Indonesia Rasa Syariah

“Selamat! Kalian telah selesai mengikuti penataran P4. Sekarang ikutilah Ospek di mana ada penataran P5 di dalamnya. Kalian tahu apa itu P5? P5 adalah singkatan Pembubaran P4”
ALAS PANIC PANCASILA!

INDONESIA RASA SYARIAH!

Pancasila, masih ingat? Itu adalah dasar negara kita, Republik Indonesia. Sejauh ini namanya masih Pancasila. Belum berembel-embel menjadi Pancasila Liberal ataupun Pancasila Syariatullah. Ikonnya menempel di lambang negara yang juga masih sama, Burung Garuda Pancasila. Isinya juga masih yang lima itu. Saya tulis saja di sini agar Anda tak susah-susah mengais ingatan lama:

Pancasila # 1

Di Satu Juni ini, dengan kacamata baru, saya mencoba kembali membaca falsafah bangsa itu. Merenunginya, saya tak pernah berhenti terpukau dengan kehebatan para pendiri bangsa dalam meramu dasar negara itu. Meski secara redaksional-pembahasaan ada beberapa celah kecil yang cukup layak untuk diedit, tapi secara filosofis, dasar ini lumayan masif.

Misal penulisan yang benar nama dasar negara itu “Pancasila” ataukah “Panca Sila”. Kemudian penyubyekan dan pemredikatan, kenapa mereka tidak mencoba konsisten dengan aturan yang sama? Pada sila pertama ditulis “Ketuhanan Yang Maha Esa”, subyek “Tuhan” dengan predikat “Maha Esa”. Pada sila ke dua ditulis “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, subyek “Manusia” dengan predikat “Adil dan Beradab”. Hukum “Subyek” yang “Predikat” tidak diteruskan ke sila ke tiga menjadi “Indonesia yang Bersatu”. Sila ke empat kembali menggunakan aturan itu, dan sila ke lima tidak.

Kemudian sila pertama adalah berupa sebuah pernyataan yang seolah muncul karena tak yakin. Di situ keesaan Tuhan harus ditegaskan dengan kata “Maha”. Tentu tak bermasalah secara bahasa atau redaksional apabila bukan kata “Esa” yang berarti tunggal atau satu, tetapi misalnya Agung, Adil, atau kata sifat yang lain yang tak mengarah ke jumlah. Pada sila ke empat, kita akan menemu kata “Permusyawaratan” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tidak ada lagi. Atau apabila mengetik “Musyawarat”, Anda akan diarahkan dengan pertanyaan “Musyawarah?”. Paragraf ini tak penting ya?

Saya juga merasa begitu. Yang lebih penting adalah bagaimana mewujudkan kelimanya di negeri ini, meski saya lebih merasa yakin itu tidak dan tidak akan pernah terwujud. Namun begitu, saya tak akan buru-buru melepas kacamata baca saya untuk merenungi Pancasila.

Pancasila # 2

Pancasila adalah tradisi pertentangan ideology masa kecil saya. Di mana ibu guru taman kanak-kanak (TK) melatih saya agar tak gagal melafalkan Pancasila di balai pertemuan kabupaten. Di saat bersamaan, sisa-sisa pelecehan Pancasila warisan kaum komunis masih nyaring kami nyanyikan. Dengarkan penggalan awal bait-bait lama yang mencuri nada Sudharnoto itu;

Garuda pencak silit…

Bapakku gak nduwe duwit…

Atau

Garuda kates gantung…

Pitikku gak wani tarung…

Dan sebagainya. Tapi memang ada satu baris keluputan nasional apolitis, yang mungkin juga Anda tandang. Adalah penggalalan lirik “Pribadi Bangsaku” yang kami lafalkan menjadi “Pribang-pribangsaku”. Di saat saya duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar (SD) di desa, saya mengoreksi ibu guru bahwa lirik “Akulah pendukungmu” itu salah. Saya ngeyel dan mengatakan yang betul “Aku lapendu kemu”. Kengeyelan saya ini mendapat dukungan kelas lantaran sebagai anak pindahan dari kota, intelektualitas saya terlegitimasi. Ibu guru mengalah karena saya anak kepala desa. Dan sejak hari itu, kebenaran sederhana ibu guru desa terpecundangi oleh legitimasi intelektualitas kota yang ter-back up label anak lurah.

Garuda Pancasila…

Aku lapendu kemu…

Yeaaah….

Di masa Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya dan beberapa teman sempat menjauhi segala atribut kenegaraan. Ogah menghormat bendera dan membaca Pancasila. Termasuk malas ikut baris-berbaris dan meledek teman sekolah yang bersaing menjadi pengibar bendera Agustusan. Bagi kami, mereka adalah penyembah berhala dan pengikut Toqut. Bapak curiga dengan perubahan sikap saya, dan tidak diijinkan lagi mengikuti pengajian di masjid dalam bimbingan Mas Udi, simpatisan Amir Biqi yang di kemudian hari dipengadilankan lantaran terlibat Peristiwa Tanjung Priok.

Sebagai gantinya, saya dipaksa ikut kegiatan kepramukaan Saka Bhayangkara. Doktrin cinta tanah air yang mengalir bersama kegiatannya lumayan menetralisasi semangat fundmentalisme Islam yang sempat ada. Tak lupa beliau yang ex-Brigade Mobil (Brimob) itu memupuk sikap bela negara kepada saya, sementara sebagai simpatisan ex-Partai Nasional Indonesia (PNI), bapak mentransfer ajaran – ajaran Sukarno. Dan tentu sebagai kepala desa, bapak juga sedikit banyak menularkan Wawasan Nusantara ala Orde Baru.

Noktah Nasionalisme yang melekat di seragam pramuka saya pelan-pelan terhapus tatkala banyak berdiskusi dengan para calon guru dari Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya yang melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Sekolah Menengah Atas (SMA) kami. Kembali saya menjadi penentang Pancasila dengan semangat yang berbeda dari sebelumnya. Pada 1985, undang-undang keormasan disahkan. Mereka harus memakai asas formal Pancasila dalam Anggaran Dasar dan Angaran Rumah Tangga (AD-ART)-nya. Yang menolak akan dibubarkan. Kemudian setempel ekstrim kanan atau komunis siap diterakan. Pancasila adalah asas tunggal tanpa tanding.

Masa perkuliahan diawali dengan ritual yang amat saya benci. Kewajiban bagi mahasiswa baru untuk mengikuti penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) pola pendukung 100 jam. Meprotes pemakalah, mempertanyakan siapa paling bertanggungjawab saat terjadi Gerakan Satu Oktober (Gestok), bercanda mengajak melantunkan “Genjer-genjer” saat simulasi, dan sebagainya membuat saya mendapat nilai “E” yang artinya tidak lulus.

Saya tak peduli. Saya hanya ingin menyayangi Pancasila dari pijakan kebebasan saya sendiri, yang tak berdasar ultra nasionalisme fasistik para penatar P4 itu. Satu-satunya statemen tentang Pancasila yang saya suka justru yang datang dari para senior saat Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

“Selamat! Kalian telah selesai mengikuti penataran P4. Sekarang ikutilah Ospek di mana ada penataran P5 di dalamnya. Kalian tahu apa itu P5? P5 adalah singkatan Pembubaran P4”

Pada tahun-tahun itu gerakan mahasiswa penentang fasisme Orde Baru menguat. Seiring dengan itu, Pancasila menjadi alat penggebug paling keras. Tak sedikit kawan yang mati Fisabilil-HAM karenanya, atau dibui lantaran mengkaji Marxisme. Lagu Garuda Pancasila kembali hadir versi parodinya;

Garuda Pancasila…

Aku tak mendukungmu…

Patriot kok nggak asyik…

Sialnya berkorban untukmu…

Pancasila dasarnya apa?

Rakyat adil makmurnya kapan?

Iba di bangsaku!

Mau maju malu,

Mau maju malu,

Kok nggak maju-maju!

(Marlin Dinamikanto, Pijar Indonesia)

Kemudian 1998 terjadi gerakan reformasi. Gojek alias humor seniman Gampingan saat ospek dulu itu ternyata ibarat doa. Bangsa Indonesia tak lagi menghadapi penataran P4, dan Pancasila tak lagi menjadi asas tunggal. Tahun 2007 gojek para seniman tersebut terancam gojek lain yang tak lucu. Tiga partai besar; Golongan Karya, PDI Perjuangan, dan Partai Demokrat mengusulkan Dasar Negara Pancasila kembali dijadikan sebagai asas tunggal. Namun acara berbalas gojek itu diakhiri dengan gojek paling tak lucu dari Forum Umat Islam (FUI) yang menolak keras pengasastunggalan Pancasila yang sungguh tak demokratis, sembari secara bersungguh-sungguh memenangkan Syariah Islam sebagai gantinya. Bahlul Minannas!

Pancasila # 3

Membaca Pancasila dengan kacamata baru berlensa positif membuat yang kemarin jauh dan buram menjadi lumayan jelas dan dekat. Hingga saya menemu ternyata ada setidaknya empat Penggali Pancasila.

Sukarno, Presiden Pertama Republik Indonesia. Tak dipungkiri, dia adalah representasi utama penggali Pancasila, meski secara tersirat dia mengatakan hanya salah satu dari para penggali lainnya.

“Jangan dikatakan saya ini pembentuk ajaran Pancasila, saya hanya seorang penggali daripada ajaran Pancasila itu”

(Sukarno, dalam pidato penerimaan gelar Doktor Honoris Causa Universitas Gajah Mada, 19 Desember 1951)

Soeharto, Presiden Ke dua Republik Indonesia. Dia adalah penguasa yang mempresentasikan dirinya sebagai Pancasila. Dia adalah personifikasi Pancasila. Siapa yang menentangnya dianggap juga sebagai anti Pancasila. Yang melawan akan dia gebug! Tabiat otoriternya ini berlawanan dengan prinsip kemanusiaan dan demokrasi yang ada di dalam Pancasila. Dengan kesantunan hipokrisi Jawa, Pancasila dimutilasi sekehendak hatinya. Soeharto Penggali Pancasila, dengan kata dasar “Penggal”.

Pemuda Pancasila (PP). Adalah Organisasi Masa Kepemudaan terbesar di era Orde Baru. Anggotanya banyak didominasi para residivis dan penganggur. Mereka dikumpulkan untuk dibina menjadi anak bangsa yang lebih berguna. Ketangguhan PP tak tertandingi karena Back-up penguasa. Atas nama Pancasila dan kekuatan masa, mereka menguasai relung bisnis elit hingga penguasaan lapak dan area parkiran. Kekerasan adalah modal utama dalam berbakti kepada negeri. Pengabdian yang mereka suka adalah mengusik para aktivis pro-demokrasi. Mereka layak dibabtis sebagai Penggali Pancasila dengan kata dasar “Gali” yang merupakan akronim dari Gabungan Anak Liar.

Front Pembela Islam (FPI). Adalah milisia berbasis agama di era reformasi. Organisasi ini representasi utama penganut teror dan kekerasan berkedok Islam, atau kesukuan yang lekat dengan keagamaan. Mereka tak peduli citra buruk, sejauh Islam dianggap terancam, perempuan dan anak pun tak luput dari gempurannya. Peristiwa Monas adalah salah satu contoh kebrutalan mereka. Komando Laskar Islam (KLI) sebagai sayap militer dari FPI yang sudah militeristik ini menyerang Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) tanpa ampun saat aksi damai kebhinnekaan. FPI sebagaimana organisasi garis kekerasan Islam lain, sangat menginginkan tegaknya syariah di Indonesia. Untuk itu mereka layak ditasbih sebagai Penggali Pancasila sebagaimana Sukarno menggali, namun arah yang berbalik. Sukarno menggali untuk menemu saripati Pancasila dari leluhur Pertiwi, sedang FPI menggali untuk mengubur Pancasila.

Pancasila # 4

“Alas! Panic Pancasila”. Saya berseru sedih, dan nanar membaca lagi Pancasila. Para pendiri yang hebat itu kebangetan juga mewariskan sesuatu yang terlalu besar bagi generasi kerdil Indonesia. Seperti halnya saya.
Bangsa ini seperti bayi yang keberatan nama. Bayi yang gugup dan bingung. Panik karena kehilangan iduknya.

Selamatkan Pancasila dengan cara Anda, kalau mau.

Oleh: Hadi Joban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: