Anu dan Gituan

Kamu pernah “Gituan” nggak?

Saya bingung, kenapa kalo kita ngomong kata “Gituan” yang terbayang pasti “Gituan”? 😊😀

Padahal “Gituan” itu apa sih?

“Gituan” kan bukan kata yang bersalah, kenapa gak boleh diucapin?

Untuk menjaga nama baik kata “Gituan”, coba kalo kita sepakati bahwa kata “Gituan” itu artinya “Makan”.

Jadi kan gini…

“Aduh perut saya sakit nih! Hari ini saya belum gituan…”

“Biar enggak lemes, sebaiknya kita gituan 3 kali sehari!”

Ingat ya, “Gituan” itu artinya “Makan”!

Atau misalnya mau ngajak pasangan / pacarnya “Makan”.

“Sayang, entar malem kita ‘gituan’ yuk!
Aku tahu tempat paling enak buat ‘gituan’.
Di kafe itu banyak orang pada ‘gituan’ di sana. Lagian harganya murah.
Paling kalo kita ‘gituan’ 2 kali, bayarnya gak sampe 100 ribu”

Jadi mulai sekarang kata “Gituan”
itu artinya “Makan”.

Betapa indahnya selalu berpikir positif. Ya nggak? 😁

*****

Satu lagi kata yang nggak bersalah yaitu kata “Anu”.

Sebenarnya “Anu” itu apa sih? Kenapa kalo saya ngomong
“Anu”, yang kebayang pasti “Anu”?
😜

Apa itu “Anu”?

Untuk menjaga nama baik kata “Anu”,
mari kita sepakati bahwa kata “Anu” itu artinya “Kepala”.

Jadi kan orang bisa ngomong gini…

“Wah ‘Anu’ kamu gede banget sih!” 😊😀😄

“Kemarin katanya ‘Anu’ kamu kejedot pintu ya?
Coba sini aku periksa ‘Anu’-nya!”

😊😊😀

Ingat ya, “Anu” itu artinya “Kepala”.

“Nanti kalau kamu naik motor, ‘Anu’ kamu pake helm ya!”

“Hei bro! Kok ada ketombe sih di ‘Anu’ kamu?”

“Sayang… Boleh gak aku elus ‘Anu’ kamu?”

Tanamkan dalam pikiran kamu bahwa kata “Anu” dan “Gituan” bukanlah kata yang jorok! ☺

Indahnya selalu berpikir positif….
😎😀👍

Selamat Gituan ya teman, biar Anu-nya gak nyut-nyutan…

🤣🤣🤣🤣🤣
Indahnya Berbagi
😀

Sumber: Grup WhatsApp

Iklan

Mohamed Salah

Mohamed Salah membawa bola begitu cepat. Pada suatu detik, ia dijegal dari belakang. Ia jatuh. Lalu bangkit berdiri. Tapi segaris senyum masih ada di wajahnya. Bahunya terangkat dan tangannya memberi isyarat yang bisa ditafsirkan “apa boleh buat”.

Dibandingkan dengan para pemain lain yang marah bila kena, atau terjungkal, atau mengaduh-aduh bila terganjal, Mohamed Salah asal Nagrig, Mesir ini meletakkan dirinya dalam satu kategori lain. Dialah sang superstar.

Salah pasti tahu ratusan juta mata menyaksikan dan menilainya di pertandingan itu. Ia tahu lapangan hijau Stadion Anfield, Liverpool adalah pentasnya yang paling anggun.

Dia toh tahu dia bukan pemain yang bakal tidak tercatat dalam sejarah sepak bola dunia. Dalam usianya yang 25 tahun, dialah justru si pembuat tugu sejarah: kesebelasan Liverpool mendekati posisi ke final di kota Kiev.

Tidak mudah untuk terganjal jatuh tapi tersenyum. Salah bagaikan Mozart di lapangan bola. Kerja bola yang kasar diolahnya menjadi _repertoir_ yang indah. Operan Salah demikian indah, memikat, dan enak disantap. Dari dia, bola jatuh persis di depan kaki rekan-rekannya, seakan tidak luput satu milimeter pun.

Rabu dini hari WIB itu Salah dengan sangat menawan mencetak dua gol. Ia juga menyumbang dua assist untuk rekannya Mane dan Firmino.

Ketika Stadion Anfield pecah dengan sorak sorai bergemuruh karena dua gol Salah yang bersarang di gawang AS Roma. Ia terlihat menundukkan kepala dan menolak selebrasi yang berlebihan. Ia nampak masih menghormati bekas klubnya yang dulu memberinya nafkah.

Komentar pers Inggris menggambarkan Salah sebagai pemain besar yang bergaya hidup baik dan rendah hati. Ia tak pernah sekali pun nongkrong di bar-bar melewatkan malam dengan bercinta dengan foto model-foto model setempat. Di dalam pesawat di setiap perjalanan pulang ke Inggris setelah laga kemenangan ia tak berulah seperti rekan-rekannya yang mabuk-mabukan. Di dalam pesawat, ia membaca kitab suci Al Qur’an sambil ditemani secangkir kopi susu panas. Demikian juga setiap acara kunjungan dari para istri atau teman wanita di hotel, Saleh selalu dikunjungi istrinya Magi yang selalu tampil cantik berhijab dan anaknya Makka (4 tahun).

Maka fan Liverpool tidak hanya memuji Salah sebagai penyerang hebat. Tapi mereka juga menyatakan diri bakal menjadi Muslim dan ikut aktif bersama Salah di masjid (TEMPO_, 4/3/2018). Bahkan pelatihnya sekarang, Juergen Klopp, mengatakan bahwa Salah adalah pemain bintang, yang membaca kitab suci agamanya dan mengamalkannya serta mempraktikkan hukum-hukumnya.

Di Mesir, Salah menjadi idola anak-anak muda. “Aku ingin seperti Mohamed Salah ketika besar nanti,” ujar Mohamed Abdel, bocah berusia 12 tahun dari desa Nagrig. Dan berkat bola, Salah mampu membangun rumah sakit modern di desanya Nagrig serta memberikan bantuan untuk pendidikan kaum papa di desa asalnya Nagrig dan Mesir.

Di Inggris, fan Liverpool dengan riang berteriak bersama-sama: Assalamu’allaikum, Salah, we need you!

Ketika di mana dakwah dengan sikap dan tindakan lebih dibutuhkan dari pada dengan lisan..

Maka, dakwah dengan ahlak dan adab yang baik bisa mengalahkan 1000 majelis ilmu tentang ahlak.

Orang menyebutnya sebagai
k e t e l a d a n a n.

Sumber: Grup WhatsApp

Jika Tuhan absen di ranjang

Terus terang, wajah-wajah pelangi, bertebaran di sekitar saya. Yang satu ini, bodinya laki tapi berbusana wanita. Pagi-sore kerja jadi pemandu wisata, malam berasyik masyuk bukan dengan pasangan sah pernikahan. Sama pacarnya. Laki-laki tentu saja. 

.

Satu lagi, masih berbodi laki-laki. Berpakaian juga layaknya laki-laki. Cakep sih enggak, bodi atletis juga sama sekali tidak. Tapi, melambai iya. Dia laris manis sebagai host di berbagai acara seremonial. Celetukannya yang lucu, ditambah gaya melambainya, menjadi daya jual. “Ih, geli sama dia, takut saya,” tukas seorang teman laki-laki yang pernah menginap dengannya. Oh, baru tahu saya, kalau orientasi ranjangnya pelangi.

.

Satu lagi, laki-laki ganteng, putih dan atletis. Sayangnya, sejak kecil lebih suka permainan perempuan. Kurang suka bermain dengan laki-laki. Sekarang bisnis salon, dengan pelanggan yang mayoritas perempuan. Melambai tentu saja. Saya tak berani menebak urusan ranjangnya. Tapi yang saya tahu, dia belum menikah juga.

.

Ada lagi yang satunya,…ah…cukuplah. Yang jelas, kaum pelangi ini ada di sekitar kita. Kian banyak, karena keberhasilan propaganda mereka. Ya, mereka itu bukan ada begitu saja. Tidak lahir tiba-tiba. Nongol dari sononya. Mereka juga gigih berupaya. 

.

Saya jadi ingat, hari ini, sebelas tahun lalu. Tepatnya 20 Desember 2006, Budayawan Taufik Ismail, pernah berpidato dengan judul “Budaya Malu Dikikis Habis Gerakan Syahwat Merdeka.“ Beliau mengingatkan gelombang yang dihembuskan oleh Gerakan Syahwat Merdeka (GSM). Gerakan itu tak bersosok organisasi resmi yang berdiri sendiri, tapi bekerjasama bahu-membahu melalui jaringan mendunia untuk merusak moral masyarakat. Didanai kapital raksasa, ideologi neoliberalisme dan media cetak serta elektronik sebagai corongnya. 

.

Sedikitnya ada 13 komponen yang melahirkan gelombang GSM. Yakni: (1) para praktisi –baik pribadi maupun kelompok– perilaku seks bebas. (2) Penerbit majalah dan tabloid mesum. (3) Produser, penulis skrip dan pengiklan acara televisi syahwat. (4) Jutaan situs porno dunia. (5) Penulis, penerbit dan propagandis buku syahwat, sastra dan nonsastra. (6) Penerbit dan pengedar komik cabul. (7) Produsen, pengganda, pembajak, pengecer dan penonton VCD/DVD biru. (8) Pabrikan dan konsumen alkohol. (9) Produsen, pengedar dan pengguna narkoba. (10) Pabrikan, pengiklan dan pengisap nikotin. (11) Pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. (12) Germo dan pelanggan prostitusi. (13) Dokter dan dukun praktisi aborsi.

.

Inilah yang menghantam Indonesia, hingga mengalami kehancuran moral. Itu juga yang menginspirasi saya menulis buku “Indonesia Dalam Dekapan Syahwat” pada tahun 2007. Jangan ditanya, isinya sangat porno. Maksudnya, mengupas habis revolusi urusan ranjang: dari ruang kamar ke ruang publik. 

.

Kini, gerakan itu tampaknya mulai menunjukkan hasil. Syahwat telah merdeka. Merdeka dari apa? Dari aturan agama (baca: Islam). Lihatlah, jika dulu orientasi seksual itu hanya satu: laki-laki vs perempuan. Itupun harus melalui pernikahan yang sah. Titik. Kini, aneka jenis orientasi seksual bebas merdeka. Ada yang menyebut jumlahnya 7, 10, 13 hingga 50 jenis. 

.

Mulai homoseksual, lesbian, biseksual, transgender, pedofilia, ekshibisionisme, voyeurisme, fetishisme, bestially, incest, necrophilia dll. Apaan tuh? Ngeri ah, kalau dijabarin. Di luar negeri lebih gila. Sudah ada orientasi seksual dengan hewan atau benda mati. Anjing, kucing, boneka, pohon, bahkan tembok. Tak tanggung-tanggung, mereka nikahi itu benda-benda konyol sebagai pasangan sehidup semati. 

.

Itulah efek liberalisasi. Sebuah kekuatan global yang membebaskan negara, masyarakat, keluarga hingga individunya, dari aturan agama. Sekulerisme. Neoliberalisme. Indonesia sendiri, nggak mau disebut negara agama, karena faktanya memang sekuler. Akhirnya, mengatur masyarakat dengan kebijakan-kebijakan yang tidak bersumber dari agama. Makanya kalau ada yang menawarkan agama sebagai sumber untuk mengatur negara, ogah. Walaupun, sila pertama Pancasila bunyinya Ketuhanan Yang Maha Esa. Praktiknya, kebebesanlah yang maha esa.

.

Dengan dalih kebebasan, atau bahasa kerennya hak asasi manusia (HAM), masyarakat akhirnya juga bergaul dengan membebaskan diri dari agama. Buktinya, ketika agama bilang jangan berzina, eh, berzina. Jangan aborsi, eh aborsi. Jangan homoseksual; eh malah terbit kaum pelangi yang tak dirindukan.

.

Lah, bukannya Indonesia negeri Muslim terbesar di dunia? Betul. Umat Indonesia rata-rata punya agama. Tercantum di KTP-nya. Tapi, meminjam istilah Ustaz Abdul Somad, Tuhan saat ini dipenjara di masjid-masjid. Kalau di masjid takut Tuhan, di luar masjid Tuhan dianggap nggak ada. Di masjid baik, di luar masjid bebas. Di dalam masjid menutup aurat, keluar masjid langsung buka aurat. Itu menghina Tuhan. Seolah Tuhan hanya eksis di tempat ibadah.

.

Ya, manusia jadi gak takut Tuhan. Di kantor gak ada Tuhan, terjadilah perselingkuhan. Di pasar gak ada Tuhan, mainin aja timbangan. Di birokrasi gak ada Tuhan, makanya korupsi dianggap rezeki. Di rumah gak ada Tuhan, makanya anak pun dijadikan korban syahwat; istri dimutilasi; ponakan disodomi, dll. Di kamar gak boleh ada Tuhan, makanya adegan mesum pun disebar-luaskan. Dan, sampailah kini pada urusan paling privat manusia: orientasi ranjang. 

.

Tuhan pun disingkirkan dari sana. Maka, ketika Tuhan absen di ranjang, muncullah beraneka kebebasan seksual yang liar. Mau menggoyang ranjang dengan siapa, kapan dan di mana terserah. Mau dengan lawan jenis, sejenis atau jenisnya tak jelas, terserah. Bahkan dalam banyak kasus, pelampiasan urusan ranjang ini pun, tak lagi membutuhkan ranjang dalam makna sebenarnya. Semak-semak, mobil, warung remang-remang, toilet umum, bahkan ruang kelas pun jadi tempat peragaan syahwat. Na’udubillahi minzalik.

.

Karena tak memakai aturan Tuhan, kaum pelangi tak mau dikriminalisasi. Dalam kamus liberal, itu hak asasi. Padahal dalam kamus agama apapun, apalagi Islam, jelas-jelas bahwa itu kriminal. Segala bentuk penyimpangan dari perintah Allah SWT adalah jarimah atau kriminalitas. Meninggalkan salat lima waktu, jarimah. Menanggalkan hijab, jarimah. Berzina, jarimah. Elgebete, jarimah. 

.

Jadi jelas kan, kenapa kaum Sodom ini bisa eksis. Mereka juga berjuang, kawan! Perjuangan yang panjang dan melelahkan untuk diakui eksistensinya. Ditambah ada para pembela, plus sistem hukum yang membiarkan, negara yang juga membebaskan, eksistensi mereka kian merajalela. Masih ingat bagaimana polisi menggerebek pesta gay di salah satu hotel di Jakarta? Apakah mereka dihukum agar jera? Tidak. Karena Tuhan pun dipaksa absen dari aturan. 

.

Hasilnya, lihatlah Indonesia sekarang. Lebih “Amerika” dari Amerika. Jika di negeri Paman Sam itu sendiri, kaum pelangi butuh kurang lebih 50 tahun hingga pernikahan sejenis dilegalkan, Indonesia boleh jadi tak lama lagi. Tunggu saja. Kalau kita semua diam. Kalau pendukung kaum pelangi menang. Kalau dakwah dibungkam. Kalau aturan agama dibuang. Jika Tuhan dipaksa absen dalam setiap lini kehidupan. Termasuk absen dari urusan ranjang. Mau seperti itu? Naudubillahi min zalik.(*)

.

Bogor, 20 Desember 2017

Oleh Asri Supatmiati

Jurnalis

Neither Sukarnov nor Suhartov

Andaikan setelah meninggal kelak saya dilupakan orang, insyaallah itu lebih menguntungkan dibanding diingat-ingat, dikenang, apalagi dipuja-puja. Sebab prosentase dosa hidup saya lebih besar dibanding kebaikan saya. Dipuja mustahil, dikenang pasti: oleh anak istri dan keluarga saya. Tapi kalau diingat-ingat, agak mengkhawatirkan, saking banyaknya dosa saya.
Tetapi sejumlah orang Indonesia dikenang manis, diingat-ingat kebaikannya, serta terkadang dipuja-puja – meskipun kadar dan kedalamannya berbeda-beda. Misalnya Bung Karno adalah kenangan manis dan penuh kebanggaan. Pak Harto ada yang kagum ada yang mengutuk, sebagaimana Gadjah Mada. Kalau ditanya bagaimana kesan tentang Muhammad Natsir, Haji Agus Salim, Tan Malaka, Kasman Singodimejo, Syaikhona Kholil, anak-anak muda sekarang menoleh ke kanan kiri dengan wajah bengong.
Kalau mengingat Gus Dur, biasanya orang lantas tersenyum, tertawa, atau bahkan tertawa cekikian dan geleng-geleng kepala. Ketika saya tempuh sejumlah proses menuju Gus Dur jumenengan Presiden, saya persyarati dua hal. Pertama, masalah Aceh dan GAM harus beres. Kedua, sebagai pemimpin Negara jangan ada lagi persambungan dengan Kanjeng Ratu Kidul (Nawang Wulan) maupun Nyi Roro Kidul (Nawang Sih) saudara kembarnya.
Gus Dur bilang dia sudah kirim SMS ke Kanjeng Ratu Kidul. Saya jengkel oleh jawabannya. “SMS gimana?”. Gus Dur menjawab sambil membaringkan badan ke Kasur: “Saya suruh dia pakai jilbab…”. Kemudian beliau tertawa xixixixi dan sesaat kemudian memejamkan mata dan tertidur. Saya pegang kepala saya dan saya jambak rambut saya. Saya yakin Einstein, Bheethoven, Bill Gates, bahkan pun Ned Kelly sampai di tiang gantungan tak pernah memasuki wilayah imajinasi seliar Gus Dur.

Orator terdahsyat yang pernah saya jumpai, alami dan saksikan langsung adalah almarhum Ustadz Yasin Hasan Abdullah Bangil. Seorang lelaki gagah, sabuk tebal model tukang sate Madura di pinggangnya, vokalnya gabungan antara Bung Karno, Sultan Hamengkubuwono IX, Rendra, Sutardji Calzoum Bachri dan Nabi Dzulqornain. Dia berpidato menggambarkan betapa pasukan Belanda gemetar badannya hanya ketika melihat gambar surban putih Pangeran Diponegoro. 
“Hanya surbannya, Saudara-saudara”, suaranya lantang membelah angkasa, “baru 

surbannya. Belum jubah putihnya yang bergerai menembus angin di atas kudanya yang gagah. Kerajaan Belanda hampir bangkrut gara-gara pemberontakan Pangeran Diponegoro dengan surbannya. Saudara-saudara, bisakah kau bayangkan Diponegoro pakai helm…?”
Gus Dur bukan orator yang gagah penampilannya. Gus Dur adalah tipe Juara Favorit. Tetapi imajinasi tentang Ratu Kidul pakai Jilbab dan Pangeran Diponegoro pakai helm, menurut saya termasuk yang harus kita monumenkan di World Hall of Fame. Apalagi ketika pagi hari pukul 08.00 sesudah malamnya beliau di-impeachment saya dan istri datang ke Istana sebelum tamu-tamu lainnya, dan saya tanya: “Ngapain to Gus kok bikin Dekrit segala?”
Gus Dur menjawab enteng: “Lha sudah lama sekali ndak ada Dekrit, Cak. Terakhir kan tahun 1959”.

Saya kejar, “kok ndak Sampeyan hitung segala sesuatunya. Saya kan nunggu Sampeyan telepon, siapa tahu saya pas punya bahan untuk turut mempertimbangkan perlu Dekrit atau formula lain?”
Gus Dur menjawab lebih enteng lagi dengan Bahasa Jombang: “Cak jenenge teplèk iku yo kadang menang kadang kalah. Biasane nek mulih isuk kemul-kemul sarung, berarti menang. Nek kalah malah mulih pakaian rapi, cèk diarani menang”. “Cak, namanya juga judi, kadang kalah kadang menang. Biasanya kalau pulang judi berselimut sarung itu tanda menang. Kalau kalah judi, pulang ke rumah berpakaian rapi, supaya orang menyangka dia menang…”
Tony Koeswoyo menulis lirik seolah-olah untuk Gus Dur: “Terlalu indah dilupakan, terlalu sedih dikenangkan…”. Tetapi semua orang punya rasa rindunya masing-masing kepada Bapak-Bapak kita terdahulu. Juga Gus Dur. Ada yang mengabarkan kepada saya bahwa Gus Dur sampai hari ini belum berangkat ke Alam Barzakh. Beliau masih berada di Tebuireng. Ada masalah prosedural yang belum bisa diatasi, terkait dengan administrasi Malaikat Munkar dan Nakir.
Kalau penziarah terakhir sudah meninggalkan kuburan kita sejauh 70 langkah, baru Malaikat Munkar dan Nakir hadir untuk berurusan dengan si ahli kubur. Lha sudah sekian tahun orang-orang yang menziarahi makam Gus Dur tak pernah reda. Belum pernah ada momentum penziarah terakhir meninggalkan kuburan 70 langkah. Jadi sekian tahun ini Gus Dur hanya berpandangan dari jauh dan saling melambaikan tangan dengan Malaikat Munkar dan Nakir.
Mungkin karena bosan, terkadang Gus Dur ke luar ke jalan besar antara Jombang-Pare. Lihat-lihat situasi. Dan yang paling menarik adalah banyak truk-truk yang di bak belakang atau samping ada foto Pak Harto dengan kalimat “Piye kabarmu, Lé? Penak zamanku tho?”. Apa kabar kalian, Nak? Lebih enak hidup di zaman saya dulu kan?
Itu membuat Gus Dur sangat kangen dan ingin segera mencari Pak Harto. Nanti di alam sana syukur-syukur juga ketemu Bung Karno, Sunan Kalijaga, atau malahan Gorbachev dan Anton Chekhov. Andaikan ketemu Ken Arok dan Gadjah Mada. Gus Dur mau konfirmasi kepada Ken Arok: “Apa dulu di bumi, Sampeyan ini benar-benar ada? Jangan-jangan Sampeyan ini hanya dikarang oleh para penjajah, supaya bangsa Indonesia merasa masa silamnya buram dan tak punya idola di antara nenek moyangnya”. Kepada Gadjah Mada juga Gus Dur bertabayyun: “Apa benar Sampeyan dulu mencegat rombongan Prabu Siliwangi? Kok ndak SMS saya dulu tho?”
Tetapi tampaknya yang paling diinginkan Gus Dur adalah bercerita kepada Pak Harto tentang truk-truk itu. Dan kalau Pak Harto bertanya “apa benar rakyat daripada Indonesia sekarang menganggap zaman saya lebih baik dibanding daripada zaman sekarang?”. Gus Dur, saya perkirakan menjawab: “Benar sekali itu Pak Harto. Selama Orla rakyat kita punya Pak Karnov. Di zaman Orba mereka punya Pak Hartov. Lha di ujung Reformasi palsu sekarang ini rakyat dibikin retak-retak kepalanya oleh Pak Setnov… Apalagi menurut para analis, jumlah Setnov di Indonesia tidak satu, melainkan sangat banyak, dengan kaliber yang berbeda-beda. Pendidikan keindonesiaan beberapa puluh tahun terakhir ini menumbuh-kembangkan potensi Setnov di dalam jiwa dan mental bangsa…”
Kalau Pak Harto tampak prihatin wajahnya mendengar itu dan nyeletuk: “Lho kok malah Amar Munkar Nahi Nakir”,  Gus Dur menghiburnya: “Sudah tho Pak. Gitu aja kok repot..”. 
By: Emha Ainun Najib

Sumber: https://m.timesindonesia.co.id/read/157814/20171002/113206/neither-sukarnov-nor-suhartov-amar-munkar-nahi-nakir/#!-_-

Yogya, 2 Oktober 2017

Nasihat Quraish Shihab untuk putrinya

“​Keberuntungan” kadang memainkan perannya dalam kehidupan manusia, sekalipun kerap tidak masuk akal. Karena itulah takdir mereka.

Boleh jadi keterlambatanmu dari suatu perjalanan adalah keselamatanmu. Boleh jadi tertundanya pernikahanmu adalah suatu keberkahan. Boleh jadi dipecatnya engkau dari pekerjaan adalah suatu maslahat.

Boleh jadi sampai sekarang engkau belum dikarunia anak itu adalah kebaikan dalam hidupmu. Boleh jadi engkau membenci sesuatu tapi ternyata itu baik untukmu, karena Allah Maha Mengetahui Sedangkan engkau tidak mengetahui.

Sebab itu, jangan engkau merasa gundah terhadap segala sesuatu yang terjadi padamu, karena semuanya sudah atas izin Allah. Jangan banyak mengeluh karena hanya akan menambah kegelisahan.

Perbanyaklah bersyukur, Alhamdulillah, itu yang akan mendatangkan kebahagiaan. Terus ucap alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

Selama kita masih bisa tidur tanpa obat tidur, kita masih bisa bangun tidur hanya dengan satu bunyi suara, kita terbangun tanpa melihat adanya alat-alat medis yang menempel di tubuh kita, itu pertanda bahwa kita hidup sejahtera.

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, ucapkan sampai engkau tak mampu lagi mengucapkannya.

Jangan selalu melihat ke belakang karena disana ada masa lalu yang menghantuimu. Jangan selalu melihat ke depan karena terkadang ada masa depan yang membuatmu gelisah. Namun lihatlah ke atas karena di sana ada Allah yang membuatmu bahagia.

Tidak harus banyak teman agar engkau menjadi populer, singa sang raja hutan lebih sering berjalan sendirian. Tapi kawanan domba selalu bergerombol. Jari-jari juga demikian; kelingking, jari manis, jari tengah, jari telunjuk, semuanya berjajar bersampingan kecuali jari jempol dia yang paling jauh diantara keempat itu.

Namun perhatikan engkau akan terkejut kalau semua jari-jari itu tidak akan bisa berfungsi dengan baik tanpa adanya jempol yang sendiri yang jauh dari mereka.

Karena itu, sebenarnya yang diperhitungkan bukanlah jumlah teman yang ada di sekelilingmu akan tetapi banyaknya cinta dan manfaat yang ada di sekitarmu, sekalipun engkau jauh dari mereka.

Menyibukkan diri dalam pekerjaan akan menyelamatkan dirimu dari tiga masalah; yaitu kebosanan, kehinaan, dan kemiskinan.

Aku tidak pernah mengetahui adanya rumus kesuksesan, tapi aku menyadari bahwa “rumus kegagalan adalah sikap asal semua orang”.

Teman itu seperti anak tangga, boleh jadi ia membawamu ke atas atau ternyata sebaliknya membawamu ke bawah, maka hati-hatilah anak tangga mana yang sedang engkau lalui.

Hidup ini akan terus berlanjut baik itu engkau tertawa ataupun menangis, karena itu jangan jadikan hidupmu penuh kesedihan yang tidak bermanfaat sama sekali.

Berlapang dadalah, maafkanlah, dan serahkan urusan manusia kepada Tuhan, karena engkau, mereka, dan kita semua, semuanya akan berpulang kepadaNya.

Jangan tinggalkan sholatmu sekali pun. Karena di sana, jutaan manusia yang berada di bawah tanah, sedang berharap sekiranya mereka diperbolehkan kembali hidup mereka akan bersujud kepada Allah SWT walau sekali sujud.

Jangan selalu bersandar pada cinta, karena itu jarang terjadi. Jangan bersandar kepada manusia karena ia akan pergi. Tapi bersandarlah kepada Allah SWT, Tuhan YME, karena Dialah yang menentukan segalanya.

Pilgub, Pilpres, Pilnab, dan Piltu

(Suatu hari mudah-mudahan berguna)

Ada orang Madura sakit parah butuh donor darah, tapi kemudian menolak setelah dikasihtahu siapa yang menyumbang darah. “Dak mau saya. Dia pernah mencuri. Kalau saya dimasuki darah dia, saya bisa jadi pencuri. Dak mau saya…”

Kebetulan sampai situasi darurat, tak ada darah lain yang cocok. Kalau dokter memaksanya, ia berontak serius. Sampai akhirnya meninggal. Ia dipanggil Tuhan dan meninggalkan pertanyaan: ini peristiwa kebodohan ataukah keteguhan?

Sebagaimana pada peristiwa rutin lainnya dalam hidup manusia, selalu diiringi pertanyaan: Apa beda antara hemat dengan pelit. Istiqamah dengan keras kepala. Konsisten dengan jumud. Boros dengan pemurah. Introvert atau kontemplatif. Setia atau konservatif. Lampu kuning di perempatan jalan itu masih atau sudah. Uang seratus ribu di saku itu hanya ataukah alhamdulillah.

(Baca juga: Ini Kata Cak Nun: Hinalah Aku, Jangan Islam, Please)

Itulah Ibu Ilmu. Itulah titik silang nilai yang melahirkan ideologi. Itulah asal usul keselamatan dan kehancuran. Itulah mataair konsiderasi kejayaan atau keterperukukan sebuah Negara dan bangsa. Itulah persendian di antara sorga dengan neraka.

Humor-humor klasik Madura sebenarnya sudah selalu menggiring mesin akal kita menuju persendian itu. Jual salak diprotes pembelinya: “Salak seupil-upil kok harganya mahal amat”. Si penjual langsung menjawab: “Orangnya cantik kok upilnya sak salak-salak”.

Katanya isi semangka merah dan rasanya manis istimewa, kok ketika terjatuh ternyata isinya kuning. Ketika diprotes si pahlawan menjawab: “Orang saja kalau kecelakaan pucat mukanya, kok semangka disuruh tidak pucat”.

(Baca juga: Permohonan Cak Nun agar Nabi Khidlir Hadir Kembali dan Memutar Arah Istana)

Walhasil jangan berdebat melawan orang Madura. Kalau dagangan kurang laku sampai hampir Maghrib, Tuhan diprotes: “Katanya Rahman Rahim, mana buktinya”. Berperahu cari ikan tak dapat-dapat sampai hampir senja, ia bertolak pinggang menghadap ke langit: “Buktikan pengasih penyayang Sampeyan. Kasihlah ikan lima saja. Dua untuk istri dan saya, tiga untuk anak-anak saya”.

Ketika Malaikat disuruh Tuhan agar menyuruh lima ikan meloncat dari dalam air ke perahunya, nelayan Madura kita masih marah: “Kok lima beneran. Ya sepuluh lah. Rahmannya lima, Rahimnya lima”. Akhirnya Malaikat, atas anggukan kepala Tuhan, menyuruh ikan sebanyak-banyaknya untuk berlompatan memenuhi perahunya.

Dengan agak malu-malu ia menyeret perahu penuh ikan itu ke pantai. Tapi sesampainya di pantai ia melihat asap di arah kampungnya. Kemudian ada yang berlari-lari datang memberitahukan bahwa rumah nelayan kita itu yang terbakar. Ia langsung bertolak pinggang lagi dan memprotes: “Tuhan, kenapa masalah di laut di bawa-bawa ke darat!”.

(Baca juga: Cak Nun soal Budaya Politik Nasional: Pilih Celana atau Makanan; Korupsi atau Rasa Malu?)

Kesimpulannya, jangan lawan orang Madura. Pelajari sejarahnya dengan seksama dan teliti. Sumpah Palapa Gadjah Mada itu gagasan dari Madura. Aslinya Lapa-lapa, diucapkan Palapa. Mereka jualan sate sampai Canada, di sana mereka bikin kota Toronto. Aslinya Ronto-ronto.

Tetapi di antara ratusan humor serius budaya dan antropologi manusia Madura, salah satu yang saya nilai genius adalah tukang becak di perempatan jalan. Sejak seratus meter sebelum perempatan, yang jalannya agak menanjak, ia menyorong becaknya sambil setengah berlari. Setelah lancar dan agak ringan, lajunya terhalang oleh lampu merah.

Tentu ia tidak mau menyia-nyiakan perjuangannya. Maka ia laju saja menerjang batas, melintas perempatan jalan. Sejumlah kendaraan dari arah silang mendadak harus ngerem dengan hati geram. Pak Polisi melompat berlari dan berteriak: “Guoooblog! Sudah tahu lampu merah kok terus saja. Dasar tukang becak goblog!”.

(Baca juga: Ini Kata Cak Nun: Indonesia Makam Pancasila)

Pahlawan Madura itu sedikit menoleh ke arah Pak Polisi sambil tersenyum. Sambil meneruskan genjot becak ia nyeletuk: “Kalau dak goblog dak mbecak saya Pak…”

Itu pernyataan dari posisi mental, psikologis, atau logika berpikir yang bagaimana? Apakah itu fatalisme? Kepasrahan hidup? Biso rumongso alias tahu diri? Kemandegan perjuangan? Atau kearifan? Atau rasio terhadap batas? Semacam nahi munkar atas diri sendiri? Prinsip puasa? Atau ketidakberdayaan sosial?

Kita tahu dalam dinamika kehidupan, goblog dan pinter itu animasi, halusinasi atau mungkin sejatinya tidak ada. Goblog adalah kearifan yang menyamar. Pinter adalah kebodohan yang bersolek. Yang bicara “kalau dak goblog dak becak” mungkin sekali bukan si tukang becak. Melainkan ‘seseorang’ atau suatu arus energi di belakang layar yang bermaksud mengkritik cara berpikir mainstream.

(Baca juga: Cak Nun tentang Lomba Ajal di Gerbang Perubahan, Ada Peristiwa Besar pada 26 Agustus 2017?)

Mainstream cara pandang budaya umum dan popular pakai bagan nilai: pekerjaan tukang becak itu rendah. Kerendahan sosial dihasilkan oleh kondisi tidak terdidik. Keterdidikan adalah bersekolah. Lulus sekolah itu prestasi, kepintaran dan ketinggian derajat sosial. Makan sekolahan dan kepandaian menghasilkan kekayaan atau kekuasaan. Berkuasa itu menang. Memang itu benar. Benar itu baik. Baik itu masuk sorga.

Tukang becak kita itu tamatan SD. Teman sekampungnya keluar dari sekolah ketika kelas empat. Sekarang justru kaya raya dagang besi tua. Konglomerat regional. Istrinya empat. Ikut training peningkatan daya sex, tapi keperluannya terbalik. Ia justru mencari metode bagaimana menurunkan daya sexnya, atau meredakan api syahwatnya. “Saya dak tega sama istri-istri saya. Saya lelah cari istri muda lagi”.

Siapa yang memilih tamatan SD itu jadi tukang becak dan jebolan kelas 4 SD itu jadi konglomerat? Itu pilihan dan keputusan manusia, ataukah skrip Lauhul Mahfudh? Siapa yang memilih seekor semut dibikin lebih besar tubuhnya dibanding ratusan lainnya sehingga menjadi Ratu Semut?

(Baca juga: Keterjebakan Politik Identitas dan Harapan Cak Nun pada Muhammadiyah)

Siapa yang mengambil keputusan ada rusa yang bisa makan dedaunan, dan ada harimau yang hanya bisa makan rusa atau daging apapun lainnya? Sehingga Rusa hidup sejahtera, sementara macan akan mati pelan-pelan seirama dengan semakin melemahnya kemampuannya untuk berburu binatang lain?

Manusia mengambil harimau menjadi lambang keperkasaan dan rusa adalah makhluk lemah. Manusia lain melihat rusa adalah contoh kenikmatan dan kesejahteraan, karena rumput dan daun ada di mana-mana. Sementara macan dan singa adalah simbol kesengsaraan dan mati ngenes. Siapa yang memilih ini jadi ayam, itu jadi burung, yang sana jadi gajah, lainnya jadi Jin, lainnya lagi jadi Malaikat, dan yang sini dikasting jadi manusia.

Manusia lainnya bikin Pemilu untuk memilih Bupati, Gubernur, Wakil Rakyat atau Presiden. Kita bangun pasar kapitalisasi kekuasaan yang kita sebut Demokrasi. Kita dirikan toko-toko besar perniagaan jabatan, tawar menawar otoritas, timbangan yang kita atur kemiringannya berdasarkan hasil transaksi materiil.

(Baca juga: Blak-blakan Cak Nun soal Kondisi Indonesia: Tinggal Ditolong Tuhan apa Tidak…)

Kita selenggarakan lelang jabatan, kemudian kita tayangkan dengan judul Pilbup, Pilgub atau Pilpres. Kita dirikan perusahaan raksasa, kita kasih merk Negara. Di dalamnya masing-masing petugas perusahaan bikin perusahaan sendiri-sendiri, berkoloni-koloni, berkelompok-kelompok, atau sendiri kecil-kecilan menggerogoti dinding perisahaan besar.

Seluruh perniagaan itu menghasilkan komoditas unggul hasil multi-transaksi keuangan. Komoditas itu kita perkenalkan sebagai pemimpin. Barang dagangan itu kita tandatangani bernama pemimpin lokal, pemimpin regional dan pemimpin nasional. Dan para pemimpin berbagai level itu juga tidak sudi hanya menjadi komoditas, mereka sendiri pedagang.

Diumumkan bahwa itu berdasarkan kredibilitas, tapi itu karangan. Atau integritas, tapi pemolesan dan pencitraan. Disebut elektabilitas maksudnya adalah tingkat ketertipuan publik oleh iklan-iklan pencitraan. Diumumkan hal ekspertasi, maksudnya adalah selembar kertas ijazah yang bisa dibeli dengan pura-pura kuliah enam bulan sekali.

(Baca juga: “NKRI Harga Mati”: Jargon yang Absurd?)

Hasilnya adalah kancil menjadi raja rimba. Tokek dan kadal ‘megang’ region ini dan itu. Monyet dimake-up diumumkan sebagai publik figur. Kambing dikostumi dilantik menjadi idola. Akan ada hari di mana tukang becak Madura akan menjadi Guru Besar: orang belajar untuk tahu diri. Kita pernah dipimpin oleh Sriwijaya, Ratu Shima, Gadjah Mada. Sekarang burung Cipret kita lantik sebagai Garuda.

Pada saatnya nanti dengan Demokrasi kita bikin Pilnab, pemilihan Nabi. Kita selenggarakan Piltu, pemilihan Tuhan. Jangan biarkan ada siapapun berperan di Negeri ini tanpa melalui mekanisme hak pilih rakyat. Kapan ada pemilu yang menghasilkan Muhammad adalah Nabi, itupun terakhir, tak boleh ada Nabi sesudahnya? Kapan ada Keputusan MPR atau Perppu yang menyatakan tidak boleh ada Nabi lagi sesudah Muhammad?

Siapa dulu yang menerbitkan Surat Keputusan bahwa Allah itu Tuhan? Siapa yang melatik Jibril menjadi Menko Malaikat? Itu Iblis punya visa apa nggak kok seenaknya masuk Indonesia dan membikin kerusakan dari Sabang sampai Merauke? Kita perlu sidang nasional “hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan” di Senayan atau Palangka Raya atau Sampit atau mungkin malah di Sumenep, untuk memproses dan mengambil keputusan yang memastikan – misalnya – apakah yang dimaksud Tuhan Yang Maha Esa itu Allah atau siapa?

(Baca juga: Din Syamsuddin tentang Khilafah Modern dan Vatikan)

Tuhan harus patuh kepada konstitusi Negara kita. Nabi dan Rasul tidak boleh melanggar aturan perundang-undangan Negara. Agama wajib menyesuaikan diri terhadap Pancasila. NKRI harga mati. Negara jangan sampai kalah lawan Tuhan.

Juga harus adil pembagian rumah-rumah dinas para Malaikat dan Iblis beserta perwira-perwiranya di hunian hasil reklamasi di sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Bahkan sesegera mungkin harus disusun peraturan tentang penempatan hunian kaum Jin, masyarakat Banujan, hantu-hantu, roh-roh mukswa dari abad-abad sebelum Masehi, spirit-spirit liar dari masa silam, termasuk tamu-tamu sporadis dari alam Malakut dan Jabarut.

Itu sangat penting. Agar roh-roh anarkis itu tidak seenaknya masuk Istana dan merusak jiwa penghuninya. Menyusup masuk gedung-gedung Pemerintahan, rumah-rumah dinas, bahkan subversi di Masjid, Gereja dan rumah-rumah ibadat lainnya.

Para aktivis berteriak: “Hentikan hukum rimba, di mana yang menang adalah yang kuat karena menguasai modal”. Maksudnya mulia, tapi salah kata: rimba adalah organisme terindah indah dan paling solid karya Tuhan Yang Maha Esa. Yang kita nantikan bersama justru adalah berlakunya kembali hukum rimba.

*)Emha Ainun Nadjib, budayawan

KITA kini MEREKA

Kawan….ini sekedar kontemplasi belaka

kecanggihan suatu rekayasa massa…

Instalasi Aplikasi Akhlakul Mazmumah 

selesai sudah dan kini menguasai kita
2012…..

ketika ramai kampanye pilkada ibu kota

kita terperangah dg buzzer2 politik yang tak henti menggelitik

robot2 yang dibayar untuk menyumpah, menyampah, dan memfitnah….merangkai sejuta kata

kita terperanjat … terkaget2 dengan gaya komunikasi mereka yg unik….
padahal….

mereka cuma akun palsu..robot-robot tanpa emosi apalagi hati…

padahal….

kita adalah manusia ramah mengaku memiliki akhlakul karimah
tapi kenapa kita KALAH?????
2014…..

kekalahan “ümat islam” di pilkada ibukota menyimpan dendam mendalam

kita semakin muram….

buzzer berpesta mengejek dengan mengepalkan genggaman….

pikir kita…kini saatnya kita membalas dendam!
ketika kampanye pemilihan pemimpin negara…

robot2 itu kembali bergerak bahkan lebih masif

lebih kasar….lebih gila!!!

kita pun tak terima…tak mau lagi pasif…
kita balas mereka…

sejuta sumpah serapah, sampah, fitnah kita balas dengan cara yang sama

tapi kita lupa….

robot…akun palsu…tak punya emosi…itulah sejatinya mereka
sekian lama kita terjebak dalam balas-membalas caci-maki

kita donlod aplikasi “Dendam dan Benci”

kita instalasi budaya menyumpah, menyampah, dan memfitnah

dengan balutan sejuta ghirah
tapi kita lupa…

kita bukan mereka…

kita manusia muslim dengan akhlakul karimah…

tapi kelakukan kita kini sama dengan mereka…
darah ini serasa semakin mendidih bak terbakar dalam bara…

ketika islam kita rasa dinista mereka….

Fatwa ulama kita bela dengan berjuta massa…

hanya satu tuntutan kita….masukkan dia ke penjara!!
2017….

pertarungan kita sebagai manusia penuh dendam dan benci…

melawan para robot buzzer yg tak miliki emosi…

terus berlanjut…ini adalah hidup dan mati pikir kita…

ini adalah ibu kota negara, harus kita perjuangkan jangan sampai kalah…
ketika mayat pendukung penista dibilang haram disholatkan…

Majelis Ulama Indonesia menyatakan Tidak… mereka wajib ada yg menyolatkan…

kitapun tak lagi mendengar majelis ulama yg dulu kita bela….
ketika majelis yang mulia ini menyerukan …

jangan ikutan aksi 287 tolak perpu…

kita anggap itu angin lalu….
ketika Majelis para ulama bilang dana haji boleh diinvestasikan…

kita enggan mendengarkan….

sumpah…sampah…fitnah lebih indah kita nyanyikan!
Mereka memang luar biasa…

Kita kini Mereka!
Jakarta, 3/8/17

%d blogger menyukai ini: