konsep waktu, berikut ini:

Sebelum tiap bagian tempo pastilah ada bagian (lainnya), hingga kita mencapai bagian tempo di mana sebelumnya tidak ada bagian, misalnya satu bagian durasi di mana tidak ada bagian durasi sebelumnya. Ini tak bisa terjadi kecuali – jika ini memungkinkan, dan setelah tiap bagian waktu ada satu bagian lain, terus menerus, maka kita takkan dapat mencapai waktu yang ditentukan – durasi dari ketakhinggan masa lalu hingga waktu yang ditentukan sama dengan durasi dari waktu yang ditentukan mundur secara waktu ke ketakhinggaan; dan jika (durasi) dari ketakhinggaan ke waktu yang ditentukan diketahui, maka (durasi) dari waktu yang ditentukan ini ke ketakhinggaan temporal akan diketahui pula, lalu yang tak hingga menjadi hingga, dan ini adalah kontradiksi yang mustahil.

3 Tanggapan

  1. jdi tambah ilmu q

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: