Valentine for Palestine

Gambar

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan Valentine Day”.

Kekejaman itu harus segera diakhiri, bukan hanya dengan menyurutkan polemiknya yang kemaren begitu meriah-mengeuforia. Kasih sayang sudah semestinya diberi kesempatan. Untuk yang hobi sengketa senjata sia-sia sampailah masa saling tahu gencat selamanya. Para perebut benar atas nama agama harus sadar tiba saat merunut-kaji ulang ajaran bapaknya; Ibrahim. Bagi yang suka berwacana politik tanpa guna layak mengerti waktunya berdiam. Termasuk menyoal Hari Valentine yang saya ambil ruhnya menjadi doa untuk Rakyat Palesina ini. Beri rasa kemanusiaan ruang dan kesempatan.

FALSTINA n BEKICOT!

Ada yang sumbang di banyak sumbu bumi. Tidak stabil di beberapa patoknya. Sering bergesek, berbenturan, dan mengapi. Poros bumi itu salah satunya adalah Palestina. Saya memang tidak sedang bicara Acheh, gempa Papua, atau gemeretak lempeng bumi di Sulawesi Utara. Geliat lempeng yang kehendak alam itu, saya maklumi. Bencana yang bisa saya mengerti. Tapi Palestina bukanlah kehendak alam. Sumbu itu digoyang manusia. Manusia? Tentu bukan manusia yang dengan tega menjebol perut para balita dengan tank Merkava atau apapunlah senjatanya. Yang demi kepentingan murahan rela memorak kemanusiaan itu sendiri.

Irama nan sumbang, fals. Kita yang mendengar hanya tidak merasa nyaman, tapi bagi yang berada di episentrumnya itu bermakna kematian. Tapi bagi yang berkelebihan rasa peduli, merasa perlu ke sana. Para relawan Eropa dan Amerika bertandang menjadi barisan human shield atas nama kemanusiaan, para Mujahid datang membela saudara seagama atas nama ketuhanan. Atau kalau mau kita cukup kirim donasi, minimal doa.

Irama sumbang sesungguhnya juga dialunkan oleh media. Tentu mahfum bahwa perang modern tak cuma main adu senjata, tapi juga propaganda. Masing-masing pihak melansir berita kebenaran versi sang kawan. Mengklaim kemenangan di lapangan. Tanpa lupa menayangkan esai foto paling memedihkan. Saya sering merasa, media tak selamanya bergerak sebagaimana galib fitrahnya mengayuh laju peradaban, tapi juga memperlambat langkah manusia dalam menapak perdamaian. Dan sengketa Gaza selalu pantas menjadi contoh nyata. Tapak menuju damai bukanlah selaksa lari kuda tapi seret bekicot yang ada.

PALESTAINMENT n BOYCOTT!

Yang menyesakkan justru Palestina menjadi sebentuk infotainment tersendiri. Sebanyak korban berjatuhan, sebanyak itulah oplah digandakan. Sedahsyat apa ledakan bom, sekerap itu pula gambar-gambar kengerian ditayangkan. Duka berbanding lurus dengan oplah dan prime time. Dan tentu berbanding lurus pula dengan kemarahan yang berimbas kepada sentiment keseimanan.

Palestainment bahkan juga berdampak suci bagi korporasi yang kelakuan sehari-harinya biasa menistakan peadaban dan kemanusiaan. Secepat naluri bisnis mereka, citra perusahaan menemui momentum pembasuh dosa-dosa. Spanduk besar terpampang di sebuah stasiun pompa bahan-bakar: “Ayo sisihkan sebagian rizki kita untuk Palestina”. Di sebuah mal: “Peduli Palestina”. Dan sebagainya.

Ah, kemudian musim boikot tiba. Beberapa situs bahkan memberi daftar produk apa saja yang layak diboikot. Tentu produk keluaran negara atau korporasi yang dianggap bertanggung jawab kepada Palestina. Tak lupa disertakan seberapa level kelaikboikotannya. Tingkatan itu adalah; 1) Produk keluaran Negara Israel. 2) Produk buatan negara lain, tapi milik orang atau korporasi Yahudi. 3) Produk bukan keluaran Israel ataupun bukan milik korporasi orang yahudi, tetapi bekerjasama dengan mereka. 4) Bukan produk dari Israel atau orang Yahudi, tetapi mendapat penghargaan dari sebuah lembaga dagang Israel. 5) Bukan produk Israel, bukan milik Yahudi, tak pula mendapat penghargaan, tapi mendedikasikan sebagian hasilnya untuk kepentingan Israel. 6) Produk yang ditengarai mengandung kadar keisraelan atau keyahudian di dalamnya. Dan seterusnya.

Saya tidak tahu, sebarapa lama para pelaku puasa produk durjana itu bertahan, atau kapan musim boikot itu berakhir. Apakah segera berbuka lantaran sulit mendeteksi barangnya apa dan yang mana, ataukah usai seiring pemberitaan konflik Gaza yang mulai reda? Ataukah lantaran tak kuat menahan kesepian hidup di dunia yang sesak terisi barang-barang dan jasa karya musuhnya? Semoga mereka bisa bertahan. Dan saya bahkan akan memberi semangat para pelaku puasa itu untuk lebih ketat menjalankannya dengan mengingatkan, “Bukankah yang banyaknya haram, sedikitnya juga haram?”. Tentu upaya untuk mengafdolkan pemboikotan itu juga harus diakomodasi oleh para penyaji info dengan semakin mempertajam produk laik boikot. Berangkat dari hadis tersebut, maka setiap produk yang kelak akan dikonsumsi umat harus benar-benar suci dari kandungan Yahudi. Bahkan kalau perlu terbebas dari campur tangan yang tangannya kotor saat pendistribusiannya pun. Bukankah tak cuma produsen dan penjualnya yang kotor? Pengantar, pembeli, yang disuruh beli, dan semua yang berkontribusi dalam kerjasama dosa itu tentu juga ikutan kotor? Nah, daftar itu harus lebih teliti dan sahih. Hanya pesan saya, jangan lansir daftar tersebut lewat Facebook, pun teknologi informasi lainnya. Bedug dan kentongan mungkin alat komunikasi yang paling bebas aroma Yahudi.

Palestinaku yang pucat, percayalah aku menyayangimu meski tak turut arus itu. Tulisan ini adalah bentuk kasihku kepadamu. Memang tek seheroik rasa pedang, tapi kuharap kau tahu itu.

Selamat Hari Valentine bagi yang merayakannya, selamatkan Palestina dari durjana.

Oleh: Hadi Joban

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=2557832763988&set=a.1190547662715.22662.1799098554&type=1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: