Kesalahan Bahasa Inggris Warga Singapura

Di bawah ini adalah terjemahan artikel karya Pamela Chong Kwang Ngo yang diterbitkan di buletin “Mypaper” tanggal 3 April 2012. Pokok bahasannya menarik dan semoga dapat meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris kita semua. Naskah asli saya salin dari milis Free-English-Course@yahoogroups.com postingan dari ngenglishyuk@gmail.com. Mari belajar…

Saya ingin mengajak anda semua warga Singapura memperhatikan kesalahan-kesalahan yang paling menyolok dalam pemakaian Bahasa Inggris di masyarakat kita.

1. Perbedaan antara ‘send’, ‘take’, ‘bring’ dan ‘fetch’.

Take’ dipakai ketika anda pergi dari satu tempat ke tempat lain, dan sesuatu (atau seseorang) pergi bersama anda.

‘Bring’ dipakai ketika anda mendatangi suatu tempat dari tempat lain, dan sesuatu (atau seseorang) datang bersama anda.

‘Fetch’ dipakai ketika anda meninggalkan suatu tempat untuk mengambil sesuatu (atau menjemput seseorang) kemudian anda kembali dengan membawa sesuatu (atau seseorang).

‘Send’ dipakai ketika sesuatu (atau seseorang) menjauhi anda, dan tentunya anda tidak bersamanya.

Warga Singapura sangat suka mengatakan “I’ll send you home”.

Seharusnya mereka mengatakan “I’ll take you home”.

Anda ‘send’  seseorang ke bandara, berarti, anda melihatnya pergi, tetapi anda tidak pergi bersamanya.

Anda ‘send’ surat ke seseorang – anda masukkan surat itu ke kotak surat, tetapi tentunya anda tidak pergi bersama surat itu.

 

2. Permintaan seharusnya dalam bentuk ‘Would you’ atau ‘May I’, bukannya ‘Can you’ atau ‘Can I’.

”Can” merujuk pada kemampuan melakukan sesuatu.

 

3. Ketika seseorang tinggal di suatu tempat untuk seterusnya, maka seseorang ‘lives’ di sana, bukannya ‘stays’.

Kesalahan-kesalahan seperti di atas sering terlihat di surat kabar. Cukup mencemaskan.

Anda sedang plesir dan ‘stay’ di hotel, namun anda ‘live’ di apartemen Housing Board di Toa payoh.

Lain kali anda ingin tahu di mana seseorang tinggal, tanyakan “where do you live”, bukannya  “where do you stay”.

 

4. ‘Last Time’ sering disalahgunakan dengan ‘long ago’, ‘once’, ‘before’ atau ‘previously’, bergantung pada lingkupnya.

Last Time’ mengacu pada kejadian tunggal tepat sebelum sekarang (present), bukannya sesuatu yang telah terjadi dulu sekali, dan juga  bukan sesuatu yang terjadi secara rutin pada waktu lampau.

Artinya, anda salah bila berkata, “Last time I broke my tooth before.”

Anda seharusnya berkata. “When I was young, I broke my tooth.”

Anda tidak boleh berkata, “Last time our grandmothers cooked over a charcoal stove”.

Anda seharusnya berkata, “Long ago, our grandmothers cooked over a charcoal stove.”

Namun, anda bisa berkata, “The last time my brother tried to fry an egg, he almost burned the kitchen down.”

 

5. Lebih tepat mengatakan ‘good food’ daripada ‘nice food’ .

“Food is good, people are nice” – itu yang selalu saya katakan. Memang ada kondisi khusus di mana “nice” bisa diterapkan pada ‘food’, misalnya untuk menggambarkan tampilannya, “That’s a very nice omelette.”*

Tetapi secara umum saat kita mengacu pada rasa makanan, lebih baik memakai ‘good’, sebagaimana “Mmm… This is good!”

 

6. Lebih tepat berkata ‘damaged’ atau ‘broken’ daripada ‘spoiled/spoilt’ ketika merujuk pada sesuatu.

‘Toys break’; ‘equipment gets damaged’; tetapi ‘food spoils’ dan ‘children are spoilt.’

’Spoil’ bisa diterapkan pada kerusakan yang sangat atau pencemaran yang serius, misalnya “littering spoils the landscape of our beaches”.

Sebaliknya, untuk kerusakan kecil, pakailah “damaged” atau ‘broken’. Misalnya, “this phone is damaged; I can’t call out”, and “You mustn’t give away broken toys to the children’s home”.

Iklan

I wish I May, I Wish I Might

Penutur asli Bahasa Inggris dari pembaca blog ini pasti mengingat puisi ini:

Star light, star bright,
The first star I see tonight;
I wish I may, I wish I might,
Have the wish I wish tonight.

Kata “may” dan “might” cukup memusingkan untuk membedakan keduanya (makna dalam Bahasa Indonesia sama-sama “mungkin”). Kapan kita memakai “may” dan lain waktu memakai “might.” Coba renungkan kalimat seperti “We may go to game, depending on the weather” , yang cukup sulit dibedakan dengan “We might go to game, depending on the weather,” di mana “may” bermakna “kemungkinan besar” sedangkan “might” berarti “kemungkinan kecil dan meragukan.”

Maka, pilihan kata kita sebenarnya tergantung pada cuaca ! Bila cuaca mendung namun berangsur-angsur cerah sehingga berpeluang untuk bermain-main maka kita memakai “may.” Namun, bila mendung makin bergulung-gulung maka cukup memakai “might”.

Saat menulis kata kondisional seperti ini pada kalimat bernuansa negatif, maka lebih baik memakai “might” karena “may not” akan rancu dengan “can not,”  di mana dua kata terakhir teramat sulit dibedakan.

Bila kita memahami posisi kata-kata di atas pada derajat kemungkinan maka puisi pada awal tulisan ini akan terasa pedih. Puisi diawali dengan rasa percaya diri bahwa harapannya bisa terpenuhi, namun pada baris ketiga, kemudian muncul keraguan, rasa sedih dan sesuatu yang mendesak.

Diterjemahkan dari I Wish I May, I Wish I Might karangan Daryl L. L. Houston

%d blogger menyukai ini: