Neither Sukarnov nor Suhartov

Andaikan setelah meninggal kelak saya dilupakan orang, insyaallah itu lebih menguntungkan dibanding diingat-ingat, dikenang, apalagi dipuja-puja. Sebab prosentase dosa hidup saya lebih besar dibanding kebaikan saya. Dipuja mustahil, dikenang pasti: oleh anak istri dan keluarga saya. Tapi kalau diingat-ingat, agak mengkhawatirkan, saking banyaknya dosa saya.
Tetapi sejumlah orang Indonesia dikenang manis, diingat-ingat kebaikannya, serta terkadang dipuja-puja – meskipun kadar dan kedalamannya berbeda-beda. Misalnya Bung Karno adalah kenangan manis dan penuh kebanggaan. Pak Harto ada yang kagum ada yang mengutuk, sebagaimana Gadjah Mada. Kalau ditanya bagaimana kesan tentang Muhammad Natsir, Haji Agus Salim, Tan Malaka, Kasman Singodimejo, Syaikhona Kholil, anak-anak muda sekarang menoleh ke kanan kiri dengan wajah bengong.
Kalau mengingat Gus Dur, biasanya orang lantas tersenyum, tertawa, atau bahkan tertawa cekikian dan geleng-geleng kepala. Ketika saya tempuh sejumlah proses menuju Gus Dur jumenengan Presiden, saya persyarati dua hal. Pertama, masalah Aceh dan GAM harus beres. Kedua, sebagai pemimpin Negara jangan ada lagi persambungan dengan Kanjeng Ratu Kidul (Nawang Wulan) maupun Nyi Roro Kidul (Nawang Sih) saudara kembarnya.
Gus Dur bilang dia sudah kirim SMS ke Kanjeng Ratu Kidul. Saya jengkel oleh jawabannya. “SMS gimana?”. Gus Dur menjawab sambil membaringkan badan ke Kasur: “Saya suruh dia pakai jilbab…”. Kemudian beliau tertawa xixixixi dan sesaat kemudian memejamkan mata dan tertidur. Saya pegang kepala saya dan saya jambak rambut saya. Saya yakin Einstein, Bheethoven, Bill Gates, bahkan pun Ned Kelly sampai di tiang gantungan tak pernah memasuki wilayah imajinasi seliar Gus Dur.

Orator terdahsyat yang pernah saya jumpai, alami dan saksikan langsung adalah almarhum Ustadz Yasin Hasan Abdullah Bangil. Seorang lelaki gagah, sabuk tebal model tukang sate Madura di pinggangnya, vokalnya gabungan antara Bung Karno, Sultan Hamengkubuwono IX, Rendra, Sutardji Calzoum Bachri dan Nabi Dzulqornain. Dia berpidato menggambarkan betapa pasukan Belanda gemetar badannya hanya ketika melihat gambar surban putih Pangeran Diponegoro. 
“Hanya surbannya, Saudara-saudara”, suaranya lantang membelah angkasa, “baru 

surbannya. Belum jubah putihnya yang bergerai menembus angin di atas kudanya yang gagah. Kerajaan Belanda hampir bangkrut gara-gara pemberontakan Pangeran Diponegoro dengan surbannya. Saudara-saudara, bisakah kau bayangkan Diponegoro pakai helm…?”
Gus Dur bukan orator yang gagah penampilannya. Gus Dur adalah tipe Juara Favorit. Tetapi imajinasi tentang Ratu Kidul pakai Jilbab dan Pangeran Diponegoro pakai helm, menurut saya termasuk yang harus kita monumenkan di World Hall of Fame. Apalagi ketika pagi hari pukul 08.00 sesudah malamnya beliau di-impeachment saya dan istri datang ke Istana sebelum tamu-tamu lainnya, dan saya tanya: “Ngapain to Gus kok bikin Dekrit segala?”
Gus Dur menjawab enteng: “Lha sudah lama sekali ndak ada Dekrit, Cak. Terakhir kan tahun 1959”.

Saya kejar, “kok ndak Sampeyan hitung segala sesuatunya. Saya kan nunggu Sampeyan telepon, siapa tahu saya pas punya bahan untuk turut mempertimbangkan perlu Dekrit atau formula lain?”
Gus Dur menjawab lebih enteng lagi dengan Bahasa Jombang: “Cak jenenge teplèk iku yo kadang menang kadang kalah. Biasane nek mulih isuk kemul-kemul sarung, berarti menang. Nek kalah malah mulih pakaian rapi, cèk diarani menang”. “Cak, namanya juga judi, kadang kalah kadang menang. Biasanya kalau pulang judi berselimut sarung itu tanda menang. Kalau kalah judi, pulang ke rumah berpakaian rapi, supaya orang menyangka dia menang…”
Tony Koeswoyo menulis lirik seolah-olah untuk Gus Dur: “Terlalu indah dilupakan, terlalu sedih dikenangkan…”. Tetapi semua orang punya rasa rindunya masing-masing kepada Bapak-Bapak kita terdahulu. Juga Gus Dur. Ada yang mengabarkan kepada saya bahwa Gus Dur sampai hari ini belum berangkat ke Alam Barzakh. Beliau masih berada di Tebuireng. Ada masalah prosedural yang belum bisa diatasi, terkait dengan administrasi Malaikat Munkar dan Nakir.
Kalau penziarah terakhir sudah meninggalkan kuburan kita sejauh 70 langkah, baru Malaikat Munkar dan Nakir hadir untuk berurusan dengan si ahli kubur. Lha sudah sekian tahun orang-orang yang menziarahi makam Gus Dur tak pernah reda. Belum pernah ada momentum penziarah terakhir meninggalkan kuburan 70 langkah. Jadi sekian tahun ini Gus Dur hanya berpandangan dari jauh dan saling melambaikan tangan dengan Malaikat Munkar dan Nakir.
Mungkin karena bosan, terkadang Gus Dur ke luar ke jalan besar antara Jombang-Pare. Lihat-lihat situasi. Dan yang paling menarik adalah banyak truk-truk yang di bak belakang atau samping ada foto Pak Harto dengan kalimat “Piye kabarmu, Lé? Penak zamanku tho?”. Apa kabar kalian, Nak? Lebih enak hidup di zaman saya dulu kan?
Itu membuat Gus Dur sangat kangen dan ingin segera mencari Pak Harto. Nanti di alam sana syukur-syukur juga ketemu Bung Karno, Sunan Kalijaga, atau malahan Gorbachev dan Anton Chekhov. Andaikan ketemu Ken Arok dan Gadjah Mada. Gus Dur mau konfirmasi kepada Ken Arok: “Apa dulu di bumi, Sampeyan ini benar-benar ada? Jangan-jangan Sampeyan ini hanya dikarang oleh para penjajah, supaya bangsa Indonesia merasa masa silamnya buram dan tak punya idola di antara nenek moyangnya”. Kepada Gadjah Mada juga Gus Dur bertabayyun: “Apa benar Sampeyan dulu mencegat rombongan Prabu Siliwangi? Kok ndak SMS saya dulu tho?”
Tetapi tampaknya yang paling diinginkan Gus Dur adalah bercerita kepada Pak Harto tentang truk-truk itu. Dan kalau Pak Harto bertanya “apa benar rakyat daripada Indonesia sekarang menganggap zaman saya lebih baik dibanding daripada zaman sekarang?”. Gus Dur, saya perkirakan menjawab: “Benar sekali itu Pak Harto. Selama Orla rakyat kita punya Pak Karnov. Di zaman Orba mereka punya Pak Hartov. Lha di ujung Reformasi palsu sekarang ini rakyat dibikin retak-retak kepalanya oleh Pak Setnov… Apalagi menurut para analis, jumlah Setnov di Indonesia tidak satu, melainkan sangat banyak, dengan kaliber yang berbeda-beda. Pendidikan keindonesiaan beberapa puluh tahun terakhir ini menumbuh-kembangkan potensi Setnov di dalam jiwa dan mental bangsa…”
Kalau Pak Harto tampak prihatin wajahnya mendengar itu dan nyeletuk: “Lho kok malah Amar Munkar Nahi Nakir”,  Gus Dur menghiburnya: “Sudah tho Pak. Gitu aja kok repot..”. 
By: Emha Ainun Najib

Sumber: https://m.timesindonesia.co.id/read/157814/20171002/113206/neither-sukarnov-nor-suhartov-amar-munkar-nahi-nakir/#!-_-

Yogya, 2 Oktober 2017

Iklan

Nasihat Quraish Shihab untuk putrinya

“​Keberuntungan” kadang memainkan perannya dalam kehidupan manusia, sekalipun kerap tidak masuk akal. Karena itulah takdir mereka.

Boleh jadi keterlambatanmu dari suatu perjalanan adalah keselamatanmu. Boleh jadi tertundanya pernikahanmu adalah suatu keberkahan. Boleh jadi dipecatnya engkau dari pekerjaan adalah suatu maslahat.

Boleh jadi sampai sekarang engkau belum dikarunia anak itu adalah kebaikan dalam hidupmu. Boleh jadi engkau membenci sesuatu tapi ternyata itu baik untukmu, karena Allah Maha Mengetahui Sedangkan engkau tidak mengetahui.

Sebab itu, jangan engkau merasa gundah terhadap segala sesuatu yang terjadi padamu, karena semuanya sudah atas izin Allah. Jangan banyak mengeluh karena hanya akan menambah kegelisahan.

Perbanyaklah bersyukur, Alhamdulillah, itu yang akan mendatangkan kebahagiaan. Terus ucap alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

Selama kita masih bisa tidur tanpa obat tidur, kita masih bisa bangun tidur hanya dengan satu bunyi suara, kita terbangun tanpa melihat adanya alat-alat medis yang menempel di tubuh kita, itu pertanda bahwa kita hidup sejahtera.

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, ucapkan sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

Jangan selalu melihat ke belakang karena disana ada masa lalu yang menghantuimu. Jangan selalu melihat ke depan karena terkadang ada masa depan yang membuatmu gelisah. Namun lihatlah ke atas karena di sana ada Allah yang membuatmu bahagia.

Tidak harus banyak teman agar engkau menjadi populer, singa sang raja hutan lebih sering berjalan sendirian. Tapi kawanan domba selalu bergerombol. Jari-jari juga demikian; kelingking, jari manis, jari tengah, jari telunjuk, semuanya berjajar bersampingan kecuali jari jempol dia yang paling jauh diantara keempat itu.

Namun perhatikan engkau akan terkejut kalau semua jari-jari itu tidak akan bisa berfungsi dengan baik tanpa adanya jempol yang sendiri yang jauh dari mereka.

Karena itu, sebenarnya yang diperhitungkan bukanlah jumlah teman yang ada di sekelilingmu akan tetapi banyaknya cinta dan manfaat yang ada di sekitarmu, sekalipun engkau jauh dari mereka.

Menyibukkan diri dalam pekerjaan akan menyelamatkan dirimu dari tiga masalah; yaitu kebosanan, kehinaan, dan kemiskinan.

Aku tidak pernah mengetahui adanya rumus kesuksesan, tapi aku menyadari bahwa “rumus kegagalan adalah sikap asal semua orang”.

Teman itu seperti anak tangga, boleh jadi ia membawamu ke atas atau ternyata sebaliknya membawamu ke bawah, maka hati-hatilah anak tangga mana yang sedang engkau lalui.

Hidup ini akan terus berlanjut baik itu engkau tertawa ataupun menangis, karena itu jangan jadikan hidupmu penuh kesedihan yang tidak bermanfaat sama sekali.

Berlapang dadalah, maafkanlah, dan serahkan urusan manusia kepada Tuhan, karena engkau, mereka, dan kita semua, semuanya akan berpulang kepadaNya.

Jangan tinggalkan sholatmu sekali pun. Karena di sana, jutaan manusia yang berada di bawah tanah, sedang berharap sekiranya mereka diperbolehkan kembali hidup mereka akan bersujud kepada Allah SWT walau sekali sujud.

Jangan selalu bersandar pada cinta, karena itu jarang terjadi. Jangan bersandar kepada manusia karena ia akan pergi. Tapi bersandarlah kepada Allah SWT, Tuhan YME, karena Dialah yang menentukan segalanya.

Pilgub, Pilpres, Pilnab, dan Piltu

(Suatu hari mudah-mudahan berguna)

Ada orang Madura sakit parah butuh donor darah, tapi kemudian menolak setelah dikasihtahu siapa yang menyumbang darah. “Dak mau saya. Dia pernah mencuri. Kalau saya dimasuki darah dia, saya bisa jadi pencuri. Dak mau saya…”

Kebetulan sampai situasi darurat, tak ada darah lain yang cocok. Kalau dokter memaksanya, ia berontak serius. Sampai akhirnya meninggal. Ia dipanggil Tuhan dan meninggalkan pertanyaan: ini peristiwa kebodohan ataukah keteguhan?

Sebagaimana pada peristiwa rutin lainnya dalam hidup manusia, selalu diiringi pertanyaan: Apa beda antara hemat dengan pelit. Istiqamah dengan keras kepala. Konsisten dengan jumud. Boros dengan pemurah. Introvert atau kontemplatif. Setia atau konservatif. Lampu kuning di perempatan jalan itu masih atau sudah. Uang seratus ribu di saku itu hanya ataukah alhamdulillah.

(Baca juga: Ini Kata Cak Nun: Hinalah Aku, Jangan Islam, Please)

Itulah Ibu Ilmu. Itulah titik silang nilai yang melahirkan ideologi. Itulah asal usul keselamatan dan kehancuran. Itulah mataair konsiderasi kejayaan atau keterperukukan sebuah Negara dan bangsa. Itulah persendian di antara sorga dengan neraka.

Humor-humor klasik Madura sebenarnya sudah selalu menggiring mesin akal kita menuju persendian itu. Jual salak diprotes pembelinya: “Salak seupil-upil kok harganya mahal amat”. Si penjual langsung menjawab: “Orangnya cantik kok upilnya sak salak-salak”.

Katanya isi semangka merah dan rasanya manis istimewa, kok ketika terjatuh ternyata isinya kuning. Ketika diprotes si pahlawan menjawab: “Orang saja kalau kecelakaan pucat mukanya, kok semangka disuruh tidak pucat”.

(Baca juga: Permohonan Cak Nun agar Nabi Khidlir Hadir Kembali dan Memutar Arah Istana)

Walhasil jangan berdebat melawan orang Madura. Kalau dagangan kurang laku sampai hampir Maghrib, Tuhan diprotes: “Katanya Rahman Rahim, mana buktinya”. Berperahu cari ikan tak dapat-dapat sampai hampir senja, ia bertolak pinggang menghadap ke langit: “Buktikan pengasih penyayang Sampeyan. Kasihlah ikan lima saja. Dua untuk istri dan saya, tiga untuk anak-anak saya”.

Ketika Malaikat disuruh Tuhan agar menyuruh lima ikan meloncat dari dalam air ke perahunya, nelayan Madura kita masih marah: “Kok lima beneran. Ya sepuluh lah. Rahmannya lima, Rahimnya lima”. Akhirnya Malaikat, atas anggukan kepala Tuhan, menyuruh ikan sebanyak-banyaknya untuk berlompatan memenuhi perahunya.

Dengan agak malu-malu ia menyeret perahu penuh ikan itu ke pantai. Tapi sesampainya di pantai ia melihat asap di arah kampungnya. Kemudian ada yang berlari-lari datang memberitahukan bahwa rumah nelayan kita itu yang terbakar. Ia langsung bertolak pinggang lagi dan memprotes: “Tuhan, kenapa masalah di laut di bawa-bawa ke darat!”.

(Baca juga: Cak Nun soal Budaya Politik Nasional: Pilih Celana atau Makanan; Korupsi atau Rasa Malu?)

Kesimpulannya, jangan lawan orang Madura. Pelajari sejarahnya dengan seksama dan teliti. Sumpah Palapa Gadjah Mada itu gagasan dari Madura. Aslinya Lapa-lapa, diucapkan Palapa. Mereka jualan sate sampai Canada, di sana mereka bikin kota Toronto. Aslinya Ronto-ronto.

Tetapi di antara ratusan humor serius budaya dan antropologi manusia Madura, salah satu yang saya nilai genius adalah tukang becak di perempatan jalan. Sejak seratus meter sebelum perempatan, yang jalannya agak menanjak, ia menyorong becaknya sambil setengah berlari. Setelah lancar dan agak ringan, lajunya terhalang oleh lampu merah.

Tentu ia tidak mau menyia-nyiakan perjuangannya. Maka ia laju saja menerjang batas, melintas perempatan jalan. Sejumlah kendaraan dari arah silang mendadak harus ngerem dengan hati geram. Pak Polisi melompat berlari dan berteriak: “Guoooblog! Sudah tahu lampu merah kok terus saja. Dasar tukang becak goblog!”.

(Baca juga: Ini Kata Cak Nun: Indonesia Makam Pancasila)

Pahlawan Madura itu sedikit menoleh ke arah Pak Polisi sambil tersenyum. Sambil meneruskan genjot becak ia nyeletuk: “Kalau dak goblog dak mbecak saya Pak…”

Itu pernyataan dari posisi mental, psikologis, atau logika berpikir yang bagaimana? Apakah itu fatalisme? Kepasrahan hidup? Biso rumongso alias tahu diri? Kemandegan perjuangan? Atau kearifan? Atau rasio terhadap batas? Semacam nahi munkar atas diri sendiri? Prinsip puasa? Atau ketidakberdayaan sosial?

Kita tahu dalam dinamika kehidupan, goblog dan pinter itu animasi, halusinasi atau mungkin sejatinya tidak ada. Goblog adalah kearifan yang menyamar. Pinter adalah kebodohan yang bersolek. Yang bicara “kalau dak goblog dak becak” mungkin sekali bukan si tukang becak. Melainkan ‘seseorang’ atau suatu arus energi di belakang layar yang bermaksud mengkritik cara berpikir mainstream.

(Baca juga: Cak Nun tentang Lomba Ajal di Gerbang Perubahan, Ada Peristiwa Besar pada 26 Agustus 2017?)

Mainstream cara pandang budaya umum dan popular pakai bagan nilai: pekerjaan tukang becak itu rendah. Kerendahan sosial dihasilkan oleh kondisi tidak terdidik. Keterdidikan adalah bersekolah. Lulus sekolah itu prestasi, kepintaran dan ketinggian derajat sosial. Makan sekolahan dan kepandaian menghasilkan kekayaan atau kekuasaan. Berkuasa itu menang. Memang itu benar. Benar itu baik. Baik itu masuk sorga.

Tukang becak kita itu tamatan SD. Teman sekampungnya keluar dari sekolah ketika kelas empat. Sekarang justru kaya raya dagang besi tua. Konglomerat regional. Istrinya empat. Ikut training peningkatan daya sex, tapi keperluannya terbalik. Ia justru mencari metode bagaimana menurunkan daya sexnya, atau meredakan api syahwatnya. “Saya dak tega sama istri-istri saya. Saya lelah cari istri muda lagi”.

Siapa yang memilih tamatan SD itu jadi tukang becak dan jebolan kelas 4 SD itu jadi konglomerat? Itu pilihan dan keputusan manusia, ataukah skrip Lauhul Mahfudh? Siapa yang memilih seekor semut dibikin lebih besar tubuhnya dibanding ratusan lainnya sehingga menjadi Ratu Semut?

(Baca juga: Keterjebakan Politik Identitas dan Harapan Cak Nun pada Muhammadiyah)

Siapa yang mengambil keputusan ada rusa yang bisa makan dedaunan, dan ada harimau yang hanya bisa makan rusa atau daging apapun lainnya? Sehingga Rusa hidup sejahtera, sementara macan akan mati pelan-pelan seirama dengan semakin melemahnya kemampuannya untuk berburu binatang lain?

Manusia mengambil harimau menjadi lambang keperkasaan dan rusa adalah makhluk lemah. Manusia lain melihat rusa adalah contoh kenikmatan dan kesejahteraan, karena rumput dan daun ada di mana-mana. Sementara macan dan singa adalah simbol kesengsaraan dan mati ngenes. Siapa yang memilih ini jadi ayam, itu jadi burung, yang sana jadi gajah, lainnya jadi Jin, lainnya lagi jadi Malaikat, dan yang sini dikasting jadi manusia.

Manusia lainnya bikin Pemilu untuk memilih Bupati, Gubernur, Wakil Rakyat atau Presiden. Kita bangun pasar kapitalisasi kekuasaan yang kita sebut Demokrasi. Kita dirikan toko-toko besar perniagaan jabatan, tawar menawar otoritas, timbangan yang kita atur kemiringannya berdasarkan hasil transaksi materiil.

(Baca juga: Blak-blakan Cak Nun soal Kondisi Indonesia: Tinggal Ditolong Tuhan apa Tidak…)

Kita selenggarakan lelang jabatan, kemudian kita tayangkan dengan judul Pilbup, Pilgub atau Pilpres. Kita dirikan perusahaan raksasa, kita kasih merk Negara. Di dalamnya masing-masing petugas perusahaan bikin perusahaan sendiri-sendiri, berkoloni-koloni, berkelompok-kelompok, atau sendiri kecil-kecilan menggerogoti dinding perisahaan besar.

Seluruh perniagaan itu menghasilkan komoditas unggul hasil multi-transaksi keuangan. Komoditas itu kita perkenalkan sebagai pemimpin. Barang dagangan itu kita tandatangani bernama pemimpin lokal, pemimpin regional dan pemimpin nasional. Dan para pemimpin berbagai level itu juga tidak sudi hanya menjadi komoditas, mereka sendiri pedagang.

Diumumkan bahwa itu berdasarkan kredibilitas, tapi itu karangan. Atau integritas, tapi pemolesan dan pencitraan. Disebut elektabilitas maksudnya adalah tingkat ketertipuan publik oleh iklan-iklan pencitraan. Diumumkan hal ekspertasi, maksudnya adalah selembar kertas ijazah yang bisa dibeli dengan pura-pura kuliah enam bulan sekali.

(Baca juga: “NKRI Harga Mati”: Jargon yang Absurd?)

Hasilnya adalah kancil menjadi raja rimba. Tokek dan kadal ‘megang’ region ini dan itu. Monyet dimake-up diumumkan sebagai publik figur. Kambing dikostumi dilantik menjadi idola. Akan ada hari di mana tukang becak Madura akan menjadi Guru Besar: orang belajar untuk tahu diri. Kita pernah dipimpin oleh Sriwijaya, Ratu Shima, Gadjah Mada. Sekarang burung Cipret kita lantik sebagai Garuda.

Pada saatnya nanti dengan Demokrasi kita bikin Pilnab, pemilihan Nabi. Kita selenggarakan Piltu, pemilihan Tuhan. Jangan biarkan ada siapapun berperan di Negeri ini tanpa melalui mekanisme hak pilih rakyat. Kapan ada pemilu yang menghasilkan Muhammad adalah Nabi, itupun terakhir, tak boleh ada Nabi sesudahnya? Kapan ada Keputusan MPR atau Perppu yang menyatakan tidak boleh ada Nabi lagi sesudah Muhammad?

Siapa dulu yang menerbitkan Surat Keputusan bahwa Allah itu Tuhan? Siapa yang melatik Jibril menjadi Menko Malaikat? Itu Iblis punya visa apa nggak kok seenaknya masuk Indonesia dan membikin kerusakan dari Sabang sampai Merauke? Kita perlu sidang nasional “hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan” di Senayan atau Palangka Raya atau Sampit atau mungkin malah di Sumenep, untuk memproses dan mengambil keputusan yang memastikan – misalnya – apakah yang dimaksud Tuhan Yang Maha Esa itu Allah atau siapa?

(Baca juga: Din Syamsuddin tentang Khilafah Modern dan Vatikan)

Tuhan harus patuh kepada konstitusi Negara kita. Nabi dan Rasul tidak boleh melanggar aturan perundang-undangan Negara. Agama wajib menyesuaikan diri terhadap Pancasila. NKRI harga mati. Negara jangan sampai kalah lawan Tuhan.

Juga harus adil pembagian rumah-rumah dinas para Malaikat dan Iblis beserta perwira-perwiranya di hunian hasil reklamasi di sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Bahkan sesegera mungkin harus disusun peraturan tentang penempatan hunian kaum Jin, masyarakat Banujan, hantu-hantu, roh-roh mukswa dari abad-abad sebelum Masehi, spirit-spirit liar dari masa silam, termasuk tamu-tamu sporadis dari alam Malakut dan Jabarut.

Itu sangat penting. Agar roh-roh anarkis itu tidak seenaknya masuk Istana dan merusak jiwa penghuninya. Menyusup masuk gedung-gedung Pemerintahan, rumah-rumah dinas, bahkan subversi di Masjid, Gereja dan rumah-rumah ibadat lainnya.

Para aktivis berteriak: “Hentikan hukum rimba, di mana yang menang adalah yang kuat karena menguasai modal”. Maksudnya mulia, tapi salah kata: rimba adalah organisme terindah indah dan paling solid karya Tuhan Yang Maha Esa. Yang kita nantikan bersama justru adalah berlakunya kembali hukum rimba.

*)Emha Ainun Nadjib, budayawan

KITA kini MEREKA

Kawan….ini sekedar kontemplasi belaka

kecanggihan suatu rekayasa massa…

Instalasi Aplikasi Akhlakul Mazmumah 

selesai sudah dan kini menguasai kita
2012…..

ketika ramai kampanye pilkada ibu kota

kita terperangah dg buzzer2 politik yang tak henti menggelitik

robot2 yang dibayar untuk menyumpah, menyampah, dan memfitnah….merangkai sejuta kata

kita terperanjat … terkaget2 dengan gaya komunikasi mereka yg unik….
padahal….

mereka cuma akun palsu..robot-robot tanpa emosi apalagi hati…

padahal….

kita adalah manusia ramah mengaku memiliki akhlakul karimah
tapi kenapa kita KALAH?????
2014…..

kekalahan “ümat islam” di pilkada ibukota menyimpan dendam mendalam

kita semakin muram….

buzzer berpesta mengejek dengan mengepalkan genggaman….

pikir kita…kini saatnya kita membalas dendam!
ketika kampanye pemilihan pemimpin negara…

robot2 itu kembali bergerak bahkan lebih masif

lebih kasar….lebih gila!!!

kita pun tak terima…tak mau lagi pasif…
kita balas mereka…

sejuta sumpah serapah, sampah, fitnah kita balas dengan cara yang sama

tapi kita lupa….

robot…akun palsu…tak punya emosi…itulah sejatinya mereka
sekian lama kita terjebak dalam balas-membalas caci-maki

kita donlod aplikasi “Dendam dan Benci”

kita instalasi budaya menyumpah, menyampah, dan memfitnah

dengan balutan sejuta ghirah
tapi kita lupa…

kita bukan mereka…

kita manusia muslim dengan akhlakul karimah…

tapi kelakukan kita kini sama dengan mereka…
darah ini serasa semakin mendidih bak terbakar dalam bara…

ketika islam kita rasa dinista mereka….

Fatwa ulama kita bela dengan berjuta massa…

hanya satu tuntutan kita….masukkan dia ke penjara!!
2017….

pertarungan kita sebagai manusia penuh dendam dan benci…

melawan para robot buzzer yg tak miliki emosi…

terus berlanjut…ini adalah hidup dan mati pikir kita…

ini adalah ibu kota negara, harus kita perjuangkan jangan sampai kalah…
ketika mayat pendukung penista dibilang haram disholatkan…

Majelis Ulama Indonesia menyatakan Tidak… mereka wajib ada yg menyolatkan…

kitapun tak lagi mendengar majelis ulama yg dulu kita bela….
ketika majelis yang mulia ini menyerukan …

jangan ikutan aksi 287 tolak perpu…

kita anggap itu angin lalu….
ketika Majelis para ulama bilang dana haji boleh diinvestasikan…

kita enggan mendengarkan….

sumpah…sampah…fitnah lebih indah kita nyanyikan!
Mereka memang luar biasa…

Kita kini Mereka!
Jakarta, 3/8/17

CARA MEMBEDAKAN YANG MASIH PERJAKA ATAU BUKAN

1. DI MULAI DARI PAHA BAGIAN BELAKANG.

Angkat salah satu kakinya, lalu tahan selama 5 menit. Trus.. coba pegang paha bagian belakang. Jika terasa masih kenceng dan keras, itu tandanya dia masih perjaka. Jika paha belakangnya terasa lembek saat di pegang dan terasa agak gemetar, itu tandanya dia sudah tidak perjaka.
2. BAGIAN TELINGA.

Yang masih perjaka mempunyai bentuk telinga atas yang masih tegak ke atas dan sama-sama lurus. Kalau telinganya di tekan kebawah lalu di lepas..Telinganya akan cepat kembali menghadap ke atas dan itu tandanya dia masih PERJAKA. Jika telinganya di tekan ke bawah lalu di lepas, tapi tidak kembali ke atas, itu tandanya dia sudah TIDAK PERJAKA lagi.
3. DI LIHAT DARI TINGKAH LAKUNYA

Yang masih PERJAKA tentunya sangat agresive, lincah dan tidak bisa diam. Beda halnya dengan yang sudah TIDAK PERJAKA yang kebanyakan diam dan agak terlihat malas.
4. DI LIHAT DARI BULU YANG TUMBUH PADA TUBUHNYA

Secara kasat mata, bulu yang tumbuh pada tubuh tidak terlihat begitu istimewa. Tapi jika di teliti lebih lanjut, bulu yang tumbuh pada sekujur tubuh, bisa menentukan mana yang masih PERJAKA dan mana yang sudah TIDAK PERJAKA lagi. Karena hormon yang ada pada bulu di sekujur tubuh merupakan faktor utama yang menandakan sebuah hasrat. Jika di lihat…bulu-bulu yang tumbuh pada sekujur tubuh masih tersusun rapi dan tidak

mudah rontok, itu menandakan dia masih PERJAKA.

Jika bulu yang ada pada tubuh terlihat tidak rata dan mudah rontok saat di usap, itu tandanya dia sudah TIDAK PERJAKA.
5. DI LIHAT DARI LEHER BELAKANG/KUDUK

Ini adalah salah satu cara paling mudah untuk

membedakan mana yang masih PERJAKA dan mana yang sudah TIDAK PERJAKA. Jika kuduknya ditarik atau di remas dan terasa masih kenceng, itu tandanya dia masih PERJAKA. Beda halnya dengan yang sudah TIDAK PERJAKA. Kuduk serta lehernya akan terasa agak kendor dan juga mengkerut.
6. DAGU

Jika dagu yang sudah TIDAK PERJAKA di elus-elus. dia akan terlihat diam menikmatinya. Beda dengan yang masih PERJAKA yang selalu bergerak kesana-kesini saat dagunya di elus-elus karena dia masih polos dan belum memasuki masa puber.
Ttd
Dokter hewan specialis kambing domba..
#buatpilihqurban
😃😃😃

DIANTARA UMAR BIN ABDUL AZIZ DAN HISYAM BIN ABDUL MALIK

Abdurrohman bin Qosim -رحمه الله- menemui Al Manshur -رحمه الله-  pada hari beliau dibaiat menjadi kholifah. 
Al Manshur: “Nasehatilah aku wahai Abdurrohman”.
Abdurrohman: “Nasehat dengan perkara yang pernah kulihat atau dengan perkara yang pernah kudengar?”
Al Manshur: “Dengan perkara yang engkau lihat saja”
Abdurrohman: “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Kholifah Umar bin Abdul Aziz dulu memiliki 11 putera. Ketika wafat beliau hanya meninggalkan warisan 18 dinar. 

Yang 5 dinar untuk mengkafaninya. 

Yang 4 dinar untuk membeli kuburnya. 

Lalu sisanya dibagi untuk anak anaknya. 

Yaitu sisa setelah digunakan 9 dinar tadi dibagi untuk mereka (11 anak).
Sementara Kholifah Hisyam bin Abdul Malik memiliki 11 anak. Dan bagian masing masing anaknya dari tinggalan warisannya adalah seribu ribu dinar. Yakni sejuta dinar.
Tapi lihatlah bagaimana kesudahan urusan mereka?
Demi Alloh wahai Amirul Mukminin.

Sungguh aku melihat dalam satu hari salah seorang anak Kholifah Umar bin Adul Aziz berinfak 100 ekor kuda untuk jihad di jalan Alloh.
Sementara salah satu anak dari kholifah Hisyam minta minta di pasar pasar.
Orang orang pernah bertanya kepada Kholifah Umar bin Abdul Aziz tatkala beliau di atas ranjang kematiannya:
_”Apa yang anda tinggalkan untuk anak anak anda wahai Kholifah Umar?”_
Beliau menjawab: _”Aku tinggalkan bagi mereka taqwa kepada Alloh. Jika mereka sholih, maka Alloh yang akan mengurusi (mencukupi) hamba hambaNya yang sholih. Dan jika ternyata mereka tidak demikian (tidak sholih, wal’iyadzu billah – pen), maka aku tidak meninggalkan bagi mereka apa yang bisa membantu mereka bermaksiat kepada Alloh Ta’aalaa”._
🌺 Perhatikanlah (Pelajaran Yang Bisa Dipetik)❗❗
*_Banyak orang berusaha dan bersusah payah untuk menjamin keamanan masa depan anak anaknya. Mereka menyangka bahwa keberadaan harta di tangan mereka setelah ditinggal mati merupakan jaminan keamanan bagi anak anaknya_*
👉🏾 _Sementara mereka lupa terhadap keamanan (dari adzab) yang besar yang Alloh Ta’aalaa sebutkan di dalam kitabNya_
*وليخشى الذين لو تركوا من خلفهم ذرية ضعافا خافوا عليهم. فليتقوا الله وليقولوا قولا سديدا*
_”Hendaknya takut orang orang yang seandainya mereka meninggalkan anak anak yang lemah yang mereka mengkhawatirkan anak anaknya. Hendaknya mereka bertaqwa kepada Alloh dan hendaknya mereka mengucapkan perkataan yang benar”._ *_(QS An Nisa’ 9)._*
📚 *Sumber Siroh Umar Bin ‘Abdil ‘Aziz karya Imam Ibnul Jauzy* 📚

Lelucon Politik

Terlebih dahulu, mohon dimaafkan bahwa di dalam naskah berjudul “Lelucon Politik” ini, saya hanya berani menampilkan lelucon politik dari luar negeri.
Saya memang tidak berani menampilkan lelucon politik Indonesia agar jangan ikut menjadi korban wabah kriminalisasi.
Suasana ekonomi runyam akibat sistem politik runyam merupakan lahan subur untuk bercocok lelucon. 
Seperti Rumania ketika di masa resim komunis sering krisis pangan, sampai rakyat harus antre untuk memperolehnya (dalam jumlah terbatas), melahirkan lelucon politik tentang sebuah pidato kepresidenan: “Kawan-kawan, tahun depan setiap warga negara Rumania akan memiliki sepeda. Setahun kemudian kita semua akan memiliki sepeda motor, tahun depannya mobil, dan setahun setelah itu setiap warga negara kita tercinta ini sudah dapat memiliki pesawat terbang !”.
Setelah bertepuk-tangan sambil bingung, akhirnya ada yang memberanikan diri bertanya: “Kawan Presiden, buat apa saya memiliki pesawat terbang?”.

“Buat apa !? Bayangkan, kau tinggal jauh dari ibu kota, lalu pada suatu hari mendengar berita bahwa di sana ada roti ! Nah, kalau tidak punya kapal terbang, mana bisa kau cepat-cepat terbang ke sana untuk ikut antre, supaya tidak kehabisan roti !”.
Ketika Uni Sovyet mulai melancarkan sistem Kolchos, para petani harus menyerahkan semua harta benda pribadi untuk menjadi milik kolektif. 
Seorang petugas partai komunis berusaha menyakinkan seorang petani mendukung sistem Kolchos dengan metode dialong :

“Iwan Iwanowitsch, relakah kau menyerahkan sapimu untuk kepentingan kita bersama?”.

“Rela !”.

“Relakah kau menyerahkan babimu?”.

“Rela !”.

“Relakah kau menyerahkan kambingmu ?”,

“Rela !”,

“Relakah kau menyerahkan ayammu ?”.

“Tidak !”.

“Lho, kau rela menyerahkan sapi, babi dan kambing, kenapa ayam tidak ?”. 

“Saya cuma punya ayam !”.

*Rahasia negara*
Politisi pengobral janji merupakan sasaran empuk lelucon. Seperti kisah seorang pasien wanita pergi ke gineakolog, mengeluh tidak bahagia akibat sudah menikah tiga kali, tetapi masih tetap perawan. 
Dokter heran : “Kenapa bisa begitu ?”.

“Suami saya yang pertama impoten, yang kedua homoseksual dan yang ketiga : politisi”.

“Lha, yang ketiga kan bisa !?”.

“Siapa bilang! Dia bisanya cuma janji-janji, dan terus janji belaka !”.
Aneka ragam karakter dan perilaku pribadi para tokoh politik juga menjadi santapan lezat penggemar lelucon politik. Prestasi pemerintah Presiden Eisenhower mengewakan rakyat AS.
Maka lahirlah lelucon membandingkan beberapa presiden mereka. “Roosevelt membuktikan bahwa seorang cacat tubuh bisa menjadi presiden. Truman membuktikan bahwa setiap orang bisa menjadi presiden. Eisenhower membuktikan bahwa negara sebenarnya tidak butuh presiden !”.
Bahkan setelah Richard Nixon tergelincir akibat skandal Wagergate, lelucon politik kejam itu memperoleh lanjutan: “Nixon membuktikan betapa berbahaya punya seorang presiden”.
Lain lagi lelucon yang beredar pada masa pemerintahan Ronald Reagan : “Seorang kakek tua ditangkap karena corat-coret “Reagan is stupid!” di pagar Gedung Putih. Di pengadilan, hakim menjatuhkan vonis hukuman penjara lima tahun. 
Kakek itu protes keras : “Ini tidak adil! Dulu saya juga pernah corat-coret “Eisenhower is stupid”, lalu “Kennedy is stupid”, juga sama di masa pemerintahan Johnson sampai Carter, setiap kali saya selalu cuma didenda lima dolar. Sekarang kok penjara lima tahun !”.
Hakim menjelaskan : “Hukuman untuk orang yang berani menghina Presiden memang lima dolar. Tetapi bagi yang berani membocorkan rahasia negara, paling ringan memang penjara lima tahun !”.
*Menular*
Lelucon “rahasia negara” itu bukan asli made in AS, karena jauh sebelumnya, entah sejak kapan, sudah asyik beredar untuk mengejek para pimpinan negara di negara-negara Eropa. 
Lelucon politik memang bisa menular dari negara ke negara akibat tampaknya rasa ketidakpuasan rakyat terhadap kaum politisi sama saja, di mana saja dan kapan saja. 
Seperti halnya lelucon menyindir Margaret Thatcher ketika sudah terlalu lama memegang tampuk kekuasaan di arena politik Inggris dan tampaknya sang “Iron Lady” berambisi untuk — kalau bisa — bertahan di puncak kekuasaan politik lebih lama lagi.
Dari sana timbul suatu lelucon Thatcher ngobrol dengan cucunya yang baru berusia lima tahun. Sang nenek bertanya, “Kalau kau sudah besar nanti, mau jadi apa ?”. 
Sang cucu spontan menjawab, “Mau jadi perdana menteri Inggris !”. Margaret Thatcher geleng-geleng kepala sambil menegaskan kepada sang cucu, “Tidak mungkin !. Perdana Menteri Inggris harus tetap nenek !”.
Lelucon semacam itu bisa saja dicangkokkan ke para tokoh politisi negara lain yang ketagihan berkuasa selama mungkin, kalau bisa selama-lamanya sampai akhir zaman. 

Penulis: Jaya Suprana

_Penulis adalah seniman dan budayawan, penulis buku Humorologi_

%d blogger menyukai ini: