Cara Menangkap M Nazaruddin

Muhammad Nazaruddin (MN), mantan bendahara Partai Demokrat ini sudah membuat gempar untuk beberapa hari terakhir. Pasalnya dia melarikan diri ke persembunyiannya yang cukup susah untuk dicari. Begitu menurut berita yang beredar.

Terlepas dari adanya muatan politik, permainan di bagian pihak berwajib ataupun hal lain, pencarian dia tidaklah susah. Tentunya menggunakan metode ilmiah yang sudah sering terbukti dan melibatkan beberapa pihak yang mempunya kompeten.

Lalu bagaimana dengan uang 150jt rupiah yang ditawarkan jika menemukannya? Bisa jadi juga hanya permainan saja. Artinya imbalan itu diberikan karena MN bisa jadi dilindungi sehingga tidak ada yang bisa menemukan.

Pengumuman adanya imbalan seolah-olah pemerintah mau menunjukkan keseriusannya.

Masih ingat penerbang yang dikirim ke Israel untuk belajar menerbangkan pesawat Skyhawk dalam Operasi Alpha tahun 1979? Semuanya tidak lepas dari ilmu intelijen.

Menyibak misteri intelijen adalah sesuatu yang menarik bagi saya. Karena jika kita mengetahui apa yang ada didalamnya dan bisa menguak teka-teki maka akan mendapatkan kepuasan tersendiri.

Dari beberapa kali MN mengirimkan BBM, menelpon ke stasiun televisi swasta dan yang terakhir justru menunjukkan wajahnya menggunakan video call.S

Sebagai seorang buronan kepolisian Indonesia dan Interpol, menurut pendapat pribadi , si MN sangat luar biasa dan terlalu berani.

Kenapa? Bisa saya jelaskan sebagai berikut, penjelasan ini tidak terlalu detail, mengingat pembaca tidak semuanya orang baik, ada juga penjahat dan buronan:


1. Metode 1: Menggunakan Skype

MN saat diwawancara oleh Iwan Piliang, dia menggunakan jalur komunikasi Audio-Visual skype. Untuk bisa melihat MN tersambung ke IP mana, maka kita harus melihat setting connection di skype Iwan. Dari seting ini akan dilihat pada Event Computer, Port-nya tersambung kemana, Skype bisa menggunakan Port 8080, 443 atau bahkan punya saya tersambung ke 26665.

2. Metode 2: Menggunakan Telepon

Metode ini menggunakan data MNC, MNN, LAC dan CID. Caranya adalah menentukan posisi pengguna telepon seluler berdasarkan BTS yang tersambung dengannya. LAC dan CID mempunyai “age” sehingga masih cukup valid atau tidak informasi yang diberikan.

Hal yang pertama dilakukan adalah mengetahui nomer HP TO, lalu mendefinisikan sebagai operator tertentu dan mendeteksi posisinya.

Dengan metode ini, kita harus bekerjasama dengan pihak Operator dimana telepon seluler yang dituju tersambung.

3. Metode 3: Menggunakan BBM
Metode ini yang paling sulit, sulit karena melibatkan beberapa pihak yang kemungkinan tidak bisa mengeluarkan datanya. Pihak Operator dan pihak RIM.

Hal yang pertama dikerjakan adalah mengetahui PIN dari TO, lalu meminta RIM untuk melihat database CDR bahwa PIN tersebut telah/pernah tersambung ke nomer HP berapa. Lalu metode 2 diatas bisa dipakai.

Metode ini susah karena RIM tidak mau memberikan data-data kustomernya ke pihak lain.

4. Metode 4: Menggunakan IMEI
Metode ini ada banyak cara, diantaranya karena IMEI tersambung informasinya dengan PIN Blackberry. IMEI juga tersambung dengan LAC, CID (Cell ID), MNC, MCC, IMSI, dll.
Jadi metode 3 dan 2 juga bisa digunakan berasarkan IMEI.

Emang IMEI ada hubungannya dengan PIN BBM? Ada, cloning pin itu termasuk formulasi antara IMEI dengan PIN. Lalu bagaimana caranya? Cara selanjutnya tidak perlu diterangkan.

Dari beberapa metode diatas hanya berupa dasar, lebih terperinci selanjutnya tidak diterangkan lagi, tetapi jika ada pihak yang berwenang dan menginginkan saya membantu silahkan menghubungi.

Tolong pendapat dan analisa ini tidak ditiru, terutama yang tidak punya keahlian tetapi sering muncul ke televisi hanya untuk sekedar menguap.

By: Gunaris*

Sumber: https://www.kompasiana.com/gunaris/metode-pencarian-nazaruddin_55017e30a333117f73513480#


* Penulis adalah Reverse Engineering Expert, Computer Forensic Analyst, Intelligent Tool and Method Expert.
Lulusan Teknik Elektro ITS
Staf Pengajar Sandi Yudha Pusdikpassus dan Staf Pengajar Pusdik Polri

Iklan

PENDIDIKAN YANG MENUMBUHKAN

Berikut ini adalah catatan ringkas dari sambutan Bapak Anies Rasyid Baswedan, mantan menteri pendidikan yang sekarang menjabat sebagai gubernur Jakarta ketika membuka acara Education Expo ASESI (Asosiasi Sekolah Sunnah Indonesia) di TMII tanggal 29 Oktober 2017. Catatan ini dinukil dari grup ASESI dengan sedikit penyesuaian.
———————————–

Pendidikan adalah tentang masa depan. Pendidikan adalah tentang menyiapkan generasi baru. 

Pendidikan bukanlah membentuk, tapi pendidikan adalah menumbuhkan. Karena ia menumbuhkan, maka hal yang fundamental yang dibutuhkan adalah tanah yang subur dan juga iklim yang baik.
Kalau kita membayangkan anak- anak itu sebagai bibit (biji), maka biji itu tidak kelihatan batangnya, tidak kelihatan akarnya, dan tidak kelihatan daunnya karena ia masih biji. Sehebat apapun sebuah biji, maka tidak akan kelihatan semua komponennya. Namun nanti ketika biji tanaman itu sudah tumbuh berkembang, maka akan terlihat batangnya, akan terlihat daunnya, akan terlihat buahnya, akan terlihat bunganya. Tapi saat itu masih berupa biji belum terlihat.
Kadang-kadang kita melihat biji seperti melihat tanaman yang lengkap. Lalu kita ingin biji ini punya semuanya. Punya bunga dan lainnya. Tentu tidak bisa.
Untuk menjadi tumbuhan yang lengkap, biji itu memerlukan waktu, memerlukan proses penumbuhan. Biji yang baik juga membutuhkan lahan yang subur. Di mana lahan yg subur itu? 
Di antaranya:
1. Di rumah. Rumahnya harus menjadi lahan yang subur.
2. Di sekolah. 
3. Di antara rumah dan sekolah, yaitu di lingkungannya.
Karena itu, ketika berbicara tentang pendidikan maka bayangkan seperti kita menumbuhkan biji itu. Karena itu saya sering mengatakan jangan gunakan kata membentuk, apalagi kalau akhlaq. Akhlaq itu ditumbuhkan,karakter itu ditumbuhkan tidak bisa dibentuk.
Dulu saat kita sekolah pasti pernah praktek biologi tentang dua tanaman yang satu dipasang dekat matahari, yang satu jauh dari matahari. Beloknya beda bukan? Bibitnya sama, tanahnya sama, potnya sama, arah tumbuhnya sama tidak? Maka jawabannya tidak sama. Jadi kita mau belok kanan- belok kiri itu bukan daunnya yang dibelokkan, tapi rangsangannya yang berbeda. Cuacanya diatur, lokasinya diatur. Karena itu mengelola sebuah sekolah, mengelola sebuah intitusi pendidikan itu adalah mengelola rekayasa.
Sebagai contoh, di rumah kita bisa menjadikan anak kita menjadi anak yang individualis atau anak yang dekat dengan saudara-saudaranya. 
Misalnya sebuah keluarga dengan empat anak. Kita buat setiap kamar ada kamar mandinya agar semuanya rapi bersih semua. Kamar mandi di dalam kamar. Sementara keluarga yang lain, dengan empat anak juga memiliki rumah dengan kamar mandi satu, di luar kamar. Maka apa yang terjadi? Keluarga yang pertama anak-anaknya tumbuh individualis. Semuanya diselesaikan sendiri. Keluar kamar semua sudah bersih.
Sedangkan keluarga kedua, anak-anak tiap hari rebutan kamar mandi: Ada yang sikatannya lama, ada yg kalau mandi harus diketok-ketok, ada yang sering samponya ketinggalan. Mereka akan tumbuh berbeda dengan anak-anak di keluarga pertama.
Oleh karena itu jangan bayangkan pendidikan itu sesuatu yang tertulis, dibaca, dihafalkan, lalu diuji. Karena pendidikan itu adalah proses pembiasaan.
Jadi kita bisa merancang anak kita sesuai skenario yang kita buat. Karena itu kemewahan keluarga dan kemewahan institusi pendididkan adalah bagaimana membuat aturan main yang membentuk perilaku.
Saya berharap kita yang bergerak dalam bidang pendididkan memikirkan rekayasa itu. Sekolah kita hari ini: anaknya abad 21, gurunya abad 20, ruang kelasnya abad 19.
Kalau mau memikirkan sekolah dan pendidikan, maka pikirkanlah masa depan. Rekayasalah untuk masa depan. Umat islam gagal atau berhasil bukan masalah mampu dan tidak mampu, tapi bagaimana cara mengantisipasi perubahan. Ini PR -nya.
Karena itu kalau mengukur keberhasilan anak-anak kita sekarang kita jangan lihat hari ini. Bijinya di nilai nanti kalau sudah tumbuh baru akan nampak dan bisa dinilai, biji, daunnya, dan batangnya.
Jangan terlalu puas dengan penilaian hari ini. Penilaiannya besok, karena inilah proses penumbuhan. Sehingga kami berharap Anda yang mengelola bidang pendidikan jangan puas dengan ukuran hari ini dan siapkan masa depan.
Dalam proyeksi pendididkan abad 21 ada 3 komponen yang mendasar:
1. Karakter/akhlaq 
a. karakter moral (iman, taqwa, jujur, rendah hati)
b. karakter kinerja (ulet, kerjakeras, tangguh, tidak mudah menyerah, tuntas)
2. Kompetensi (berpikir kritis, kreatif, komunikatif, kolaboratif / kerjasama)
3. Literasi/Keterbukaan wawasan (baca, budaya, teknologi, keuangan)
Di masa sekarang, dalam ujian anak-anak disuruh menjawab pertanyaan di sebuah kertas. Di masa depan mungkin ujian hanya dengan kertas kosong tanpa pertanyaan.
Tukang pos bersaing dengan teknologi: WA, email. Profesi hari ini belum tentu di masa depan masih ada, sehingga tanyakan kepada anak-anak besok mau membuat apa. Jangan bertanya mau jadi apa.
Pengelola pendidikan jangan terpukau dengan cerita masa lalu, tapi gelisahlah dengan masa depan. Kemenangan itu disiapkan di ruang keluarga dan di ruang kelas………

Oleh: Anies Baswedan

Buat anak-anak kita

Inilah zaman dimana saya tidak mendidik anak2 saya untuk menjadi seperti doktrin orang tua dulu, Serasi Rasa

Adik2 remaja sekalian, jika kalian masih bercita-cita jadi PNS, biar besok2 hidup terjamin sampai tua, maka itu cita-cita generasi luama sekali, orang tua kita dulu, SMA angkatan 70-80 mungkin masih begitu.

Jika kalian bercita-cita jadi karyawan BUMN, biar gaji bagus, pensiun ada, besar pula, maka itu juga generasi lama, paman-paman, tante-tante kita dulu, SMA angkatan 90-an, itu cita-citanya.

Jika kalian bercita-cita jadi karyawan multi nasional company, perusahaan swasta besar, biar bisa tugas di luar negeri, tunjangan dollar, itu juga cita-cita kakak-kakak kita dulu, yang SMA angkatan 2000-an.

Kalian adalah generasi berbeda. Kalian adalah yang SMP, SMA, atau kuliah di tahun 2010 ke atas. Seharusnya kalian tidak bercita-cita seperti itu lagi. Kalian adalah warga negara dunia, tersambung dengan seluruh sudut dunia.

Apa cita-cita kalian?
Jadilah pekerja kreatif, wiraswasta, profesi pekerjaan bebas, dan pekerjaan2 yang menakjubkan lainnya. Kalian menonton film seperti Iron Man, Avengers, Minion, maka besok2 giliran film kalian yang ditonton orang.

Kalian jadi konsumen Burger King, KFC, dll, maka besok2 giliran orang lain yang jadi konsumen franchise milik kalian. Hari ini kalian memakai baju, pakaian buatan orang lain, besok2 giliran orang lain yg pakai baju kalian.

Hari ini kalian berobat ke rumah sakit, besok2 giliran orang yang berobat di klinik dengan sistem dan cara berbeda milik kalian.

Itulah dunia kalian. Masa depan. Jangan mau hanya jadi pengikut, follower, tapi berdiri di depan, giliran orang lain yang mengikuti dan mendengarkan trend yg kita buat. Maka saat itu tiba, kita bisa benar2 bilang: Merdeka!!

Ayolah, lupakan sejenak bekerja jadi PNS, karyawan BUMN, atau karyawan swasta, masuk pagi, pulang malam. 30-40 tahun bekerja, pensiun. Itu sudah terlalu banyak orang yang melakukannya, masa’ kita akan ikut jalan serupa, saatnya kalian memulai jalan berbeda.

Jangan takut dengan kegagalan, jangan takut dengan tidak punya pekerjaan, menganggur, dll, dll. Sepanjang kita memang sungguh2, tahan banting, kita bisa menjadi yang terbaik di bidang yg kita geluti.

Setinggi apapun jabatan kalian, jika masih PNS, karyawan BUMN, karyawan swasta, maka sejatinya tetap saja suruhan orang lain. Punya atasan, dan hidup kita laksana siklus dari bulan ke bulan, gajian ke gajian.

Asyik duduk di belakang meja, lamat-lamat menatap media sosial, komen ini, komen itu, dan sebagainya, dan sebagainya. Tapi tetap saja begitu-begitu saja hidup kita. Tidak, adik-adik sekalian, hidup kalian bisa lebih berwarna. Kalian bisa jadi apa saja.

Jangan buat sempit cita-cita, mimpi-mimpi kalian. Generasi kalian seharusnya tidak terikat waktu, tidak korupsi waktu, sebaliknya, kalian bebas dan fleksibel menentukan jam kerja sendiri.

Yakinlah, besok lusa, karya kalian akan menaklukkan kota-kota jauh, bahkan negara-negara jauh. Besok lusa, profesi kalian akan memiliki reputasi hingga pulau-pulau seberang, benua-benua luar.

Kalian bukan lagi generasi yang bahkan naik pesawat saja mahal dan susah. Atau mau berkirim kabar harus memakai telegram dan pager. Sambutlah masa depan kalian yang gemilang.

Jadilah pekerja kreatif, wiraswasta, profesi2 penuh passion dan suka-cita. Itulah panggilan generasi kalian. Dan saat kalian bisa menggapainya, kalian bisa berteriak sekencang mungkin: Merdeka! Karena hidup kalian sungguh sudah merdeka.

Mulailah dari sekarang, remaja. Cari hobi dan aktivitas bermanfaat. Tekuni. Besok-besok kalian menjadi master di bidang tersebut.

Maka kita tidak lagi bicara tentang besok pagi2 berangkat kerja, sore2 pulang nanti macet, aduh, besok sudah Senin lagi, melainkan bicara: besok saya akan menginspirasi siapa, nanti sore saya akan mengubah apa, dan besok Senin saya akan meluncurkan karya apa lagi.

Oleh: Najwa Shihab (Guru WhatsApp)

Integrasi Data Base

Inilah gambaran masa depan kita jika E-KTP , BPJS, Data Kepolisian, dan data Perbankan Sudah Berjalan Efektif dan seluruh data sudah terintegrasi Dalam satu Data Base


Contoh kejadian jika kita memesan pizza_

_Rekaman percakapan telepon pemesanan pizza_

_*Operator:*_

_“Terima kasih anda telah menghubungi Pizza Hut. Ada yang bisa saya bantu?”_

_*Konsumen:*_

_“Saya mau pesan pizza, Mbak.”_

_*Operator:*_

_“Boleh minta Nomor KTP anda?”_

_*Konsumen:*_

_“6102049998-45-54610”_

_*Operator :*_

_“Oke Pak Ujang, dari database kami, Bapak tinggal di Jl. Merpati No 6, Tlp Rumah 021829256378, Tlp Kantor 021666535872673, dan nomor HP 0818763784022.”_

_*Konsumen:*_

_“Betul Mbak…Apa saya bisa pesan Seafood Pizza?”_

_*Operator:*_

_“Menurut kami, itu bukan ide yang bagus Pak. Dari medical record Bapak, Bapak punya tekanan darah tinggi dan kolestrol yang berlebihan. Mungkin saat ini Bapak bisa memesan Low Fat Hokkien Mee Pizza.”_

_*Konsumen:*_

_“Dari mana anda tahu kalo saya bakal suka itu?”_

_*Operator:*_

_“Hm…minggu lalu Bapak baru pinjam buku dengan judul “Popular Hokkien Dishes” di Perpustakaan Nasional.”_

_*Konsumen:*_

_“Oke terserah…sekalian saya pesan paket keluarga, jadi berapa semuanya?”_

_*Operator:*_

_“Total semua Rp. 290.000,-“_

_*Konsumen:*_

_“Boleh saya bayar dengan Credit Card?”_

_*Operator:*_

_“Bapak harus bayar cash, kartu kredit Bapak tampaknya sudah over limit dan Bapak masih punya utang di bank sebesar Rp. 5.350.000,- sejak bulan Juni tahun lalu, itu belum termasuk denda tunggakan kredit mobil Bapak.”_

_*Konsumen:*_

_“Ya sudah kalo begitu, saya ke ATM dulu ambil uang sebelum tukang antar pizza datang.”_

_*Operator:*_

_“Dari data Bapak, sepertinya itu juga nggak bisa Pak. Record Bapak menunjukkan bahwa batas penarikan uang di ATM Bapak sudah habis untuk hari ini.”_

_*Konsumen:*_

_“Busyet…! Sudahlah anterin aja pizzanya kesini, saya akan bayar cash disini, dan berapa lama pizza diantar sampai ke rumah?”_

_*Operator:*_

_“Sekitar 45 menit Pak karena jalanan tampaknya sedang padat. Tapi kalo Bapak tidak mau menunggu, Bapak bisa mengambilnya sendiri dengan motor bebek butut Bapak.”_

_*Konsumen:*_

_“Waduuuuuh kurang ajar si Mbak menghina!”_

_*Operator:*_

_“Di data terlihat Bapak memiliki motor bebek tahun 1995 dengan Nomor Polisi B-217-AN. Betul kan, Pak?”_

_*Konsumen:*_

_“Sialan…nggak sopan loe buka-buka record gue, kamu blom pernah ngerasain ditonjok ya?”_

_*Operator:*_

_“Oh hati-hati dan jaga ucapan Bapak. Apa Bapak lupa pada 15 Mei 2010 Bapak pernah di bui 3 bulan karena mengucapkan kata-kata kotor pada polisi?”_

_*Konsumen:*_

_“Bujug buneng nih manusia satu!”_

_*Operator*_

_“Sebaiknya Bapak harus banyak istighfar, bukan memaki, karena menurut laporan dari Ketua DKM di masjid Bapak, Bapak jarang menunaikan sholat berjamaah apalagi hadir dalam pengajian, ingat Pak, hidup ini sementara, Bapak harus segera bertaubat kepada Alloh SWT, sholat berjamaah di masjid, ikuti pengajian, sedekah, i’tikaf dimasjid dan banyakin berdzikir, mumpung Bapak masih hidup”_

_*Konsumen*_

_“Astaghfirulloh al’adziim, tobat ya Alloh… Ampe tau gue kagak pernah ke masjid…. Pegimane nanti di akhirat?”_

_*Operator:*_

_” Ada yang lain Pak?”, oh ya pak. Bapak kemaren di luar kota ada urusan dgn KUA ya, karena didata bpk sdh tercatat di 3 KUA, apakah ibu dirumah sdh tau ?_

_*Konsumen:*_

_“Kaga daaaahhh…. Batalin aja pesanan gue…!!!” Dan awassss luu yee, jangan bilang istri gua soal yg terakhir …….._

_*Begitulah jika E-KTP sdh diberlakukan seluruh negeri dan terintegrasi dengan semua pusat data.*_

_Memangnya gampang hidup modern ?_

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

Sumber: Grup WhatsApp

Neither Sukarnov nor Suhartov

Andaikan setelah meninggal kelak saya dilupakan orang, insyaallah itu lebih menguntungkan dibanding diingat-ingat, dikenang, apalagi dipuja-puja. Sebab prosentase dosa hidup saya lebih besar dibanding kebaikan saya. Dipuja mustahil, dikenang pasti: oleh anak istri dan keluarga saya. Tapi kalau diingat-ingat, agak mengkhawatirkan, saking banyaknya dosa saya.
Tetapi sejumlah orang Indonesia dikenang manis, diingat-ingat kebaikannya, serta terkadang dipuja-puja – meskipun kadar dan kedalamannya berbeda-beda. Misalnya Bung Karno adalah kenangan manis dan penuh kebanggaan. Pak Harto ada yang kagum ada yang mengutuk, sebagaimana Gadjah Mada. Kalau ditanya bagaimana kesan tentang Muhammad Natsir, Haji Agus Salim, Tan Malaka, Kasman Singodimejo, Syaikhona Kholil, anak-anak muda sekarang menoleh ke kanan kiri dengan wajah bengong.
Kalau mengingat Gus Dur, biasanya orang lantas tersenyum, tertawa, atau bahkan tertawa cekikian dan geleng-geleng kepala. Ketika saya tempuh sejumlah proses menuju Gus Dur jumenengan Presiden, saya persyarati dua hal. Pertama, masalah Aceh dan GAM harus beres. Kedua, sebagai pemimpin Negara jangan ada lagi persambungan dengan Kanjeng Ratu Kidul (Nawang Wulan) maupun Nyi Roro Kidul (Nawang Sih) saudara kembarnya.
Gus Dur bilang dia sudah kirim SMS ke Kanjeng Ratu Kidul. Saya jengkel oleh jawabannya. “SMS gimana?”. Gus Dur menjawab sambil membaringkan badan ke Kasur: “Saya suruh dia pakai jilbab…”. Kemudian beliau tertawa xixixixi dan sesaat kemudian memejamkan mata dan tertidur. Saya pegang kepala saya dan saya jambak rambut saya. Saya yakin Einstein, Bheethoven, Bill Gates, bahkan pun Ned Kelly sampai di tiang gantungan tak pernah memasuki wilayah imajinasi seliar Gus Dur.

Orator terdahsyat yang pernah saya jumpai, alami dan saksikan langsung adalah almarhum Ustadz Yasin Hasan Abdullah Bangil. Seorang lelaki gagah, sabuk tebal model tukang sate Madura di pinggangnya, vokalnya gabungan antara Bung Karno, Sultan Hamengkubuwono IX, Rendra, Sutardji Calzoum Bachri dan Nabi Dzulqornain. Dia berpidato menggambarkan betapa pasukan Belanda gemetar badannya hanya ketika melihat gambar surban putih Pangeran Diponegoro. 
“Hanya surbannya, Saudara-saudara”, suaranya lantang membelah angkasa, “baru 

surbannya. Belum jubah putihnya yang bergerai menembus angin di atas kudanya yang gagah. Kerajaan Belanda hampir bangkrut gara-gara pemberontakan Pangeran Diponegoro dengan surbannya. Saudara-saudara, bisakah kau bayangkan Diponegoro pakai helm…?”
Gus Dur bukan orator yang gagah penampilannya. Gus Dur adalah tipe Juara Favorit. Tetapi imajinasi tentang Ratu Kidul pakai Jilbab dan Pangeran Diponegoro pakai helm, menurut saya termasuk yang harus kita monumenkan di World Hall of Fame. Apalagi ketika pagi hari pukul 08.00 sesudah malamnya beliau di-impeachment saya dan istri datang ke Istana sebelum tamu-tamu lainnya, dan saya tanya: “Ngapain to Gus kok bikin Dekrit segala?”
Gus Dur menjawab enteng: “Lha sudah lama sekali ndak ada Dekrit, Cak. Terakhir kan tahun 1959”.

Saya kejar, “kok ndak Sampeyan hitung segala sesuatunya. Saya kan nunggu Sampeyan telepon, siapa tahu saya pas punya bahan untuk turut mempertimbangkan perlu Dekrit atau formula lain?”
Gus Dur menjawab lebih enteng lagi dengan Bahasa Jombang: “Cak jenenge teplèk iku yo kadang menang kadang kalah. Biasane nek mulih isuk kemul-kemul sarung, berarti menang. Nek kalah malah mulih pakaian rapi, cèk diarani menang”. “Cak, namanya juga judi, kadang kalah kadang menang. Biasanya kalau pulang judi berselimut sarung itu tanda menang. Kalau kalah judi, pulang ke rumah berpakaian rapi, supaya orang menyangka dia menang…”
Tony Koeswoyo menulis lirik seolah-olah untuk Gus Dur: “Terlalu indah dilupakan, terlalu sedih dikenangkan…”. Tetapi semua orang punya rasa rindunya masing-masing kepada Bapak-Bapak kita terdahulu. Juga Gus Dur. Ada yang mengabarkan kepada saya bahwa Gus Dur sampai hari ini belum berangkat ke Alam Barzakh. Beliau masih berada di Tebuireng. Ada masalah prosedural yang belum bisa diatasi, terkait dengan administrasi Malaikat Munkar dan Nakir.
Kalau penziarah terakhir sudah meninggalkan kuburan kita sejauh 70 langkah, baru Malaikat Munkar dan Nakir hadir untuk berurusan dengan si ahli kubur. Lha sudah sekian tahun orang-orang yang menziarahi makam Gus Dur tak pernah reda. Belum pernah ada momentum penziarah terakhir meninggalkan kuburan 70 langkah. Jadi sekian tahun ini Gus Dur hanya berpandangan dari jauh dan saling melambaikan tangan dengan Malaikat Munkar dan Nakir.
Mungkin karena bosan, terkadang Gus Dur ke luar ke jalan besar antara Jombang-Pare. Lihat-lihat situasi. Dan yang paling menarik adalah banyak truk-truk yang di bak belakang atau samping ada foto Pak Harto dengan kalimat “Piye kabarmu, Lé? Penak zamanku tho?”. Apa kabar kalian, Nak? Lebih enak hidup di zaman saya dulu kan?
Itu membuat Gus Dur sangat kangen dan ingin segera mencari Pak Harto. Nanti di alam sana syukur-syukur juga ketemu Bung Karno, Sunan Kalijaga, atau malahan Gorbachev dan Anton Chekhov. Andaikan ketemu Ken Arok dan Gadjah Mada. Gus Dur mau konfirmasi kepada Ken Arok: “Apa dulu di bumi, Sampeyan ini benar-benar ada? Jangan-jangan Sampeyan ini hanya dikarang oleh para penjajah, supaya bangsa Indonesia merasa masa silamnya buram dan tak punya idola di antara nenek moyangnya”. Kepada Gadjah Mada juga Gus Dur bertabayyun: “Apa benar Sampeyan dulu mencegat rombongan Prabu Siliwangi? Kok ndak SMS saya dulu tho?”
Tetapi tampaknya yang paling diinginkan Gus Dur adalah bercerita kepada Pak Harto tentang truk-truk itu. Dan kalau Pak Harto bertanya “apa benar rakyat daripada Indonesia sekarang menganggap zaman saya lebih baik dibanding daripada zaman sekarang?”. Gus Dur, saya perkirakan menjawab: “Benar sekali itu Pak Harto. Selama Orla rakyat kita punya Pak Karnov. Di zaman Orba mereka punya Pak Hartov. Lha di ujung Reformasi palsu sekarang ini rakyat dibikin retak-retak kepalanya oleh Pak Setnov… Apalagi menurut para analis, jumlah Setnov di Indonesia tidak satu, melainkan sangat banyak, dengan kaliber yang berbeda-beda. Pendidikan keindonesiaan beberapa puluh tahun terakhir ini menumbuh-kembangkan potensi Setnov di dalam jiwa dan mental bangsa…”
Kalau Pak Harto tampak prihatin wajahnya mendengar itu dan nyeletuk: “Lho kok malah Amar Munkar Nahi Nakir”,  Gus Dur menghiburnya: “Sudah tho Pak. Gitu aja kok repot..”. 
By: Emha Ainun Najib

Sumber: https://m.timesindonesia.co.id/read/157814/20171002/113206/neither-sukarnov-nor-suhartov-amar-munkar-nahi-nakir/#!-_-

Yogya, 2 Oktober 2017

Sumur tua PKI, Kakak vs Adik

Kebencian sebesar apa yang bisa membuat kita membunuh orang lain, lantas dilemparkan ke dalam sumur? Dan kebencian sebesar apa lagi yang membuat seorang kakak kandung membiarkan adiknya dibunuh, dilemparkan ke dalam sumur tua?

Ini adalah kisah seorang Jenderal bernama S. Parman, dan seorang petinggi Politbiro CC PKI bernama Sakirman. Kalian boleh jadi tidak tahu, dua orang ini bersaudara kandung. Yeah, mereka bersaudara, tapi berbeda pemahaman dalam banyak hal.

 Siswondo Parman (S. Parman) lahir 4 Agustus 1918, jauh sebelum Indonesia merdeka. Dia anak pintar, masuklah ke sekolah kedokteran Belanda, jika nasib menentukan lain, dia akan jadi dokter yang hebat. 

Tapi Jepang datang ke Indonesia, mengambil-alih kekuasaan Belanda, keadaan kacau balau, S Parman banting setir akhirnya bekerja untuk polisi militer Kempeitai Jepang. Tidak lama bekerja, dia ditangkap serdadu Jepang karena diragukan kesetiaannya. Tapi S Parman cerdas, dia dibebaskan, dan justeru dikirim belajar intelijen oleh Jepang.
Setelah kemerdekaan, S Parman bergabung dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat), karirnya moncer, prestasinya banyak, termasuk yang perlu dicatat, dia pernah menggagalkan rencana pembunuhan yang hendak dilakukan kelompok Raymond Westerling, APRA-Angkatan Perang Ratu Adil.

Tahun 1951, S Parman dikirim ke Amerika, sekolah di sana. Juga pernah dikirim ke London, sebagai atase militer Indonesia. S Parman adalah tentara yang brilian dalam urusan intelijen, posisi terakhirnya sebelum meninggal adalah soal intelijen.
Sekarang kita bahas kakaknya. Siapa itu Sakirman? Wah, juga tidak kalah menterengnya, lahir tahun 1911, terpisah 7 tahun dengan adiknya, Sakirman adalah jenius dalam keluarga, dia lulusan “Technische Hooge School” (THS), sekarang ITB. Insinyur Sakirman, adalah elit Politbiro CC PKI. Sejak sebelum masa kemerdekaan, Sakirman terlibat dalam banyak peristiwa penting, meski sipil, seorang insinyur, dia pernah menyandang pangkat Let Kol dalam pemerintahan awal-awal kemerdekaan.

Tapi berpuluh tahun kemudian, dua bersaudara ini ternyata berbeda jalan. Sangat berbeda.

S Parman, yang jelas terlatih dalam bidang intelijen, tahun 1960-an, habis-habisan menolak ide pembentukan kekuatan kelima. Dia tidak mau jutaan rakyat, petani dan buruh tiba-tiba diberikan senjata. Menurut S Parman, itu sungguh strategi licik yang amat membahayakan. 

Ada udang dibalik batu. Itu rakyat yang mana? Sekali jutaan rakyat itu membawa senjata, crazy sekali, Indonesia bisa menjadi lautan perang saudara, darah tumpah di mana-mana. Tidak akan ada yang bisa mengontrol mereka.

Kakaknya, Sakirman, justeru punya pendapat berbeda. Sebagai elit Politbiro CC PKI, dia habis-habisan menggelontorkan ide tersebut agar direstui penguasa. Elit PKI tahu persis, hanya TNI yang masih menjadi penghadang ide besar mereka mengambil-alih kekuasaan, maka apapun harus dilakukan untuk menyingkirkan TNI, termasuk fitnah keji sekalipun, seolah-olah TNI-lah yang hendak mengkudeta pemerintah. Pancasila tidak relevan lagi, itu bisa diganti dengan paham lain.

S Parman dan Sakirman menjadi seteru politik yang nyata. Dua kakak-adik itu menjadi musuh. Satu TNI, satu PKI.
Hari itu, entah kebencian sebesar apa yang membuat seorang kakak kandung tega melihat adiknya masuk dalam daftar Jenderal yang diculik. Hari itu, Jenderal S Parman dibawa hidup-hidup ke sebuah sumur tua, di sana dia ditembak tanpa ampun, kemudian dilemparkan masuk ke dalam sumur dingin itu. Jasadnya yang sudah menyedihkan, ditemukan beberapa hari kemudian. Sungguh, kebencian sebesar apa yang bisa membuat kita memutus tali persaudaraan?

Apakah sama dengan 39 tahun lalu, ketika lebih dari 1,2 juta rakyat negeri seberang, Kamboja juga tewas oleh kekejaman pasukan Khmer Merah. Kelompok KOMUNIS, yang berusaha mengangkangi seluruh negeri, mengambil kekuasaan dari pemerintah di bulan April 1975. Sebagian dari rakyat Kamboja mati karena kelaparan, menderita sakit dalam kecamuk perang yang disebabkan pasukan Khmer Merah, dan tidak sedikit yang tewas karena disiksa, ditembak mati, terserah apa maunya si komunis.

Kenanglah peristiwa ini. Kisah S Parman dan Sakirman, dua saudara kandung, yang berbeda pemahaman, dengan ending menyesakkan. Hari ini, S. Parman menjadi nama banyak jalan besar di negeri ini. Kita boleh jadi lupa sejarahnya, tapi ijinkan saya mengingatkan kalian, agar kita lebih seimbang dalam mengenang sesuatu….

Oleh: Tere Liye

​4 Langkah Cek Berita Hoax

Berangkat dari keprihatinan akan banyaknya berita hoax tersebar di medis sosial, silakan simak 4 langkah berikut untuk mengecek berita, hoax atau bukan. 

*Pertama*
Waspadalah bila berita memiliki 5 tanda berikut, karena ada kemungkinan hoax :
1. Ada kata2 :  Sebarkanlah! Viralkanlah! (dan sejenisnya). 
2. Artikel penuh huruf besar dan tanda seru. 
3. Merujuk ke kejadian dengan istilah kemarin, dua hari yang lalu, seminggu yang lalu, tanpa ada tanggal yang jelas.

 

4. Ada link berita asal, tapi waktu ditelusuri, beritanya sama sekali beda atau malah link sudah mati. 
Tugas kita : cek dulu link yg ada di info tsb. 
Contoh ketika ada berita Sri Mulyani antri Nike Great Sale berjam-jam. Ternyata nama sama, tapi bukan Menkeu, hehehe..
Untuk nomor 4 ini bisa juga ada link berita asal sangat umum, misalnya, sumber mui.or.id tanpa disertai link langsung ke beritanya. 
5. Link berita asal lebih merupakan opini seseorang, bukan fakta. Beda opini dan fakta? Silakan dicari di google yaaa.. 
*Kedua*
Coba cari di google tema berita spesifik yang ingin dicek, diikuti dengan kata hoax di belakangnya. Biasanya kalau memang hoax, akan ketemu pembahasannya. 
Contoh berita viral ttg rape drug progesterex yg membuat mandul. 
Coba cari di google progesterex diikuti dengan kata hoax. Ketemu insya Allah. 
Jadi tugas kita : cari di google dengan kata kunci yang  spesifik/unik.
*Ketiga*
Ini agak perlu ekstra niat. Kalau ada gambar beserta berita, save gambarnya, kemudian cari gambar sejenis di https://images.google.com/ (harus desktop mode, tidak bisa mobile mode). 
Kadang ketemu artikel2 lain dengan gambar sejenis. 
Kadang ketemu artikel lama yang sama sekali beda yang memakai gambar yang sama. 
Cara mencari berdasarkan gambar (search by image) ada di link berikut :

https://www.google.com/intl/en-419/insidesearch/features/images/searchbyimage.html
*Keempat*
Sekarang sudah ada juga aplikasi untuk mengecek hoax: 

http://hoaxanalyzer.com/
Silakan dicoba dan mari kita bebaskan media sosial dari berita hoax.

Oleh : Dimaz Fathroen, Praktisi Anti Hoax, Alumnus TI-ITB

#cerdasbermedsos

#waspadahoax

%d blogger menyukai ini: