Kemenangan Rahmatan Lil Alamin dalam Tragedi PKS

Jadilah lembaga ini penebar “rahmatan lil alamin” berupa penegakan keadilan yang tanpa pandang bulu, termasuk terhadap oknum yang berbulu “bersih dan peduli.”

Syukurlah fase pengingkaran (denial) PKS mereda. Penahanan atas Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) dan dugaan perkelompotan dalam suap sudah mulai disikapi lebih tenang. Anis Matta, presiden PKS pengganti LHI, menyatakan,”Dan kami tak mau menyalahkan siapa-siapa atas kejadian saat ini.” (Jawa Pos, kemarin, 4/2).

Melihat kelemahan diri akan bisa menjadi anjak untuk pembenahan. Dan, ini lebih bernalar daripada, misalnya, menuduh ehmZionis. Teori konspirasi  terlihat memuaskan karena melemparkan kesalahan ke pihak lain yang superlicik. Tapi, itu sekaligus pengakuan atas ketidakdisiplinan diri untuk menangkalnya.

PKS masih bisa menunjukkan jati diri dalam tragedi ini. Setelah tak menyalahkan siapa-siapa, kembalikan warna kejujuran. Doronglah si tersangka bisa berbicara sejujur-jujurnya, jangan memperpanjang dusta. Kalau ada kader lain yang terlibat, apa boleh buat, harus direlakan.

Selama ini kita sering dijengkelkan atas proses korupsi yang diwarnai banyak cingcong dan kebohongan, termasuk  saat di bawah sumpah. Perlu ditunjukkan, bila kader PKS yang diadili, peradilannya akan berjalan sesuai fakta, tak ada dusta. Bukankah PKS masih ingin “bersih” dan “peduli” pada penegakan keadilan?

Bagaimanapun, pengungkapan kasus ini adalah kemenangan “rahmatan lil alamin” yang luar biasa. Empat Pimpinan KPK, yakni Abraham Samad (AS), Bambang Widjojanto (BW), Busyro Muqoddas (BM), dan Adnan Pandu Praja (APP), dikenal religius dan penuh integritas. Kepribadian mereka simetris dengan platform PKS. AS membangun reputasi sebagai pengacara yang gigih, bahkan pernah bakal jadi caleg PKS. BW juga hebat dalam pembelaan kepada rakyat dan rutin salat berjamaah di lingkungannya. BM juga tak kalah religius dan berintegritas, lurus seperti penggaris. Bahkan, dia menulis disertasi tentang kepedihan para aktivis muslim yang jadi korban rekayasa intelejen jaman Orba. AAP dikenal sebagai lulusan Pondok Pesantren Gontor sepert halnya LHI dan simbol integritas PKS, Hidayat Nur Wahid. (Sedangkan pimpinan KPK Zulkarnaen, yang kalem dan tak menonjolkan diri, jelas lolos seleksi  integritas ).

Boleh dikatakan, profil para pimpinan KPK itu sejalan dengan program PKS yang ingin membuat Indonesia lebih bersih, adil dan sejahtera. Apalagi, secara pribadi, mereka juga taat beribadah, seperti kebanyakan orang PKS. Sungguh ujian berat ketika ternyata harus menindak orang yang secara psikologis bisa jadi “dekat” dengan diri sendiri. Alhamdulillah, KPK lolos ujian itu. Jadilah lembaga ini penebar “rahmatan lil alamin” berupa penegakan keadilan yang tanpa pandang bulu, termasuk terhadap oknum yang berbulu “bersih dan peduli.”

Kelak kisah ini bisa abadi dalam khazanah kisah teladan kepada anak cucu. Seperti kisah Khalifah Umar bin Khattab yang tegas bila bicara keadilan, tak segan memberikan sanksi kepada gubernurnya yang korup atau mengabaikan hak rakyat (sekalipun rakyat itu perempuan Yahudi). Bisa juga mirip kisah ketegasan Umar bin Adul Aziz yang menolak mengorup fasilitas negara dan memilih mematikan lampu kesultanan ketika bertemu putranya.

Ujian terbesar kecintaan pada keadilan adalah saat mengenai diri sendiri atau orang dekat.

Sumber: Kolom Jati Diri, Jawa Pos, 5 Februari 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: