Anu dan Gituan

Kamu pernah “Gituan” nggak?

Saya bingung, kenapa kalo kita ngomong kata “Gituan” yang terbayang pasti “Gituan”? 😊😀

Padahal “Gituan” itu apa sih?

“Gituan” kan bukan kata yang bersalah, kenapa gak boleh diucapin?

Untuk menjaga nama baik kata “Gituan”, coba kalo kita sepakati bahwa kata “Gituan” itu artinya “Makan”.

Jadi kan gini…

“Aduh perut saya sakit nih! Hari ini saya belum gituan…”

“Biar enggak lemes, sebaiknya kita gituan 3 kali sehari!”

Ingat ya, “Gituan” itu artinya “Makan”!

Atau misalnya mau ngajak pasangan / pacarnya “Makan”.

“Sayang, entar malem kita ‘gituan’ yuk!
Aku tahu tempat paling enak buat ‘gituan’.
Di kafe itu banyak orang pada ‘gituan’ di sana. Lagian harganya murah.
Paling kalo kita ‘gituan’ 2 kali, bayarnya gak sampe 100 ribu”

Jadi mulai sekarang kata “Gituan”
itu artinya “Makan”.

Betapa indahnya selalu berpikir positif. Ya nggak? 😁

*****

Satu lagi kata yang nggak bersalah yaitu kata “Anu”.

Sebenarnya “Anu” itu apa sih? Kenapa kalo saya ngomong
“Anu”, yang kebayang pasti “Anu”?
😜

Apa itu “Anu”?

Untuk menjaga nama baik kata “Anu”,
mari kita sepakati bahwa kata “Anu” itu artinya “Kepala”.

Jadi kan orang bisa ngomong gini…

“Wah ‘Anu’ kamu gede banget sih!” 😊😀😄

“Kemarin katanya ‘Anu’ kamu kejedot pintu ya?
Coba sini aku periksa ‘Anu’-nya!”

😊😊😀

Ingat ya, “Anu” itu artinya “Kepala”.

“Nanti kalau kamu naik motor, ‘Anu’ kamu pake helm ya!”

“Hei bro! Kok ada ketombe sih di ‘Anu’ kamu?”

“Sayang… Boleh gak aku elus ‘Anu’ kamu?”

Tanamkan dalam pikiran kamu bahwa kata “Anu” dan “Gituan” bukanlah kata yang jorok! ☺

Indahnya selalu berpikir positif….
😎😀👍

Selamat Gituan ya teman, biar Anu-nya gak nyut-nyutan…

🤣🤣🤣🤣🤣
Indahnya Berbagi
😀

Sumber: Grup WhatsApp

Iklan

Belajar dari Banyuwangi

Ada satu kelompok orang miskin yang tidak mungkin dientas. Mereka janda. Atau duda. Sudah tua. Tidak punya keluarga. Rumah juga tiada.

Diberi modal pun tiada guna. Apalagi diberi penataran.

Perkiraan saya jumlahnya 5 juta. Di seluruh Indonesia.

Bagi kelompok ini, yang penting adalah jaminan bisa makan. Setidaknya dua kali sehari. Kalau sakit bisa berobat. Gratis. Punya baju meski tidak baru. Punya selimut. Atau sarung yang multi guna.

Tapi yang terpenting sebenarnya keperluan jenis ini: teman bicara. Teman ngobrol. Teman curhat.

Inilah sebenarnya tujuan panti jompo. Agar punya banyak teman sebaya. Tapi dari namanya saja sudah begitu menghina. Siapa yang mau terhina tinggal di sana.

Di Banyuwangi saya melihat contoh ideal. Saat saya ke sana. Sabtu-Minggu kemarin. Bupati Banyuwangi Azwar Anas sudah punya datanya: 2.000 sekian. Lengkap dengan nama dan alamatnya.

Anas juga punya solusi: kirim makanan dua kali sehari. Tiap kali satu rantang berisi tiga.

Dia tahu birokrasi tak akan mungkin menanganinya. Maka dia tunjuk warung-warung terdekat.

Misalnya warung bu Fatimah. Saat saya ke warung itu rantang sedang dipersiapkan. Ada warna merah dan hijau. Untuk pengiriman sore.

Untuk makan malam. Bu Fatimah punya dua ‘loper’. Yang mengantar rantang itu. Sekaligus mengambil rantang kosong.

Setiap bulan Bu Fatimah menerima pembayaran dari Pemda. Serantang Rp 18.000. Juga bertanggungjawab atas mutu makanan.

Sore itu saya kunjungi Bu Tampani. Seorang janda. Umur 80 tahun. Punya tiga anak. Tapi semua meninggal sebelum umur dua tahun.

Suaminya, seorang nelayan, juga sudah meninggal. Lebih dari 40 tahun lalu.

Tapi fisik Bu Tampani cukup baik. Pendengarnya masih ok. Ingatannya masih segar. Bicaranya masih jelas. Tidak pikun. Tidak tremor.

Dialah salah satu penerima rantang itu. Kebetulan tetangga-tetangganya masih sering mengajak dia ngobrol.

Saya yakin ada Pemda lain yang memiliki program seperti Banyuwangi. Hanya saja saya tidak tahu.

Tapi Pemda yang melakukannya seperti tidak mendapat nama. Seolah kurang berhasil dalam menangani kemiskinan.

Meski telah tertangani, tetap saja mereka masuk kelompok miskin. Mereka tidak menjadi faktor pengurang angka kemiskinan.

Mungkin ada baiknya dilakukan begini: mereka yang sudah tertangani dari kelompok ini dikeluarkan dari angka kemiskinan. Bikinkan kategori khusus.

Mereka memang tidak mungkin dientas. Dalam pengertian dibuat kaya. Yang penting kebutuhan mereka terpenuhi.

Banyuwangi memang punya ribuan terobosan. Salah satunya pembentukan ‘smart kampung’. Anas melakukan revolusi digital mulai dari kampung.

Inilah kabupaten yang majunya sangat nyata. Dulu Banyuwangi sulit maju karena jauh dari mana-mana.

Anas bangun bandara. Kini sudah ada penerbangan langsung Jakarta-Banyuwangi. Tiga kali sehari. Juga dari Surabaya. Tak lama lagi dari Singapura dan Kualalumpur.

Banyuwangi yang bisa berbuat begini. Ekonominya tumbuh 6,7 persen. Angka yang sulit dicapai nasional. Bupati memang juga harus pabrik ide. Dan CEO yang handal.

Bahkan hal sepele pun dia perhatikan. Misalnya omongan yang bersifat tahayul. Tapi meluas. Menjadi kepercayaan umum. Merusak mental. Maklum Banyuwangi juga dikenal sebagai ibukota santet nasional. Dulu. Tidak pernah damai. Kisruh terus. Demo terus.

Masyarakat sudah sampai tingkat percaya Banyuwangi sulit maju. Kantor bupatinya saja menghadap makam besar. Taman makam pahlawan. Di halaman makam itu ada patung pedang dan tombak. Itu yang membuat kabupaten berdarah-darah.

Tentu Anas tidak percaya yang begituan. Tapi meluasnya kepercayaan seperti itu harus dibasmi. Bukan dengan khotbah atau kecaman. Tapi tindakan.

Patung senjata itu dia bongkar. Halaman makam itu dia mundurkan. Menjadi luas. Lalu dia hutankan. Dengan pohon sawit. Rapat. Rindang. Dia buat plaza di bawahnya. Dia pasangi wifi.

Kini makam itu tidak terlihat dari luar. Yang tampak adalah hutan sawit yang rimbun dan indah. Anak-anak muda berwifi ria di naungannya.

Belum cukup. Dua kanon meriam dia pasang di depan kantor kabupaten. Meriam besar. Menghadap makam. Senjata yang lebih besar untuk menangkis pedang dan tombak yang sudah tidak ada.

Sudah tujuh tahun tidak ada demo di Banyuwangi.

Bukan karena makamnya sudah ditutup hutan sawit. Tapi Anas membuat masyarakat sibuk berkarya.

Lebih 150 festival dia buat setiap tahun. Mulai dari tari ‘gandrung seribu’ sampai lari ke gunung Ijen.

Aneh sekali kalau kawasan Toba tidak bisa bangkit seperti Banyuwangi. Bandara Silangit harus bisa jadi bandara Banyuwangi. Tapi memang. Memang. Harus ada Azwar Anas di sana.

Itu pula yang membuat saya menyarankan pada bupati Sambas, Kalbar, H Atbah Romin Suhaili LC.

Saat beliau ke rumah saya. Mencari cara membangun Sambas. Yang begitu jauh. Yang bertetangga dengan Serawak.

Bangunlah bandara. Manfaatkan nilai jual tetangga: kota Singkawang.

Bekerjasamalah dengan walikota Singkawang. Jangan bersaing. Apalagi bertengkar. Hanya demi gengsi.

Begitu banyak orang ingin ke Singkawang. Apalagi saat Cap Go Meh. Atau Imlek. Atau ceng beng. Terlalu tersiksa untuk ke Singkawang. Harus lewat Pontianak.

Banyuwangi literatur hidup untuk semua itu.

Oleh: Dahlan Iskan

Sumber: http://www.jpnn.com/amp/news/belajar-dari-banyuwangi

Ngatiyem In Greece

Ngatiyem, TKW asal Klaten Jawa tengah yang bekerja di YUNANI menyaksikan kecelakaan beruntun di jalan raya tak jauh dari tempatnya bekerja.

Karena jiwa penolongnya yang begitu tinggi, dia segera menelpon 911 untuk meminta bantuan..

Ketika Petugas bertanya: “Good morning Mam, may I help you?”

Ngatiyem baru tersadar akan kemampuan Bahasa Inggrisnya yang sangat terbatas.
Tapi, karena sudah kepalang tanggung, dia pun nekat melanjutkan pembicaraan.

“Begini officer. There was an accident,… One car come, one car go. The third car nabrak, lha njur, everything ya broken. One car bablas no stop. One, two, three four cars, bum! bum! buuum! You know?! And then, mak grobiiiyyyaaak duwerrr!¬¬¬¬ Yes, like that. Like the rolling stones gumlundhung from the mountain…kros¬ak.. krosak.. krosak.. ! Gabrus, gabrus, gabrus!!”

Ngatiyem mengambil nafas lalu melanjutkan laporan pandangan matanya :

“Wah, one more car ngguling ping pirang-pirang. The sound like mirror-mirror on the wall dibandhem watu. Mak Krompyaaang!!!
One people game over, one man bloody-bloody, one woman cry – cry so loudly!”

Ngatiyem pun menutup laporannya : “Bingung aku! Wis ngene ae, officer. Send me nguing nguing car quickly yoooo!!!

Sumber: Grup WhatsApp

Cara Menangkap M Nazaruddin

Muhammad Nazaruddin (MN), mantan bendahara Partai Demokrat ini sudah membuat gempar untuk beberapa hari terakhir. Pasalnya dia melarikan diri ke persembunyiannya yang cukup susah untuk dicari. Begitu menurut berita yang beredar.

Terlepas dari adanya muatan politik, permainan di bagian pihak berwajib ataupun hal lain, pencarian dia tidaklah susah. Tentunya menggunakan metode ilmiah yang sudah sering terbukti dan melibatkan beberapa pihak yang mempunya kompeten.

Lalu bagaimana dengan uang 150jt rupiah yang ditawarkan jika menemukannya? Bisa jadi juga hanya permainan saja. Artinya imbalan itu diberikan karena MN bisa jadi dilindungi sehingga tidak ada yang bisa menemukan.

Pengumuman adanya imbalan seolah-olah pemerintah mau menunjukkan keseriusannya.

Masih ingat penerbang yang dikirim ke Israel untuk belajar menerbangkan pesawat Skyhawk dalam Operasi Alpha tahun 1979? Semuanya tidak lepas dari ilmu intelijen.

Menyibak misteri intelijen adalah sesuatu yang menarik bagi saya. Karena jika kita mengetahui apa yang ada didalamnya dan bisa menguak teka-teki maka akan mendapatkan kepuasan tersendiri.

Dari beberapa kali MN mengirimkan BBM, menelpon ke stasiun televisi swasta dan yang terakhir justru menunjukkan wajahnya menggunakan video call.S

Sebagai seorang buronan kepolisian Indonesia dan Interpol, menurut pendapat pribadi , si MN sangat luar biasa dan terlalu berani.

Kenapa? Bisa saya jelaskan sebagai berikut, penjelasan ini tidak terlalu detail, mengingat pembaca tidak semuanya orang baik, ada juga penjahat dan buronan:


1. Metode 1: Menggunakan Skype

MN saat diwawancara oleh Iwan Piliang, dia menggunakan jalur komunikasi Audio-Visual skype. Untuk bisa melihat MN tersambung ke IP mana, maka kita harus melihat setting connection di skype Iwan. Dari seting ini akan dilihat pada Event Computer, Port-nya tersambung kemana, Skype bisa menggunakan Port 8080, 443 atau bahkan punya saya tersambung ke 26665.

2. Metode 2: Menggunakan Telepon

Metode ini menggunakan data MNC, MNN, LAC dan CID. Caranya adalah menentukan posisi pengguna telepon seluler berdasarkan BTS yang tersambung dengannya. LAC dan CID mempunyai “age” sehingga masih cukup valid atau tidak informasi yang diberikan.

Hal yang pertama dilakukan adalah mengetahui nomer HP TO, lalu mendefinisikan sebagai operator tertentu dan mendeteksi posisinya.

Dengan metode ini, kita harus bekerjasama dengan pihak Operator dimana telepon seluler yang dituju tersambung.

3. Metode 3: Menggunakan BBM
Metode ini yang paling sulit, sulit karena melibatkan beberapa pihak yang kemungkinan tidak bisa mengeluarkan datanya. Pihak Operator dan pihak RIM.

Hal yang pertama dikerjakan adalah mengetahui PIN dari TO, lalu meminta RIM untuk melihat database CDR bahwa PIN tersebut telah/pernah tersambung ke nomer HP berapa. Lalu metode 2 diatas bisa dipakai.

Metode ini susah karena RIM tidak mau memberikan data-data kustomernya ke pihak lain.

4. Metode 4: Menggunakan IMEI
Metode ini ada banyak cara, diantaranya karena IMEI tersambung informasinya dengan PIN Blackberry. IMEI juga tersambung dengan LAC, CID (Cell ID), MNC, MCC, IMSI, dll.
Jadi metode 3 dan 2 juga bisa digunakan berasarkan IMEI.

Emang IMEI ada hubungannya dengan PIN BBM? Ada, cloning pin itu termasuk formulasi antara IMEI dengan PIN. Lalu bagaimana caranya? Cara selanjutnya tidak perlu diterangkan.

Dari beberapa metode diatas hanya berupa dasar, lebih terperinci selanjutnya tidak diterangkan lagi, tetapi jika ada pihak yang berwenang dan menginginkan saya membantu silahkan menghubungi.

Tolong pendapat dan analisa ini tidak ditiru, terutama yang tidak punya keahlian tetapi sering muncul ke televisi hanya untuk sekedar menguap.

By: Gunaris*

Sumber: https://www.kompasiana.com/gunaris/metode-pencarian-nazaruddin_55017e30a333117f73513480#


* Penulis adalah Reverse Engineering Expert, Computer Forensic Analyst, Intelligent Tool and Method Expert.
Lulusan Teknik Elektro ITS
Staf Pengajar Sandi Yudha Pusdikpassus dan Staf Pengajar Pusdik Polri

PENDIDIKAN YANG MENUMBUHKAN

Berikut ini adalah catatan ringkas dari sambutan Bapak Anies Rasyid Baswedan, mantan menteri pendidikan yang sekarang menjabat sebagai gubernur Jakarta ketika membuka acara Education Expo ASESI (Asosiasi Sekolah Sunnah Indonesia) di TMII tanggal 29 Oktober 2017. Catatan ini dinukil dari grup ASESI dengan sedikit penyesuaian.
———————————–

Pendidikan adalah tentang masa depan. Pendidikan adalah tentang menyiapkan generasi baru. 

Pendidikan bukanlah membentuk, tapi pendidikan adalah menumbuhkan. Karena ia menumbuhkan, maka hal yang fundamental yang dibutuhkan adalah tanah yang subur dan juga iklim yang baik.
Kalau kita membayangkan anak- anak itu sebagai bibit (biji), maka biji itu tidak kelihatan batangnya, tidak kelihatan akarnya, dan tidak kelihatan daunnya karena ia masih biji. Sehebat apapun sebuah biji, maka tidak akan kelihatan semua komponennya. Namun nanti ketika biji tanaman itu sudah tumbuh berkembang, maka akan terlihat batangnya, akan terlihat daunnya, akan terlihat buahnya, akan terlihat bunganya. Tapi saat itu masih berupa biji belum terlihat.
Kadang-kadang kita melihat biji seperti melihat tanaman yang lengkap. Lalu kita ingin biji ini punya semuanya. Punya bunga dan lainnya. Tentu tidak bisa.
Untuk menjadi tumbuhan yang lengkap, biji itu memerlukan waktu, memerlukan proses penumbuhan. Biji yang baik juga membutuhkan lahan yang subur. Di mana lahan yg subur itu? 
Di antaranya:
1. Di rumah. Rumahnya harus menjadi lahan yang subur.
2. Di sekolah. 
3. Di antara rumah dan sekolah, yaitu di lingkungannya.
Karena itu, ketika berbicara tentang pendidikan maka bayangkan seperti kita menumbuhkan biji itu. Karena itu saya sering mengatakan jangan gunakan kata membentuk, apalagi kalau akhlaq. Akhlaq itu ditumbuhkan,karakter itu ditumbuhkan tidak bisa dibentuk.
Dulu saat kita sekolah pasti pernah praktek biologi tentang dua tanaman yang satu dipasang dekat matahari, yang satu jauh dari matahari. Beloknya beda bukan? Bibitnya sama, tanahnya sama, potnya sama, arah tumbuhnya sama tidak? Maka jawabannya tidak sama. Jadi kita mau belok kanan- belok kiri itu bukan daunnya yang dibelokkan, tapi rangsangannya yang berbeda. Cuacanya diatur, lokasinya diatur. Karena itu mengelola sebuah sekolah, mengelola sebuah intitusi pendidikan itu adalah mengelola rekayasa.
Sebagai contoh, di rumah kita bisa menjadikan anak kita menjadi anak yang individualis atau anak yang dekat dengan saudara-saudaranya. 
Misalnya sebuah keluarga dengan empat anak. Kita buat setiap kamar ada kamar mandinya agar semuanya rapi bersih semua. Kamar mandi di dalam kamar. Sementara keluarga yang lain, dengan empat anak juga memiliki rumah dengan kamar mandi satu, di luar kamar. Maka apa yang terjadi? Keluarga yang pertama anak-anaknya tumbuh individualis. Semuanya diselesaikan sendiri. Keluar kamar semua sudah bersih.
Sedangkan keluarga kedua, anak-anak tiap hari rebutan kamar mandi: Ada yang sikatannya lama, ada yg kalau mandi harus diketok-ketok, ada yang sering samponya ketinggalan. Mereka akan tumbuh berbeda dengan anak-anak di keluarga pertama.
Oleh karena itu jangan bayangkan pendidikan itu sesuatu yang tertulis, dibaca, dihafalkan, lalu diuji. Karena pendidikan itu adalah proses pembiasaan.
Jadi kita bisa merancang anak kita sesuai skenario yang kita buat. Karena itu kemewahan keluarga dan kemewahan institusi pendididkan adalah bagaimana membuat aturan main yang membentuk perilaku.
Saya berharap kita yang bergerak dalam bidang pendididkan memikirkan rekayasa itu. Sekolah kita hari ini: anaknya abad 21, gurunya abad 20, ruang kelasnya abad 19.
Kalau mau memikirkan sekolah dan pendidikan, maka pikirkanlah masa depan. Rekayasalah untuk masa depan. Umat islam gagal atau berhasil bukan masalah mampu dan tidak mampu, tapi bagaimana cara mengantisipasi perubahan. Ini PR -nya.
Karena itu kalau mengukur keberhasilan anak-anak kita sekarang kita jangan lihat hari ini. Bijinya di nilai nanti kalau sudah tumbuh baru akan nampak dan bisa dinilai, biji, daunnya, dan batangnya.
Jangan terlalu puas dengan penilaian hari ini. Penilaiannya besok, karena inilah proses penumbuhan. Sehingga kami berharap Anda yang mengelola bidang pendidikan jangan puas dengan ukuran hari ini dan siapkan masa depan.
Dalam proyeksi pendididkan abad 21 ada 3 komponen yang mendasar:
1. Karakter/akhlaq 
a. karakter moral (iman, taqwa, jujur, rendah hati)
b. karakter kinerja (ulet, kerjakeras, tangguh, tidak mudah menyerah, tuntas)
2. Kompetensi (berpikir kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif / kerjasama)
3. Literasi/Keterbukaan wawasan (baca, budaya, teknologi, keuangan)
Di masa sekarang, dalam ujian anak-anak disuruh menjawab pertanyaan di sebuah kertas. Di masa depan mungkin ujian hanya dengan kertas kosong tanpa pertanyaan.
Tukang pos bersaing dengan teknologi: WA, email. Profesi hari ini belum tentu di masa depan masih ada, sehingga tanyakan kepada anak-anak besok mau membuat apa. Jangan bertanya mau jadi apa.
Pengelola pendidikan jangan terpukau dengan cerita masa lalu, tapi gelisahlah dengan masa depan. Kemenangan itu disiapkan di ruang keluarga dan di ruang kelas………

Oleh: Anies Baswedan

Buat anak-anak kita

Inilah zaman dimana saya tidak mendidik anak2 saya untuk menjadi seperti doktrin orang tua dulu, Serasi Rasa

Adik2 remaja sekalian, jika kalian masih bercita-cita jadi PNS, biar besok2 hidup terjamin sampai tua, maka itu cita-cita generasi luama sekali, orang tua kita dulu, SMA angkatan 70-80 mungkin masih begitu.

Jika kalian bercita-cita jadi karyawan BUMN, biar gaji bagus, pensiun ada, besar pula, maka itu juga generasi lama, paman-paman, tante-tante kita dulu, SMA angkatan 90-an, itu cita-citanya.

Jika kalian bercita-cita jadi karyawan multi nasional company, perusahaan swasta besar, biar bisa tugas di luar negeri, tunjangan dollar, itu juga cita-cita kakak-kakak kita dulu, yang SMA angkatan 2000-an.

Kalian adalah generasi berbeda. Kalian adalah yang SMP, SMA, atau kuliah di tahun 2010 ke atas. Seharusnya kalian tidak bercita-cita seperti itu lagi. Kalian adalah warga negara dunia, tersambung dengan seluruh sudut dunia.

Apa cita-cita kalian?
Jadilah pekerja kreatif, wiraswasta, profesi pekerjaan bebas, dan pekerjaan2 yang menakjubkan lainnya. Kalian menonton film seperti Iron Man, Avengers, Minion, maka besok2 giliran film kalian yang ditonton orang.

Kalian jadi konsumen Burger King, KFC, dll, maka besok2 giliran orang lain yang jadi konsumen franchise milik kalian. Hari ini kalian memakai baju, pakaian buatan orang lain, besok2 giliran orang lain yg pakai baju kalian.

Hari ini kalian berobat ke rumah sakit, besok2 giliran orang yang berobat di klinik dengan sistem dan cara berbeda milik kalian.

Itulah dunia kalian. Masa depan. Jangan mau hanya jadi pengikut, follower, tapi berdiri di depan, giliran orang lain yang mengikuti dan mendengarkan trend yg kita buat. Maka saat itu tiba, kita bisa benar2 bilang: Merdeka!!

Ayolah, lupakan sejenak bekerja jadi PNS, karyawan BUMN, atau karyawan swasta, masuk pagi, pulang malam. 30-40 tahun bekerja, pensiun. Itu sudah terlalu banyak orang yang melakukannya, masa’ kita akan ikut jalan serupa, saatnya kalian memulai jalan berbeda.

Jangan takut dengan kegagalan, jangan takut dengan tidak punya pekerjaan, menganggur, dll, dll. Sepanjang kita memang sungguh2, tahan banting, kita bisa menjadi yang terbaik di bidang yg kita geluti.

Setinggi apapun jabatan kalian, jika masih PNS, karyawan BUMN, karyawan swasta, maka sejatinya tetap saja suruhan orang lain. Punya atasan, dan hidup kita laksana siklus dari bulan ke bulan, gajian ke gajian.

Asyik duduk di belakang meja, lamat-lamat menatap media sosial, komen ini, komen itu, dan sebagainya, dan sebagainya. Tapi tetap saja begitu-begitu saja hidup kita. Tidak, adik-adik sekalian, hidup kalian bisa lebih berwarna. Kalian bisa jadi apa saja.

Jangan buat sempit cita-cita, mimpi-mimpi kalian. Generasi kalian seharusnya tidak terikat waktu, tidak korupsi waktu, sebaliknya, kalian bebas dan fleksibel menentukan jam kerja sendiri.

Yakinlah, besok lusa, karya kalian akan menaklukkan kota-kota jauh, bahkan negara-negara jauh. Besok lusa, profesi kalian akan memiliki reputasi hingga pulau-pulau seberang, benua-benua luar.

Kalian bukan lagi generasi yang bahkan naik pesawat saja mahal dan susah. Atau mau berkirim kabar harus memakai telegram dan pager. Sambutlah masa depan kalian yang gemilang.

Jadilah pekerja kreatif, wiraswasta, profesi2 penuh passion dan suka-cita. Itulah panggilan generasi kalian. Dan saat kalian bisa menggapainya, kalian bisa berteriak sekencang mungkin: Merdeka! Karena hidup kalian sungguh sudah merdeka.

Mulailah dari sekarang, remaja. Cari hobi dan aktivitas bermanfaat. Tekuni. Besok-besok kalian menjadi master di bidang tersebut.

Maka kita tidak lagi bicara tentang besok pagi2 berangkat kerja, sore2 pulang nanti macet, aduh, besok sudah Senin lagi, melainkan bicara: besok saya akan menginspirasi siapa, nanti sore saya akan mengubah apa, dan besok Senin saya akan meluncurkan karya apa lagi.

Oleh: Najwa Shihab (Guru WhatsApp)

Integrasi Data Base

Inilah gambaran masa depan kita jika E-KTP , BPJS, Data Kepolisian, dan data Perbankan Sudah Berjalan Efektif dan seluruh data sudah terintegrasi Dalam satu Data Base


Contoh kejadian jika kita memesan pizza_

_Rekaman percakapan telepon pemesanan pizza_

_*Operator:*_

_“Terima kasih anda telah menghubungi Pizza Hut. Ada yang bisa saya bantu?”_

_*Konsumen:*_

_“Saya mau pesan pizza, Mbak.”_

_*Operator:*_

_“Boleh minta Nomor KTP anda?”_

_*Konsumen:*_

_“6102049998-45-54610”_

_*Operator :*_

_“Oke Pak Ujang, dari database kami, Bapak tinggal di Jl. Merpati No 6, Tlp Rumah 021829256378, Tlp Kantor 021666535872673, dan nomor HP 0818763784022.”_

_*Konsumen:*_

_“Betul Mbak…Apa saya bisa pesan Seafood Pizza?”_

_*Operator:*_

_“Menurut kami, itu bukan ide yang bagus Pak. Dari medical record Bapak, Bapak punya tekanan darah tinggi dan kolestrol yang berlebihan. Mungkin saat ini Bapak bisa memesan Low Fat Hokkien Mee Pizza.”_

_*Konsumen:*_

_“Dari mana anda tahu kalo saya bakal suka itu?”_

_*Operator:*_

_“Hm…minggu lalu Bapak baru pinjam buku dengan judul “Popular Hokkien Dishes” di Perpustakaan Nasional.”_

_*Konsumen:*_

_“Oke terserah…sekalian saya pesan paket keluarga, jadi berapa semuanya?”_

_*Operator:*_

_“Total semua Rp. 290.000,-“_

_*Konsumen:*_

_“Boleh saya bayar dengan Credit Card?”_

_*Operator:*_

_“Bapak harus bayar cash, kartu kredit Bapak tampaknya sudah over limit dan Bapak masih punya utang di bank sebesar Rp. 5.350.000,- sejak bulan Juni tahun lalu, itu belum termasuk denda tunggakan kredit mobil Bapak.”_

_*Konsumen:*_

_“Ya sudah kalo begitu, saya ke ATM dulu ambil uang sebelum tukang antar pizza datang.”_

_*Operator:*_

_“Dari data Bapak, sepertinya itu juga nggak bisa Pak. Record Bapak menunjukkan bahwa batas penarikan uang di ATM Bapak sudah habis untuk hari ini.”_

_*Konsumen:*_

_“Busyet…! Sudahlah anterin aja pizzanya kesini, saya akan bayar cash disini, dan berapa lama pizza diantar sampai ke rumah?”_

_*Operator:*_

_“Sekitar 45 menit Pak karena jalanan tampaknya sedang padat. Tapi kalo Bapak tidak mau menunggu, Bapak bisa mengambilnya sendiri dengan motor bebek butut Bapak.”_

_*Konsumen:*_

_“Waduuuuuh kurang ajar si Mbak menghina!”_

_*Operator:*_

_“Di data terlihat Bapak memiliki motor bebek tahun 1995 dengan Nomor Polisi B-217-AN. Betul kan, Pak?”_

_*Konsumen:*_

_“Sialan…nggak sopan loe buka-buka record gue, kamu blom pernah ngerasain ditonjok ya?”_

_*Operator:*_

_“Oh hati-hati dan jaga ucapan Bapak. Apa Bapak lupa pada 15 Mei 2010 Bapak pernah di bui 3 bulan karena mengucapkan kata-kata kotor pada polisi?”_

_*Konsumen:*_

_“Bujug buneng nih manusia satu!”_

_*Operator*_

_“Sebaiknya Bapak harus banyak istighfar, bukan memaki, karena menurut laporan dari Ketua DKM di masjid Bapak, Bapak jarang menunaikan sholat berjamaah apalagi hadir dalam pengajian, ingat Pak, hidup ini sementara, Bapak harus segera bertaubat kepada Alloh SWT, sholat berjamaah di masjid, ikuti pengajian, sedekah, i’tikaf dimasjid dan banyakin berdzikir, mumpung Bapak masih hidup”_

_*Konsumen*_

_“Astaghfirulloh al’adziim, tobat ya Alloh… Ampe tau gue kagak pernah ke masjid…. Pegimane nanti di akhirat?”_

_*Operator:*_

_” Ada yang lain Pak?”, oh ya pak. Bapak kemaren di luar kota ada urusan dgn KUA ya, karena didata bpk sdh tercatat di 3 KUA, apakah ibu dirumah sdh tau ?_

_*Konsumen:*_

_“Kaga daaaahhh…. Batalin aja pesanan gue…!!!” Dan awassss luu yee, jangan bilang istri gua soal yg terakhir …….._

_*Begitulah jika E-KTP sdh diberlakukan seluruh negeri dan terintegrasi dengan semua pusat data.*_

_Memangnya gampang hidup modern ?_

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

Sumber: Grup WhatsApp

%d blogger menyukai ini: