Batasi Senjata Api !

Tragedy

Aksi penembakan brutal terjadi di SD Sandy Hook, Newtown, Connecticut, AS, pada Jumat (14/12) waktu setempat. Penembakan ini menewaskan total 28 orang (sebelumnya disebut 27 orang), terdiri atas 20 anak-anak dan 7 orang dewasa termasuk pelaku, ditambah ibunda pelaku. Pelaku penembakan bernama Adam Lanza. Pelaku yang masih berusia 20 tahun masuk ke dalam ruang kelas dan melepas tembakan secara membabi buta, kemudian bunuh diri. Sebelum pergi ke SD Sandy Hook, Adam menembak mati ibunya sendiri di rumah mereka. (Sumber: Detik.com)

Hikmah utama teknologi adalah bermanfaat bagi kita, bukan melawan kita. Hikmah utama manusia yang bertanggungjawab dan berakal adalah menghadapi kegagalan-kegagalan, bukan bersembunyi darinya. Hikmah-hikmah ini tampaknya sulit dibantah.

Jadi, mengapa kita tidak diijinkan berbicara tentang senjata-api sebagai alat perusak pada hari-hari ketika senjata-api benar-benar merusak?

Ada suara-suara dari pendukung senjata api. Mereka meminta agar tragedi Connecticut di atas tidak dipolitisir. Mereka berkata hari ini bukan saatnya bicara soal pembatasan senjata api. Mereka berkata itu terlalu buru-buru. Mereka salah.

here’s a tip before you politicize a tragedy: do some reading about gun control. specifically in Israel and Switzerland. you sound ignorant. — hot and bravoed (@hotandbravoed) December 14, 2012

Senjata api adalah teknologi. Sejak era Industri, ketika teknologi sungguh membahayakan, segera dibuat aturan agar bahaya itu tidak terjadi lagi. Ketika wabah meningitis melanda AS pada Oktober lalu, kita tidak menunggu hingga orang-orang tewas untuk mengenali senyawa organik yang menyebabkannya. Ketika bug piranti lunak melanda ratusan mobil Toyota, tak ada yang berteriak politisasi ketika diumumkan penarikan mobil-mobil itu. Kita memperbaikinya. Ketika Challenger meledak, kita tidak membuang waktu untuk mencari tahu apa yang salah.

Tetapi senjata api tidak membunuh orang, orangnya sendiri yang membunuh orang lain. Memang. Dengan logika ini, mobil memang tidak membunuh orang. Tetapi tetap ada batas kecepatan. Kita harus memakai sabuk pengaman. Kita harus lulus uji mengemudi. Dan, pada sebagian besar negeri ini, mendapat SIM jauh lebih sulit daripada ijin senjata api.

Jangan lupakan juga orang yang mengingatkan agar berhati-hati saat berbicara soal senjata api namun sekaligus menghantui kita dengan peristiwa 9/11:

I don’t want to politicize the tragedy that has occured, however, you can NOT blame guns. After 9/11, we didn’t blame airplanes. — Gino DiDomenico (@DiDomenicoGino) December 14, 2012.

Kita memang tidak menyalahkan pesawat terbang, tidak. Namun tahukah anda apa yang kita lakukan pada hari pertama saat peristiwa 9/11? Mendaratkan semua pesawat hingga kita tahu bagaimana membuat pesawat yang lebih aman. Lalu kita mencari tahu bagaimana memastikan orang yang salah tidak menumpangnya.

Bukan seperti pesawat dan mobil, senjata api adalah alat yang dirancang untuk membantu anda melukai sesuatu (idealnya rusa atau perampok, namun nyatanya apapun bisa anda todong). Senjata api dibuat dengan tujuan untuk melukai. Makanya, haruskah kita mengijinkannya? Mengapa kita harus bersikap toleran terhadap jenis teknologi ini saat kita bersikap tegas terhadap lainnya?

Satu-satunya jawaban menurut saya adalah tragedi senjata api ini jauh lebih buruk dari sekedar tragedi. Dan memang seharusnya demikian. Dan inilah saatnya kita menyadari bahwa kita tidak bisa menunda-nunda lagi. Tidak saat ini atau kapanpun.

Diterjemahkan dari Of Course Today Is the Day to Talk About Gun Control, karangan Brian Barrett, dimuat di Gizmodo, 15 Desember 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: