Bab Kedua The Grand Design, The Rule of Law (bagian 1)

Ketidaktahuan mengenai bagaimana alam bekerja menyebabkan orang-orang kuno menciptakan dewa-dewa untuk disembah pada tiap bidang kehidupan. Ada dewa cinta dan perang; dewa surya, bumi dan langit; dewa lautan dan sungai; dewa hujan dan badai; bahkan ada dewa gempabumi dan gunung berapi. Jika dewa-dewa disenangkan, manusia akan dikaruniai cuaca yang baik, kedamaian dan terbebas dari bencana alam dan wabah. Jika dewa-dewa dikecewakan, maka akan timbul perang, penyakit dan wabah.

Skoll  Si Serigala yang akan menakut-nakuti Sang Bulan

Hingga dia terbang menuju Wood-of-Woe:

Hati Si Serigala, keturunan Hridvitni,

Yang akan mengejar sang surya

— “GRIMNISMAL,” The Elder Edda

Dalam mitologi Viking, Skoll dan Hati mengejar bulan dan surya. Saat serigala-serigala itu menangkap salah satunya, terjadilah gerhana. Ketika ini terjadi, orang-orang di bumi bergegas menyelamatkan surya atau bulan dengan membuat kegaduhan sebising-bisingnya berharap menakut-nakuti kedua serigala itu. Ada mitos-mitos serupa pada budaya lain. Namun beberapa waktu kemudian orang-orang memperhatikan bahwa surya dan bulan segera muncul dari gerhana tidak perduli apakah mereka berlarian berteriak-teriak dan menabuh apapun atau tidak sama sekali. Setelah beberapa waktu mereka juga pasti memperhatikan bahwa gerhana tidak terjadi secara acak: Gerhana terjadi dengan pola yang teratur yang berulang sendiri. Pola ini lebih mudah pada gerhana bulan sehingga orang Babilonia kuno dapat meramalkan gerhana bulan dengan cukup akurat meskipun mereka tidak menyadari bahwa itu disebabkan bumi yang menghalangi sinar surya. Gerhana surya lebih sulit untuk diramalkan karena hanya terlihat pada selasar sepanjang 48 kilometer. Meskipun demikian, setelah polanya diketahui, jelas bahwa gerhana surya tidak tergantung dari keinginan sembarang dzat yang adialami (supernatural), namun terikat oleh hukum.

Terlepas dari keberhasilan meramalkan gerakan benda-benda langit, sebagian besar kejadian alam terlihat oleh nenek moyang kita sebagai hal yang mustahil diramalkan. Letusan gunung, gempa bumi, badai, wabah dan kuku kaki yang menusuk ke dalam semuanya kelihatannya terjadi tanpa penyebab atau pola yang jelas. Pada jaman kuno, mudah menganggap tindakan ganas dari alam sebagai perbuatan tuhan atau dewa yang sedang marah. Bencana alam sering dianggap sebagai tanda bahwa kita entah bagaimana menentang tuhan-tuhan. Contohnya, sekitar tahun 5600 sebelum Masehi, gunung berapi Mazama di Oregon meletus, menyebabkan hujan batu dan debu panas selama bertahun-tahun, dan hujan air bertahun-tahun yang akhirnya memenuhi kawah gunung yang sekarang disebut Danau Kawah. Suku Indian Klamath dari Oregon mempunyai legenda yang benar-benar cocok dengan tiap detil geologis pada kejadian tersebut namun menambahkan sedikit drama dengan menganggap manusia sebagai penyebab bencana. Kemampuan manusia untuk berbuat salah begitu besarnya sehingga orang-orang selalu mencari cara untuk menyalahkan diri sendiri. Sebagaimana kata legenda, Llao, pemimpin Dunia Bawah, jatuh cinta dengan anak gadis jelita putri dari pemimpin Suku Klamath. Gadis itu menolak mentah-mentah. Llao membalas dendam dengan berusaha membakar suku Klamath. Untungnya, menurut legenda, Skell, pemimpin Dunia Atas, merasa kasihan pada manusia dan bertarung dengan temannya dari dunia bawah. Akhirnya, Llao terluka, jatuh kembali ke dalam Gunung Mazama meninggalkan lubang besar, kawah yang akhirnya dipenuhi air.

Ketidaktahuan mengenai bagaimana alam bekerja menyebabkan orang-orang kuno menciptakan dewa-dewa untuk disembah pada tiap bidang kehidupan. Ada dewa cinta dan perang; dewa surya, bumi dan langit; dewa lautan dan sungai; dewa hujan dan badai; bahkan ada dewa gempabumi dan gunung berapi. Jika dewa-dewa disenangkan, manusia akan dikaruniai cuaca yang baik, kedamaian dan terbebas dari bencana alam dan wabah. Jika dewa-dewa dikecewakan, maka akan timbul perang, penyakit dan wabah. Karena hubungan antara sebab dan akibat di alam tidak terlihat di mata orang-orang kuno, dewa-dewa ini tampak gaib dan nasib orang-orang tergantung belas-kasih mereka. Tetapi sejak Thales dari Miletus (624 – 546 SM) 2600 tahun yang lalu,pandangan ini mulai berubah. Ide baru muncul bahwa alam mengikuti prinsip-prinsipyang konsisten yang dapat diramalkan. Maka mulailah proses panjang penggantian gagasan kekuasaan dewa dengan konsep bahwa alam semesta diatur oleh hukum alam, dan tercipta menurut sebuah cetak biru yang suatu hari dapat kita pahami.

Menengok sejarah manusia, penelitian ilmiah merupakan terobosan yang amat baru. Spesies kita, Homo sapiens, bermula di sub-Sahara Afrika sekitar 200.000 SM. Bahasa tulisan baru dapat ditelusur pada 7000 SM, produk budaya masyarakat yang masih bercocok tanam. (Beberapa tulisan tertua mengenai jatah harian bir yang diijinkan untuk tiap warga negara.) Catatan tulisan tertua dari Peradaban Besar Yunani kuno ditelusur pada abad kesembilan SM, namun kejayaan peradaban itu, “periode klasik”, baru datang beberapa ratus tahun kemudian, mendekati tahun 500 SM. Menurut Aristoteles (384 – 322 SM), tahun itu adalah kisaran waktu di mana Thales menemukan gagasan bahwa dunia dapat dipahami, bahwa kejadian-kejadian rumit di sekitar kita dapat disederhanakan dalam prinsip-prinsip yang lebih mudah dan dapat dijelaskan tanpa mengacu pada penjelasan mistik atau ketuhanan.

Thales dikenal atas ramalannya akan gerhana surya pada tahun 585 SM, meskipun ramalan hebat itu mungkin hanya tebakan untung-untungan. Dia merupakan tokoh misterius yang tidak meninggalkan tulisan-tulisan tentang dirinya sendiri. Kampung halamannya merupakan pusat cendekiawan pada daerah yang disebut Ionia, yang kemudian dijajah oleh bangsa Yunani dan pengaruhnya meluas dari Turki ke barat hingga Italia. Sains Ionia dikenal dengan perhatian yang kuat dalam menggali hukum-hukum dasar untuk menjelaskan fenomena alam, sebuah batu loncatan mengagumkan dalam sejarah gagasan manusia. Pendekatan mereka rasional dan dalam banyak hal mengarah pada kesimpulan mengejutkan yang serupa dengan kesimpulan yang didapat metode canggih yang kita percayai hari ini. Ini menunjukkan awal yang besar. Namun selama berabad-abad kemudian, sebagian besar sains Ionia akan dilupakan – hanya ditemukan atau diciptakan ulang, kadang-kadang lebih dari sekali.

Menurut legenda, rumus matematika pertama yang mungkin hari ini kita sebut hukum alam dapat ditelusur kembali ke seorang Ionia yang bernama Pythagoras (580-490 BC), yang terkenal dengan teoremanya: bahwa kuadrat dari hipotenusa (sisi terpanjang) dari segitiga siku-siku sama dengan jumlah kuadrat dua sisi yang lain. Diceritakan pula bahwa Pythagoras menemukan hubungan angka-angka antara senar-senar yang dipakai dalam instrumen musik dan kombinasi harmonik dari suara instrumen itu. Hari ini kita menggambarkan hubungan itu dengan mengatakan bahwa frekuensi – jumlah getaran per detik – dari sebuah senar yang bergetar dalam tegangan tetap adalah berbanding terbalik dengan panjang senar itu. Dari pandangan praktis, hal ini menjelaskan mengapa gitar bass lebih panjang dari gitar biasa. Pythagoras mungkin tidak benar-benar menemukannya – mungkin juga tidak menemukan teorema yang melambungkan namanya – namun ada bukti bahwa hubungan antara panjang senar dan nada dikenal pada masanya. Jika memang demikian, seseorang dapat menamakan rumus matematika sederhana adalah hal pertama yang sekarang kita ketahui sebagai fisika teori.

Sumber: The Grand Design karya Hawking dan Mlodinow

Lihat terjemahan lain mengenai The Grand Design:

Bab Pertama The Grand Design, The Mystery of Being

Bagian 2 dari Bab Kedua, The Rule of Law

6 Tanggapan

  1. salam kenal, saya pencinta astronomi.

  2. […] Tinggalkan komentar Ketidaktahuan mengenai bagaimana alam bekerja menyebabkan orang-orang kuno menciptakan dewa-dewa untuk disembah pada tiap bidang kehidupan. Ada dewa cinta dan perang; dewa surya, bumi dan langit; dewa lautan dan sungai; dewa hujan dan badai; bahkan ada dewa gempabumi dan gunung berapi. Jika dewa-dewa disenangkan, manusia akan dikaruniai cuaca yang baik, kedamaian dan terbebas dari bencana alam dan wabah. Jika dewa-dewa dikecewakan, maka akan tim … Read More […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: